Sejauh ini, ada tiga film Indonesia kontemporer yang mengangkat tema poligami, yaitu Berbagi Suami (rilis tahun 2006), Ayat-ayat Cinta (2008), dan Surga yang Tak Dirindukan (2015). Ketiganya terbilang sukses secara komersial, karena poligami merupakan topik yang kontroversial bagi masyarakat Indonesia. Kini, bertambah satu lagi film serupa, yaitu Athirah hasil besutan Riri Riza.

Film Ayat-ayat Cinta dan Surga yang Tak Dirindukan lebih mirip propaganda, yang membujuk para penontonnya untuk menoleransi poligami, lengkap dengan alur yang dipaksakan. Karena itulah, yang antusias menontonnya kebanyakan dari kalangan yang pro-poligami. Sedangkan Berbagi Suami menampilkan cerita yang tersusun apik, diadaptasi dari kenyataan di masyarakat, serta digarap secara piawai oleh sutradara Nia Dinata dan segenap aktor-aktrisnya. Tak heran, Berbagi Suami dapat apresiasi positif di sejumlah festival film kelas dunia.

Athirah masuk tipe yang mana? Untungnya, Athirah termasuk film yang kritis, realistis, serta artistik. Nama sutradara Riri Riza, bersama produser Mira Lesmana, memang jaminan mutu. Melejit sejak film Petualangan Sherina (2000), duet ini telah menghadirkan berbagai film berkualitas tinggi seperti 3 Hari untuk Selamanya (2007), Drupadi (2008), dan kemarin memecahkan rekor lewat Ada Apa dengan Cinta? 2 (bisa disimak lebih lanjut di sini).

Dilema perempuan tradisional, antara pengabdian dan menuruti perasaan.

Pesan dari Athirah cukup jelas, yaitu “jangan sakiti istrimu dengan poligami, karena suatu saat nanti—entah dengan cara apa—kamu akan menyesal”. Film ini dimulai dari kisah pasangan Puang Ajji dan Athirah memulai hidup baru di Makassar pada awal dekade 1950an. Keluarga Bugis ini sukses berdagang, sehingga hidup sangat berkecukupan. Sayangnya, dalam kemakmuran tersebut Puang Ajji menikah lagi diam-diam. Athirah dan ketiga anaknya pun sangat terpukul.

Dengan dukungan ibunya, Athirah bangkit dari keterpurukan dan berusaha mandiri. Tapi, mengetahui bahwa ibunya ternyata istri keempat dari ayahnya, Athirah jadi tidak frontal melawan suaminya. Bahkan, di mata Ucu, putera sulungnya, Athirah terkesan lemah menyikapi Puang Ajji. Yang makin membuat Ucu kecewa, reputasi poligami ayahnya mempersulit dirinya mendekati Ida, gadis pujaannya. Nantinya, Athirah akan menang dengan caranya sendiri, menang di mata suaminya, serta memenangkan hati Ucu.

Jangan bayangkan cerita seperti ini ditampilkan ala sinetron, dengan banyak dialog bertele-tele. Riri jauh lebih canggih daripada itu. Film Athirah minim kata-kata. Cerita seringkali dibawakan dengan adegan artistik yang mengalir sedemikian rupa, lebih dimaksudkan untuk dirasakan ketimbang dipahami. Sebagaimana tren film Indonesia zaman sekarang, pamer lokasi eksotik kembali jadi salah satu andalan. Menariknya, ada salah satu tempat wisata di Makassar yang suasananya tak banyak berubah sejak dekade 1950an hingga sekarang.

Tantangan terbesar Athirah, memenangkan hati Ucu si anak sulung.

Tapi, dalam perannya sebagai duta wisata, film Athirah lebih dari sekadar memajang lansekap. Para karakter bicara dengan logat Bugis yang kental, menunjukkan intensitas latihan yang mereka jalani sebelum mulai syuting. Aneka makanan khas Makassar sering ditampilkan cukup jelas, membangkitkan nafsu makan para penonton. Dan Riri juga memamerkan sarung khas Bugis, lengkap dengan proses pembuatan dari ulat sutera dan teknik tenun tradisionalnya.

Bintang utama film ini tak salah lagi Cut Mini, yang memerankan Athirah. Cukup sering disorot close up, aktris yang dikenal lewat Laskar Pelangi dan dua film Arisan! ini menunjukkan kepiawaiannya bermain ekspresi. Jajang C. Noer, pemeran ibu Athirah, membuktikan kelasnya sebagai aktris senior. Aktor belia Christopher Nelwan juga layak dipuji. Peran Ucu yang dilakoninya tak banyak bicara. Tapi, menjalankan arahan Riri untuk berakting minim kata-kata adalah tantangan tersendiri bagi pelaku seni seusia dia.

Sekadar info, film ini diadaptasi dari novel berjudul sama karya Alberthiene Endah, yang merupakan biografi dari Athirah Kalla, tokoh perempuan yang mendirikan sekolah terkemuka di Makassar. Tokoh Ucu dan Ida kini kita kenal sebagai Jusuf dan Mufidah Kalla. Ucu tidak pernah jadi gubernur sebagaimana diharapkan oleh ibunya dalam film ini. Tapi, ia jadi orang Indonesia pertama yang dua kali jadi wakil presiden untuk dua presiden yang berbeda. Dan kini kita tahu, pengalaman masa remaja seperti apa yang membentuk dirinya jadi suami yang setia kepada istrinya. (*)

Review film lainnya:

A Copy of My Mind

Ada Apa dengan Cinta? 2

Tiga Dara (versi 1956)

Ini Kisah Tiga Dara

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here