Desainer Asal Yogyakarta Menang Kompetisi Desain Batik Swiss

0
85
Kompetisi Desain Batik Swiss
Foto: Reza Wibisono/Nyata

Tahun ini genap 10 tahun batik diakui sebagai The Intangible Cultural Heritage of Humanity, oleh lembaga kebudayaan PBB, UNESCO. Sebagai bentuk apresiasi, Kedutaan Besar Swiss di Indonesia bekerja sama dengan Ikatan Pecinta Batik Nusantara (IPBN), Putra Putri Batik Nusantara dan didukung oleh Yarn & Co, menggelar ajang Kompetisi Desain Batik Swiss.

“Batik digemari tidak hanya generasi tua, tapi juga kalangan muda, bahkan juga dikreasikan. Generasi muda ini sudah menjadi kreator dan desainer,” ujar Sapta Nirwandar selaku Pembina IPBN disela-sela Kompetisi Desain Batik Swiss di Jakarta, Selasa (1/10).

Baca juga: Gandeng Iwet Ramadhan, Pigeon Luncurkan Botol Susu Batik

Kata Sapta, hal inilah yang akhirnya membuat Kedubes Swiss tertarik menggelar event Kompetisi Desain Batik Swiss. Kemudian memberikan motif dari Swiss guna mempererat hubungan Swiss dan Indonesia, dalam bidang seni dan budaya.

“Kedubes Swiss ingin menggabungkan dua kebudayaan. Ide motif dari Swiss itu memang datang dari mereka,” kata Ketua IPBN, Ayu Dyah Pasha.

Hal ini terlihat pada desain modern yang dikirimkan oleh peserta pada kompetisi ini. Di mana elemen khas Swiss akan terintegrasi dalam motif dan pola batik.

Dalam ajang ini, dewan juri memilih 10 desain terbaik sebagai finalis. Dengan dasar penilaian ciri khas Swiss yang terintegrasi dalam desain, kreativitas, kesesuaian dengan teknis pembuatan batik yang akan digunakan.

Baca juga: Angelina Jolie Bicara Soal Sumber Kekuatannya dalam Hidup

Dari 10 desain tersebut, dewan juri menentukan tiga pemenang. Publik juga diundang untuk memberikan penilaian melalui voting di media sosial, untuk kategori Desain Favorit Pilihan Media Sosial.

Semua desain terpilih akan diproduksi menggunakan teknik batik cap oleh Yarn & Co. Selanjutnya batik tersebut dirancang dan dijahit menjadi busana kekinian khas anak muda, oleh perancang busana Rizki Triana & Nadia Juliana (Oemah Etnik).

Kompetisi Desain Batik Swiss
Foto: Reza Wibisono/Nyata

Terpilih sebagai pemenang pertama adalah Satya Wiragraha dari Yogyakarta, dengan tema motif Swiss in Harmony. Pemenang kedua diraih Diki Satria asal Bandung, yang mengambil motif Gebyah Abirama (Paduan Yang Selaras).

Sedangkan pemenang ketiga diraih Hakim Anwari dari Bogor, yang mengambil motif Batik Se-alir. Untuk pemenang kategori Media Sosial diraih Reiyan Ghaisani dari Bogor, yang mengusung motif Ina-Sui Batik.

Baca juga: Gaya Berkelas 6 Seleb yang Melenggang ke Senayan

Desain motif batik bernuansa pegunungan Alpen karya Satya Wiragraha memenangkan kompetisi desain batik, yang diselenggarakan oleh Kedutaan Besar Swiss untuk Indonesia dan Ikatan Pecinta Batik Nusantara (IPBN).

“Hal pertama yang saya tangkap tentang Swiss adalah keindahan alam. Saya pilih gunung untuk ditampilkan, karena itu yang paling identik. Itu merupakan perpaduan antara pegunungan, sarana transportasi kereta api, serta penggambaran kota di Swiss,” kata Satya.

Untuk pewarnaan, Satya memilih dominasi warna biru dengan corak abu-abu, yang menjadi kesan personal dirinya terhadap negara Swiss.

“Kalau warnanya itu biru untuk memberikan kesan dingin secara visual kepada orang yang menikmati batik saya,” ujar Satya.

Baca juga: Hebat! Gempi Nyanyi di Konser Pembukaan Lukas Graham

Duta Besar Swiss untuk Indonesia, Kurt Kunz mengaku terkesan dengan dedikasi yang diberikan oleh para perajin ketika membuat kain batik.

“Karena diperlukan dedikasi dengan proses yang panjang, banyak latihan, serta passion dalam membatik,” kata Dubes Kunz.

Kompetisi Desain Batik Swiss
Foto: Reza Wibisono/Nyata

Dubes Kunz juga menilai batik sebagai sebuah karya yang sudah sekian lamanya hadir dalam sejarah Indonesia. Sehingga dia kagum dengan batik yang telah mencapai kulminasi (puncak tertinggi). Proses pembuatan batik yang panjang dan tidak mudah pun, menjadi salah satu aspek lain yang meninggalkan kesan bagi Dubes Kunz.

“Saya sempat mencoba membuat batik di Museum Batik Jakarta dan Yogyakarta. Itu sulit sekali sehingga membuat saya sangat terkesan dengan sehelai kain batik yang bisa dihasilkan,” ujar dia. (*)