Kisah Heroik di Lokasi Bom Kampung Melayu Bagian 2

Ledakan bom rakitan di Terminal Kampung Melayu pada Rabu (24/5) malam telah merenggut kebahagiaan Heri (60) dan istrinya, Asiah (55). Pasalnya, tragedi tersebut membuat mereka harus kehilangan putra satu-satunya, Bripda Taufan Tsunami (22). Taufan adalah anggota kepolisian Unit 1 Pleton 4 Direktorat Sabhara Polda Metro Jaya yang sedang bertugas menjaga kelancaran pawai obor jelang Ramadan di lokasi tersebut.

Pemuda kelahiran Surabaya, 20 Juli 1994 ini memang satu-satunya anak laki-laki pasangan Busono dan Asiah. Karena kakaknya, Iga Mawarni (35), dan adiknya, Denanda Putri Pamungkas (21) adalah perempuan. ”Tak menyangka dia pergi secepat ini. Dia kebanggaan kami, harapan penerus keluarga. Tapi takdir berkata lain,” tutur Asiah saat menerima Nyata di rumah duka, Kranggan Wetan, Jatirangga, Bekasi, Jawa Barat, Jumat (26/5) siang.

Gugur Akibat Bom Kampung Melayu, Ini Pesan Terakhir Bripda Imam Gilang Adinata Sebelum gugur akibat ledakan Bom Kampung Melayu, Bripda Imam Gilang Adinata punya … [Read More]

Selain gugur di tengah tugas nya, yang membuat keluarganya iklas dan bangga, adalah aksi heroik taufan. Menurut Asiah, kisah tersebut mereka dapat dari seorang pria dan wanita yang menolong Taufan di rumah sakit. Kepada mereka, pria dan wanita tersebut menceritakan aksi yang tergolong heroik. “Setelah tergeletak kena bom, kata mereka tangan kanan Taufan memanggil-manggil meminta pertolongan, sedangkan tangan kirinya memegang temannya polisi juga yang juga terluka,” jelas Asiah. Anehnya, saat orang-orang menghampirinya untuk menolongnya, Taufan menolak. ”Dia minta tolongin temannya dahulu karena lukanya terlihat lebih parah, wajah temannya hancur berdarah-darah,” cerita Asiah.

Barulah setelah temannya diberi pertolongan, Taufan bersedia ditolong. Sayang, pertolongan tersebut terbilang terlambat. ”Saat mau diangkat, dia udah tersengal-sengal. Dia minta maaf melalui orang-orang itu, lalu terimakasih dan istighfar 3 kali lalu meninggal dunia,” katanya.

Yang aneh, masih dari kesaksian orang yang menolong putranya, meski meninggal dunia, tapi kondisi tubuh Taufan lebih baik ketimbang temannya itu. “Padahal katanya posisi Taufan itu lebih dekat ke arah bom ketimbang temannya. Tapi yang lebih parah terlihat justru temannya. Taufan hanya ada luka bagian perut, mungkin kena bagian dalam,” jelas Asiah. Asiah yang mengenal karakter anaknya itu tidak heran mendengar cerita itu. Selama ini Taufan dikenal sebagai sosok yang lebih mengutamakan ke pentingan orang lain daripada dirinya. *noe/dro/fel

Ikuti kisah Bripda Ridho Setiawan di tabloidnyata.com esok hari. Baca kisah tiga anggota kepolisian yang gugur akibat bom di Kampung Melayu di Tabloid Nyata edisi 2395 terbit tanggal 27 Mei 2017.