Memiliki usia muda bukan berarti tidak mampu mencetak prestasi. Bila sebelumnya telah dibahas 5 perempuan muda yang menginspirasi dunia, kini Nyata akan membawa kepada pembaca 4 perempuan muda inspiratif Indonesia yang berhasil mencetak prestasi besar di usianya. Siapa saja mereka?

Sumber gambar: thehoneycombers.com

1 Nadine Zamira 

Pemilik nama panjang Nadine Zamira Sjarief ini adalah seorang perempuan berusia 33 tahun yang menginspirasi banyak orang untuk lebih sayang kepada lingkungannya. Lahir pada 20 Februari 1984, Nadine adalah seroang pendiri dan direktur utama dari LeafPlus, lembaga konsultasi komunikasi lingkungan hidup. Kiprah Nadine dalam melestarikan lingkungan hidup tidak bermula dari LeafPlus, dirinya sudah merasakan kecintaan terhadap sekitar sejak masih belia. Pengalamannya di Amerika Serikat saat masih kecil mengajarkannya bahwa semua orang harus turut menjaga lingkungan hidup.

A post shared by Nadine Zamira (@naynadine) on

Lulusan Hubungan Internasional di Universitas Indonesia ini tidak hanya menjadi orang yang vokal dalam menyuarakan pelestarian lingkungan, tetapi juga merupakan Miss Indonesia Earth 2009 yang mewakili Indonesia pada ajang Miss Earth 2009. Saat ini, ia juga aktif menjadi narasumber dan motivator di bidang lingkungan hidup.

Sumber gambar: suaramerdeka.com

2 Zahrah Zubaidah 

Berumur 22 tahun tidak membuat perempuan kelahiran tahun 1995 ini kekurangan prestasi. Zahra adalah pelukis yang menggambar tokoh-tokoh dunia seperti Ir Soekarno dan Nelson Mandela yang tersebar di seluruh penjuru Bandung.

perempuan muda inspiratif indonesia
Sumber foto: bandung.co

Untuk merayakan 60 tahun-nya Konferensi Asia Afrika, walikota Bandung yang kerap disapa Kang Emil secara pribadi mengutus Zahrah untuk menggambar tokoh-tokoh hebat tersebut. Cerita tentang terpilihnya Zahrah ini cukup menarik, awalnya ia hanya ingin mencari beasiswa ke pemerintah untuk melanjutkan kuliah di universitas seni Skotlandia yang sudah menerimanya. Namun ternyata, ia justru bertemu dengan Kang Emil dan walikota muda tersebut tertarik dengan hasilnya. Bentuk pemberian “beasiswa” dari Kang Emil kepada Zahra bukanlah cuma-cuma, beliau mengajak perempuan yang juga model ini untuk menggambar dirinya, istrinya, serta semua walikota Bandung dari zaman Belanda dahulu. Hal ini tidak membuat Zahrah lantas besar kepala, perempuan berjilbab ini merasa bahwa dirinya merasa begitu bahagia bisa berguna bagi orang lain, karena baginya, sebaik-baiknya orang adalah orang yang mampu bermanfaat bagi sekitarnya.

3 Dea Valencia 

Saat berusia 15 tahun, perempuan ini sudah duduk di bangku universitas. Saat 18 tahun, ia sudah lulus dengan gelar Sarjana Komputer. Dea Valencia bisa dikatakan adalah seorang perempuan yang tidak hanya pintar tetapi juga cerdas.

A post shared by Dea Valencia (@deavalencia) on

Di usianya yang masih muda, ia menggabungkan apa yang ia sukai dengan apa yang sudah ia pelajari. Dirinya yang ingin memiliki batik indah akhirnya berpikir untuk membuat merek sendiri dengan berbekal pendidikannya di Sistem Informasi. Batik Kultur pun tercipta dari ketekunan Dea terhadap apa yang telah ia geluti. Tidak hanya itu, brand ambassador dari merek skin care POND’S ini juga tidak takut untuk mengajak orang lain demi menggapai apa yang inginkan. Tak kehabisan akal ketika dirinya ingin membuat baju namun tak bisa menggambar, Dea menggaet illustrator yang handal untuk menuangkan imajinasinya ke dalam kertas. Kecintaan Dea pada batik pun merupakan bentuk dari apresiasinya untuk kultur dari Bangsa yang membesarkannya.

4 Dian Pelangi 

Penggemar hijab fashion pasti sudah tidak asing dengan nama yang satu ini. Ya, perempuan berumur 26 tahun tersebut memang merupakan salah satu ikon besar di dunia fashion Indonesia. Pemilik nama panjang Dian Wahyu Utami ini melakukan debutnya di Jakarta Fashion Week pada usia 18 tahun. Tidak heran, Dian memang jebolan dari sekolah fashion Perancis, ESMOD.

A post shared by Dian Pelangi (@dianpelangi) on

Hasil karya Dian Pelangi yang tembus pasar internasional ini ternyata tidak hanya karena dirinya yang memang bekerja keras, tetapi juga karena kepercayaannya akan adaptasi budaya. Dalam bekerja, Dian mengatakan bahwa dirinya menganut sistem tarik ulur. Dirinya merasa bahwa ada keharusan untuk mendorong personality-nya kepada khalayak lewat karyanya, tetapi ia juga harus menarik apa yang sedang diinginkan oleh masyarakat. Adaptasi inilah yang membuat dirinya berhasil menjajakan karyanya hingga ke pasar luar Indonesia.