Siang itu Perumahan Griya Arga Permai, Sleman, tampak ramai. Di depan sebuah rumah bernomor H-13, sepasang Bapak dan Ibu dengan senyuman ramah menyambut kedatangan Nyata. ”Mau ketemu sama Ney nggih, Mas?” tanya Si Bapak. Dibawalah kami masuk ke dalam rumah. Seorang perempuan muda menyapa dan mempersilakan duduk dengan tak kalah ramah. Dia adalah Nun Nani Rachmah Riany Putri, atau yang akrab disapa dengan Ney, seorang pelukis henna atau henna artist. Bukan pelukis henna biasa, Ney adalah pelukis henna difabel.

Perempuan berusia 28 tahun itu telah kehilangan fungsi tangan kanannya setelah menjadi korban tabrak lari sekitar lima tahun lalu. Masih teringat jelas dalam ingatan Ney kejadian 2 Juni 2012 itu. Ia ngotot pergi ke rumah temannya untuk membantu mengerjakan tugas akhir, meski ibunya sudah melarang. Sore harinya, Ney diminta untuk menjemput Ibunya pulang di kantor. Selama di perjalanan, Ney yakin sudah sangat berhati-hati ketika berkendara. ”Saya nyetir dengan kecepatan sekitar 10 kilometer per jam dan sudah di pinggir pula. Terus, terdengar bunyi benturan keras dan saya tidak sadar,” cerita Ney.

Menurut warga, Ney menjadi korban tabrak lari. Ia ditabrak dari arah depan oleh sebuah truk yang menyerobot. Awalnya warga yang melihat kejadian itu tidak berani menolong karena mengira Ney sudah tak bernyawa. Beruntung, salah satu warga memberanikan diri untuk membawa Ney ke rumah sakit terdekat. ”Selama perjalanan ke RSI Hidayatullah itu, saya sempat sadar dan nyebutin nama saya dan nomor yang bisa dihubungi ke dokter sama perawat rumah sakit. Lumayan loh, itu bisa membantu mereka buat kasih kabar ke Ibu saya, tapi terus saya pingsan lagi,” ujarnya sembari tertawa mengingat kejadian itu.

Ney menjalani operasi pertamanya seminggu kemudian di Rumah Sakit Bethesda, Yogyakarta. Operasi pertama ditujukan untuk mengangkat tulang selangka pada bahu kanan yang hancur, serta menyambung tulang selangka yang tersisa dan tulang belikat dengan kawat. Usaha tersebut tidak berhasil karena muncul infeksi. Keluarga sempat menyerah, namun Singgih Aji Abiyuga, adik kandung Ney, bersikeras agar kakaknya tetap melanjutkan perawatan medis.

”Selama dua bulan itu banyak dokter spesialis yang terlibat operasi saya, tiga dokter spesialis bedah umum, dokter spesialis tulang belakang, dokter plastik, dan spesialis saraf,” kenang Ney. Sampai saat itu, Ney masih belum bisa menggerakkan tangan kanannya. Ia harus menjalani fisioterapi hampir setiap hari, namun tak ada perkembangan berarti. Akhirnya Ney menemui seorang dokter spesialis tulang belakang ternama di sebuah rumah sakit di Solo dan hasilnya tetap sama, ”beliau mengatakan kalau tangan kanan saya dipastikan lumpuh.”

Sebenarnya menjadi seorang dosen kimia adalah cita-cita Ney sedari kecil. Ia tak main-main dengan mimpinya itu. Selama di bangku kuliah, Ney menjaga agar nilainya selalu di atas rata-rata teman sekelasnya. ”Saya sudah menjadi asisten laboratorium praktikum selama kuliah untuk mempermudah jalan saya kuliah S-2 di UGM nantinya. IPK saya di atas tiga terus dan mempertahankan nilai diatas itu jugatidak mudah,” ujarnya.

Jalan Ney menjadi seorang dosen kimia hanya tinggal selangkah lagi sampai akhirnya musibah itu terjadi. Pasca divonis kehilangan fungsi tangan kanan untuk selamanya, Ney mengalami depresi berat. Ia menghenti kan seluruh aktifitasnya dan mengurung diri di rumah. ”Di Indonesia, kecil kemungkinan untuk bisa bekerja di laboratorium dengan satu tangan kiri,” jelasnya sedih.

Seiring berjalannya waktu, Ney menemukan pelampiasan lain untuk menumpahkan kesedihannya selain bersikap emosional, yakni menggambar. Menggambar sebenarnya bukan hal baru bagi Ney. Ney kecil sudah terbiasa meng gambar. Hobi tersebut mu lai terlupakan sejak ia duduk di bangku sekolah menengah pertama. Ney membuat coretan di kertas, di tembok rumah, hingga lantai dan pagar. Setiap coretan mampu mengobati setitik luka di hatinya. ”Saya melampiaskan semuanya dengan gambar sih, jadi bisa dikatakan terapi saya itu terapi gambar,” kata Ney sumringah.

Ney seperti menemukan mimpinya lagi, meski di bidang yang jauh berbeda. Ia mulai larut dalam asyiknya berkreasi dengan motif-motif henna. Ia mempelajari berbagai jenis motif henna di internet dan terus berlatih. Bermula dari meniru, lama-kelamaan ia menemukan gayanya sendiri.

Tak perlu menunggu lama, panggilan jasa henna pertama Ney datang. Meski sempat menentang, Sang Ibu tetap bersedia mengantarkan putrinya untuk memenuhi panggilan pertamanya tersebut. Ia tahu betul watak keras putrinya, rasa sayangnya jauh lebih besar daripada egonya. Saat itu, Badriyah justru berpikir bisa meyakinkan putrinya untuk tidak menekuni henna sebagai sebuah profesi.

No caption needed 😘😘

A post shared by Nun Nani R. Riany Putri Ariaji (@khailahennajogja) on

Hingga lama-kelamaan Ney semakin dikenal di Yogyakarta. ”Awalnya sih pelanggan Ney tidak banyak, tapi semakin lama mereka tahu siapa yang mendesain henna yang cirinya seperti ini,” kata Ney. Baru akhirnya pada tahun 2014, Ney memberanikan diri untuk memasang tarif atas jasanya tersebut. Membawa nama Khaila’s Henna Gallery, Ney terus berjuang untuk mimpi barunya.

Banyak yang mengira jika nama ‘Khaila’ dari Khaila’s Henna diambil dari nama asli Ney. Namun sebenarnya, nama Khaila diambil dari program radio yang sempat dibawakan Ney saat bekerja sambilan menjadi penyiar radio. ”Dulu waktu kerja di radio, saya menggunakan nama alias Khaila saat membawakan program kisah religi. Selain itu nama Khaila juga diambil dari nama malaikat Mikail (dalam agama islam) yang berarti pemberi rezeki,” jelas Ney sembari tersenyum. •sar/adi