Masa depan perfilman Indonesia cukup cerah. Kemampuan para sutradara, aktris, dan aktor mudanya semakin berkembang. Hal ini terlihat dalam film A Copy of My Mind, yang beberapa pekan silam menghiasi layar lebar kita. Dalam film tersebut, terlihat sineas Joko Anwar mampu mengungguli karya-karyanya sendiri yang cukup unik, seperti Pintu Terlarang dan Modus Anomali. Sementara Tara Basro, yang tempo hari jadi petarung dalam Pendekar Tongkat Emas, dan Chicco Jerikho, yang sempat jadi barista dalam Filosofi Kopi, memamerkan kelas mereka dalam dunia akting.

Kali ini, Joko berkisah tentang kehidupan kota Jakarta, tempat segala keindahan dan kekejaman berpadu. Sari (Tara) adalah pelayan facial di sebuah salon murahan. Penghibur hatinya adalah menonton DVD bajakan, sambil sesekali mengkhayalkan punya home theater lengkap. Sifatnya yang unik adalah peka terhadap ketidakadilan. Ia tak segan memprotes, atau menghukum diam-diam, termasuk kepada penjual DVD yang menipunya.

Kombinasi antara hobi dan sifat itulah yang mempertemukannya dengan Alex (Chicco), tukang translasi DVD bajakan yang kerjanya serampangan. Keduanya mengenali kebaikan hati satu sama lain, sehingga saling jatuh cinta. Dalam kebersahajaan di bilik kos Alex yang pengap dan sederhana, cinta keduanya begitu intim dan tulus, tanpa keluhan ataupun tuntutan.

Meski begitu, Sari tetap ingin mengembangkan karirnya. Pekerjaan baru di sebuah salon mewah mengantarnya berurusan dengan Bu Mirna (Maera Panigoro), makelar ilegal yang dekat dengan kekuasaan. Tokoh yang satu ini begitu korupnya, bahkan niat naik hajinya pun korup. Naluri keadilan Sari tergelitik, lalu ia terlibat dalam kesulitan besar. Selanjutnya, kita melihat bagaimana orang-orang kecil ditindas, hingga akhirnya melawan balik.

Joko menghadirkan kisah tersebut dalam proporsi yang pas. Mulai dari kehidupan orang kecil yang ditampilkan tanpa mengada-ada, tayangan DVD yang menceritakan detail penting, hingga peran pemilik salon mewah yang mengantar Paul Augusta dapat nominasi Piala Citra. Bahkan, peran sekilas Ario Bayu pun cukup menggigit.

Meski tidak menang film terbaik, A Copy of My Mind mencatat prestasi tujuh nominasi Piala Citra. Film ini juga bukan jago kandang. Sebelum diputar di Indonesia, film ini melanglang buana ke festival internasional di Busan, Toronto, hingga Venesia.

Sekadar diketahui, A Copy of My Mind adalah bagian pertama dari trilogi. Berikutnya menyusul A Copy of My Heart dan A Copy of My Soul. Semoga Joko Anwar tidak buru-buru dalam mengerjakan keduanya, agar kita bisa menikmati sekuel yang tak kalah kualitas dibandingkan pendahulunya. (*)