Kata orang, buku yang belum pernah dibaca selalu baru. Kalimat bijak tersebut berlaku juga bagi film. Sebagai penggemar film, saya merasa berhutang jika ada film bagus yang belum sempat ditonton. Entah itu film yang baru dirilis ataupun film keluaran puluhan tahun silam. Apalagi, jika film tersebut merupakan tonggak sejarah penting dalam dunia perfilman.

Itulah yang membuat saya antusias menantikan Tiga Dara, film klasik lansiran tahun 1956. Film hitam-putih ini disutradarai oleh Usmar Ismail, yang dikenal sebagai Bapak Perfilman Indonesia. Bisa dibilang, film ini adalah Ada Apa Dengan Cinta-nya dekade 1950an, yang dulu membuat masyarakat Indonesia tertarik menonton film nasional di tengah maraknya film Hollywood.

Tiga Dara berkisah tentang keluarga Sukandar yang punya tiga anak gadis, yaitu Nunung (diperankan Chitra Dewi), Nana (Mieke Wijaya), dan Neni (Indriati Iskak). Nenek mereka kuatir karena Nunung yang berusia 29 tahun belum tertarik menikah. Ia pun menjalankan sejumlah siasat untuk menemukan jodoh bagi cucu sulungnya tersebut, yang kesemuanya gagal.

Nunung jadi korban kecelakaan lalu lintas oleh Totok, pemuda yang kemudian berusaha mendekatinya. Si Nenek geregetan karena Nunung ternyata menanggapinya secara dingin. Situasi jadi makin kompleks ketika malah Nana yang berusaha menggaet Totok, dengan membuang pacar lamanya. Kisah ini ditampilkan sebagai komedi musikal, di mana para karakter utama kebagian menyanyikan lagu.

Sutradara Usmar Ismail sebenarnya spesialis film serius. Misalnya, Lewat Djam Malam, film terdahulunya yang mengkritisi kelakuan korup sejumlah oknum pejuang kemerdekaan. Film Tiga Dara ini digarapnya sebagai usaha menyelamatkan studio Perfini dari kebangkrutan. Ternyata sukses besar, bahkan melebihi semua filmnya yang lain.

Hampir enam dekade berselang. Di antara pemeran Tiga Dara, hanya Mieke Wijaya yang masih eksis dalam dunia hiburan. Arsip film Tiga Dara mengalami kerusakan cukup parah dimakan waktu. Gulungan seluloid tersebut kemudian dibawa ke Italia, direstorasi oleh Laboratorium L’Immagine Ritrovata. Tidak ada syuting ulang ataupun pengisian suara ulang. Semua adegan asli dirapikan secara digital, frame demi frame.

Hasil dari proses rumit tersebut beberapa pekan lalu diputar di sejumlah bioskop Indonesia. Bagi penonton zaman sekarang, tak ada yang istimewa dalam hal plot cerita Tiga Dara. Daya tarik utama adalah mengajak penonton kembali ke masa silam. Terasa bedanya melihat film yang benar-benar syuting di zaman dulu, ketimbang film zaman sekarang yang nuansanya dibuat seperti zaman dulu.

Tiga Dara sangat otentik menggambarkan kehidupan warga Jakarta dekade 1950an. Sebagian besar penonton sibuk mengamati pakaian, perabot rumah, serta gaya pergaulan remaja di zaman itu. Asyik juga membandingkan kota Jakarta dalam film tersebut, dengan kota Jakarta yang kita kenal sekarang. Tak kalah serunya, kita bisa melihat bagaimana sosok aktris senior Mieke Wijaya dalam usia belianya, yang ketika itu masih berusia 16 tahun.

Pekan depan, bioskop Indonesia akan kedatangan Ini Kisah Tiga Dara. Besutan sutradara Nia Dinata—yang dikenal lewat film Arisan! dan Berbagi Suami—film ini merupakan versi pembuatan ulang Tiga Dara dengan latar modern. Kali ini pemerannya adalah Shanty, Tara Basro, dan pendatang baru Tatyana Akman. Bagi yang sempat menonton Tiga Dara versi 1956, bakal menarik sekali membandingkan keduanya. (*)

Review film lainnya:

A Copy of My Mind

Ada Apa dengan Cinta? 2