Saya imajinasikan seorang Titiek Puspa di usia 19 tahun. Ketika itu, film Tiga Dara besutan Usmar Ismail sedang naik daun. Titiek sendiri baru saja jadi selebriti lokal, juara bintang radio Jawa Tengah. Remaja ini menonton aksi Chitra Dewi, Mieke Wijaya, dan Indriati Iskak di layar perak kota Semarang, lalu terpukau sebagaimana para remaja lain di zaman itu.

Titiek belum tahu bahwa nantinya ia jadi ikon dunia hiburan yang tak kalah populer dibandingkan ketiga pemeran Tiga Dara. Enam puluh tahun berselang, ia dikontak oleh Nia Dinata, sutradara papan atas. Ia ditawari peran jadi Oma, tokoh nenek yang dulu diperankan oleh aktris legendaris Fifi Young. Ia akan mendampingi tiga aktris muda dalam film Ini Kisah Tiga Dara, versi pembuatan ulang dari Tiga Dara.

Bisa dibayangkan betapa senang dan antusiasnya Titiek Puspa berperan dalam film ini.

Titiek Puspa bersama para aktris generasi baru.

Ini Kisah Tiga Dara merupakan satu dari dua proyek SA Films yang saling berkaitan. Yang pertama adalah restorasi film lawas Tiga Dara (bisa disimak lebih lanjut di sini). Dan yang kedua, Ini Kisah Tiga Dara, merupakan film baru yang terinspirasi dari film yang sukses besar di tahun 1956 tersebut. Tak mau tanggung-tanggung, pengerjaannya diserahkan kepada Nia Dinata, yang dikenal lewat film Arisan! dan Berbagi Suami.

Nia Dinata tidak menjiplak Tiga Dara mentah-mentah. Nama ketiga dara tidak sama dengan versi terdahulu. Perkembangan alur cerita berbeda secara signifikan, meski kisah mendasarnya tetap sesuai pakem. Latarnya bukan lagi Jakarta, melainkan kota Maumere—pulau Flores—yang eksotik. Nia berusaha mewujudkan suatu tontonan yang menarik bagi para penggemar film zaman sekarang, sekaligus menampilkan sejumlah tribute bagi yang menyukai film versi terdahulunya.

Kisah film ini tentang Gendis (diperankan oleh Shanty), Ella (Tara Basro), dan Bebe (Tatyana Akman), tiga bersaudara asal Jakarta yang bertahun-tahun mengelola hotel milik keluarga di pantai Maumere. Oma yang baru saja tinggal bersama mereka langsung merecoki, karena ingin cucu sulungnya yang berusia 32 tahun segera menikah. Gendis yang keasyikan jadi chef hotel keberatan dengan kemauan Oma-nya.

Sesuai pakem, Gendis kemudian ditabrak oleh motor seorang pemuda. Yudha (Rio Dewanto), pemuda tersebut, sedang merintis bisnis dengan Krisna (Ray Sahetapy), papa ketiga dara. Melihat kakaknya tidak antusias, Ella pun mulai mengejar Yudha, mengabaikan Bima (Reuben Elishama) yang gigih mendekatinya. Sementara Bebe sibuk sendiri dengan pacar setengah bulenya.

Si sulung berkarier sebagai chef di hotel milik keluarganya.

Konsep Ini Kisah Tiga Dara memang dibuat modern. Ketiga dara versi ini berpikiran lebih maju ketimbang para dara versi terdahulu. Kesibukan mengelola bisnis ditampilkan, lengkap dengan bagaimana mereka memperhitungkan urusan finansial. Pakem sebagai genre musikal juga membuat para aktris dan aktor tampil menyanyi dan menari. Lagu-lagu yang ditampilkan hampir semuanya baru.

Kemampuan akting Titiek Puspa terlihat jelas, begitu juga dengan kemampuan menyanyinya. Shanty—yang juga penyanyi profesional—menampilkan akting yang prima, melebihi penampilannya yang memukau dalam Berbagi Suami. Tara Basro tak mau kalah. Memang tak sampai seintens ketika ia membintangi A Copy of My Mind (bisa disimak lebih lanjut di sini), karena berbagi durasi dengan banyak pemain lain. Tapi, menarik melihat debutnya menyanyi dan menari. Sementara Tatyana Akman, pendatang baru, juga menunjukkan potensinya.

Sedangkan tentang Nia Dinata, kiprah pertamanya menyutradarai film musikal ini terbilang berhasil. Mungkin terbantu oleh pengalamannya jadi produser film musikal Langit Biru beberapa tahun silam. Menurut saya, adegan menyanyi dan menari dalam Ini Kisah Tiga Dara tak kalah dibandingkan film Mamma Mia buatan Hollywood, termasuk dalam hal menampilkan lansekap dan warga lokalnya.

Ini Kisah Tiga Dara merupakan versi pembuatan ulang yang layak bagi film legendaris sekelas Tiga Dara. Saya sarankan, luangkan waktu untuk menonton karya anak bangsa yang satu ini, yang bisa dianggap sebagai suatu pengalaman setiap enam puluh tahun sekali. (*)

Resensi film lainnya:

A Copy of My Mind

Ada Apa dengan Cinta? 2

Tiga Dara (versi 1956)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here