Lala Gozali Olah Limbah Fashion Jadi Produk Bernilai Tinggi

0
228
Lala-Gozali-feature-images
Foto: Dokpri

Selain menampilkan wastra atau kain tradisional, isu Zero Waste menjadi topik yang diangkat pada Pameran Interior & Craft (ICRA) 2019 yang diadakan 2-6 Oktober di JCC Senayan.

Saat ini limbah industri fashion menjadi fokus para desainer. Salah satu desainer yang piawai mengolah limbah fashion adalah Lala Gozali.

Lewat kreativitasnya, Lala Gozali berhasil mengolah limbah fashion, khususnya sisa kain menjadi item yang menarik, unik dan bernilai jual tinggi.

Baca juga: Cantiknya Cut Syifa dalam Balutan Kebaya Bak Bidadari Tanpa Sayap

Ia awalnya sangat prihatin ketika melihat kain sisa pengolahan pakaian menumpuk begitu saja di workshop-nya, di Jatibening Bekasi.

“Setiap habis produksi, ada berkantong-kantong sisa kain. Kebanyakan kain katun lurik, tenun dan batik. Saya jadi muter otak, ini sebenarnya bisa diolah asalkan kita kreatif, ” katanya ketika ditemui di JHCC Senayan, Kamis (3/10).

lala-gozali
Foto: Dokpri

Pemilik brand Roemah Kain & Badjoe GIANTI ini lalu mengolah kain-kain bekas itu menjadi produk baru yang unik, chic, serta bernilai tinggi.

Misalnya dari sisa kain itu, ia mengolahnya jadi ornamen cantik yang kemudian di aplikasikan pada karya-karyanya. Mulai dari outer, obi, inner, skirt sampai pants.

“Karena karya saya arahnya baju-baju etnik, maka limbahnya kebanyakan dari tenun, lurik dan batik. Bahan-bahan sisa itu saya olah, saya kombinasikan dengan kain utuh lalu saya buat apa aja bisa dress, celana, outer atau inner. Jadi dari dari sampah bisa jadi produk baru,” kata Lala Gozali.

Baca juga: Desainer Asal Yogyakarta Menang Kompetisi Desain Batik Swiss

Tidak hanya itu, dari bahan-bahan tersebut ia juga mengolahnya menjadi produk lain seperti tas, alas piring, wrapping, sampai keset.

produk-lala-gozali
Foto: Dokpri

Menurut desainer yang mulai berkarya sejak tahun 1992 ini, mengolah kain bekas memang tidak mudah. Tantangannya ada pada keseriusan dan kreativitas. Sebab material yang diolah merupakan kain sisa. Dimana masing-masing motif atau corak jumlahnya terbatas. Selain itu karya yang dihasilkan seringkali limited edition.

“Tidak mudah menyusun kain-kain bekas itu sehingga komposisinya menarik. Butuh kreativitas yang tiada henti. Hasilnya pun sering limited edition. Ketika konsumen minta lagi yang sama persis, agak susah,” kata wanita berusia 65 tahun ini.

Hasil dari kreasi Lala ini dijual dengan harga beragam. Untuk outer bisa mencapai Rp 1 jutaan, tas berkisar Rp 200 ribu ke atas, serta produk rumah tangga lain antara Rp 50 ribu – Rp 350 ribu. (*)