Gerakkan Budaya Membaca dengan Menyediakan Buku Bacaan di Angkot

0
474

Mungkin beberapa dari kita tidak menyadari bahwa pentingnya budaya membaca buku. Bagi kita, mungkin tidak memiliki cukup waktu untuk membaca buku. Tapi ternyata, buku merupakan sahabat paling penting bagi kita yang ingin membuang waktu ketika menunggu. Hal ini menjadi inovasi seorang suami istri dari Kabupaten Bandung, Muhammad Piyan Sopian dan Elis Ratna dimana mereka menyediakan buku bacaan gratis yang bisa dibaca oleh seluruh penumpang angkot miliknya. Buku-buku bacaan di angkot tersebut tersusun rapi di rak kecil yang sudah disediakan di bagian belakang. Ide cemerlang yang menyediakan buku bacaan di angkot tersebut, memungkinkan seluruh penumpangnya mampu membaca buku secara gratis saat menunggu di jalanan ini pun mendapat banyak respon positif, setelah banyak penumpang yang akhirnya menunggah fotonya di media sosial.

Elis Ratna merupakan seorang petugas perpustakaan di SDN Cisalak, Bandung, bersama suaminya menciptakan inovasi buku bacaan di angkot tersebut. Suaminya sendiri, pak Muhammad Sopian sudah bekerja menjadi sopir angkot selama 20 tahun, ia mengajak para pelanggannya untuk membaca buku selagi diantar. Tampaknya Elis pun memang benar-benar cinta pada buku, bukan hanya sekedar iseng karena ia bekerja di perpustakaan loh! Beberapa tahun terakhir, Elis sendiri sudah menguasahakan perpustakaan keliling menggunakan motor dan semua itu bisa dibaca dengan gratis. Setelah ditanya, idenya didapat dari masalah pribadinya sendiri, ia ingin semua orang mendapatkan pendidikan, karena menurutnya pendidiklan mampu menuntaskan masalah kehidupan. Upaya rutin Elis, membuat pak Sopian akhirnya ikut tergerak untuk melakukan apa yang dilakukan oleh istrinya.

Budaya membaca
Foto: BBC Indonesia / Facebook Elis Ratna

Ide memberikan rak buku di angkot ini baru terealisasikan empat bulan terakhir, dan mendapat banyak sambutan positif dari para penumpang. Menariknya, pada tahun 2015 lalu pihak Kemendikbud merencanakan  sebuah gerakan “Membaca 10 menit sehari,” untuk meningkatkan minat baca kepada warga Indonesia. Semoga saja  kedepannya akan ada banyak angkot lain yang juga memberikan cara yang sama seperti yang dilakukan suami dari ibu Elis Ratna. Meskipun banyak yang memberi komentar positif, ada juga beberapa yang berpendapat sebaliknya. Ada yang berspekulasi, membaca dalam angkot yang berjalan akan memberikan efek pusing. Beberapa netizen lain juga menganggap bahwa inisiatif tersebut kurang efektif, karena angkot tidak menunjang untuk membaca. Ada juga yang malah ketakutan sendiri, karena suasana gerah dan sesak dalam angkot, justru membuat buku-buku tersebut menjadi “kipas” gratis dan berakhir lecek, lagi pula juga beresiko tinggi untuk copet beraksi karena fokus kita pada buku yang kita baca.

Budaya membaca
Foto: BBC Indonesia / Facebook Elis Ratna

Bagaimana menurut pembaca sendiri, apakah memberikan buku bacaan gratis di angkot memang merupakan sebuah inovasi yang patut untuk dibudidayakan? Atau justru tidak efektif? Isikan pendapatmu di kolom komentar dibawah ini ya!