Situs Mirror Online mengumumkan kepastian Daniel Craig kembali berperan sebagai James Bond. Hal ini mengakhiri spekulasi atas siapa yang akan memainkan sang agen rahasia berkode 007.

Ketika film Spectre baru dirilis pada Oktober 2015, Craig memberi pernyataan mengejutkan dalam suatu wawancara. Ia bilang lebih baik mengiris pergelangan tangannya ketimbang meneruskan peran yang sudah dijalaninya empat kali sejak film Casino Royale tersebut.

Begitu Craig mengumumkan keengganan, nama sejumlah aktor lain masuk bursa sebagai penggantinya. Misalnya, Tom Hiddleston, Tom Hardy, dan Idris Elba. Para penggemar James Bond pun terbelah dalam berbagai opsi tersebut. Tapi, tak sedikit yang berharap Craig akan berubah pikiran. Bagaimanapun, Craig sukses menyelamatkan pamor serial film yang ketika itu tersaingi oleh trilogi Bourne.

Kini, Barbara Broccoli—boss Eon Productions—berhasil dapat kontrak dengan Craig untuk seri James Bond ke-25. Bukan itu saja. Ia juga dalam proses merekrut kembali Adele, penyanyi lagu tema film Skyfall yang berhasil memenangkan Brit Award, Grammy Award, dan Golden Globe. Sedangkan untuk penulis naskah, telah ditunjuk John Logan yang pernah menangani Skyfall dan Spectre.

Bagi saya, terus terang, perkembangan tentang Daniel Craig ini sama sekali bukan kejutan. Saya sudah menduga bahwa Craig akan kembali bermain. Bukan karena Craig sempat menyatakan bahwa jika ia jadi James Bond lagi, alasannya pasti uang. Bukan karena Craig ditawari 120 juta poundsterling (lebih dari dua trilyun rupiah) untuk dua film berikutnya.

Melainkan karena saya mengamati Matt Damon dan serial film Bourne. Nah lho…

Aksi CQB (close quarter battle) oleh Jason Bourne yang kemudian ditiru oleh James Bond. (foto: FutureWarStories)

Setelah Bourne Ultimatum dirilis, sebagian penggemar film tersebut beserta versi novelnya mengira bahwa kisah agen amnesia Jason Bourne sudah berakhir. Tapi, ada statemen dari Damon bahwa ia tak berminat melanjutkan perannya yang ikonik tersebut. Mendengar hal itu, saya justru mempertanyakan perlunya membuat film Bourne berikutnya. Selain itu, saya merasakan suatu kecurigaan yang samar.

Film keempat Bourne benar-benar dibuat, yaitu The Bourne Legacy. Matt Damon benar-benar absen, digantikan oleh Jeremy Renner yang menampilkan Aaron Cross, tokoh agen yang baru. Sebenarnya bukan film yang buruk. Lumayanlah sebagai spin off. Tapi, dalam filmnya muncul pertanda bahwa Jason Bourne akan beraksi lagi.

Kecurigaan saya menguat. Damon tampil kembali dalam film kelima, yang diberi judul Jason Bourne. Sebagaimana dikuatirkan, film ini kalah kualitas dibandingkan empat pendahulunya. Dimunculkannya tokoh ayah Jason Bourne terasa cheesy, seperti serial televisi yang dipanjang-panjangkan. Kehadiran Tommy Lee Jones dan Alicia Vikander—meski aktingnya tetap bagus—terkesan seperti menjual nama besar mereka.

Gaya Bond masa kini yang jauh lebih realistis dibandingkan para pendahulunya.

Dan kecurigaan saya adalah selagi awal Damon dan manajemen studio bersandiwara. Mereka sadar trilogi Bourne sulit dilanjutkan. Perlu sensasi tambahan untuk menarik perhatian penonton. Damon bertugas pura-pura enggan. Dengan skenario itu, penonton pun penasaran, lalu disuguhi film keempat, sebagai promosi halus bagi film kelima. Banyak orang akan terpengaruh, lalu berbondong-bondong menonton kembalinya Matt Damon sebagai Jason Bourne.

Beberapa bulan setelah film Jason Bourne dirilis, Daniel Craig mengumumkan hal serupa dengan Matt Damon. Saya jadi terpikir bahwa manajemen James Bond melakukan trik yang sama. Kali ini, tujuannya bukan hanya membangkitkan rasa penasaran terhadap film berikutnya. Tapi juga menguji reaksi para penggemar tentang para kandidat yang muncul tempo hari. Bakal jadi masukan ketika nanti Craig sungguhan ingin berhenti.

Tapi, saya tidak sedang mencerca. Untuk saat ini, Daniel Craig masih pilihan terbaik. Dan strategi sandiwara tersebut—jika kecurigaan saya benar—merupakan langkah cerdas. Bisnis perfilman zaman sekarang melibatkan uang luar biasa besar. Bisa fatal jika hasilnya tak sesuai harapan. Sandiwara kemarin, beserta dua tujuannya, akan menjamin film-film James Bond tetap diproduksi. (*)