Perang mengandung berjuta kisah. Sebagian besar tentang saling bunuh. Tapi, tak jarang pula kisah penyelamatan. Lalu, apa yang terjadi jika yang hendak diselamatkan hampir setengah juta nyawa sekaligus? Inilah yang disampaikan dalam film Dunkirk.

Saya sudah lama membaca sejarah Pertempuran Dunkirk, bagian dari Perang Dunia II. Saat itu April 1940, balatentara Jerman di bawah Adolf Hitler memamerkan kehebatannya. Mereka menaklukkan Denmark, Norwegia, Belgia, dan Belanda dalam kurun waktu beberapa pekan. Prancis, musuh bebuyutan Jerman, tak berdaya jadi sasaran selanjutnya. Padahal, Prancis didukung oleh pasukan Inggris.

Pasukan Inggris bersama sebagian pasukan Prancis kemudian terjebak di Dunkirk (Dunkerque), sebuah kota pantai di daerah utara. Winston Churchill, perdana menteri Inggris, bertekad mengungsikan para tentara tersebut menuju daratan Inggris di seberang Selat Dover. Ada lebih dari 400 ribu personel berada di pantai Dunkirk. Tapi mengingat kekuatan militer Jerman, Churchill hanya berani menargetkan 30 ribu orang terangkut.

Commander Bolton (diperankan Kenneth Branagh) mengurus evakuasi ratusan ribu tentara.

Saya jadi antusias mendengar Christopher Nolan hendak membuat film tentang peristiwa tersebut. Reputasi Nolan memang meyakinkan, misalnya lewat Inception, Interstellar, dan tentu saja trilogi The Dark Knight. Saya tak sabar menantikan bagaimana film Dunkirk tersebut akan bersaing dengan Saving Private Ryan karya Steven Spielberg, yang menampilkan pertempuran kolosal di pantai Normandia.

Baru saja film ini diputar di bioskop, dan saya sama sekali tidak kecewa. Nolan kembali menunjukkan kelasnya, dengan berbagai inovasi berani. Pertama, film ini tidak berisi adegan kekerasan yang eksplisit seperti kebanyakan film perang zaman sekarang. Banyak kematian tentunya, tapi tidak banyak mengumbar cipratan darah. Cukup aman mengajak remaja usia sekolah untuk menyaksikannya demi pelajaran sejarah.

Nolan bermain dengan suasana. Dialog terhitung minim. Hampir setiap adegan membuat penonton ikut merasakan ketegangan di pantai Dunkirk tersebut. Dalam perang seperti itu, hidup dan mati bagaikan ditentukan oleh lemparan dadu. Bukan oleh kecerdasan ataupun keterampilan sebagai prajurit. Setiap saat, bisa saja musuh tiba-tiba datang dan menambah jumlah korban.

Untuk kesekian kalinya Tom Hardy berakting dengan sebagian wajah tertutup sesuatu.

Nolan juga menyuguhkan sudut pandang yang cukup lengkap. Film Dunkirk terdiri dari tiga kisah berbeda, yang saling bersinggungan. Ada kisah infanteri muda Inggris yang selama sepekan berjuang keluar dari Dunkirk. Ada kisah pelaut sipil yang berlayar sehari penuh, menyambut seruan pemerintah Inggris untuk bantu mengangkut para tentara. Dan ada kisah penerbang tempur Inggris, yang satu jam bertarung di udara melindungi Operasi Dynamo, kode misi penyelamatan tersebut.

Menampilkan adegan yang tampak seasli mungkin sudah jadi standar film perang zaman sekarang. Tapi, Nolan melangkah lebih jauh lagi. Ia menghindari penggunaan CG (computer graphics). Gantinya, ia mengandalkan kapal laut dan pesawat terbang yang disulap menyerupai kendaraan aslinya dalam sejarah. Bahkan, suara asli mesin pesawat Stuka dan Heinkel milik Jerman, serta Spitfire milik Inggris, direkam untuk film ini.

Inovasi Nolan berikutnya adalah penokohan. Ia sengaja tidak menampilkan satupun tokoh sejarah. Semuanya fiktif, termasuk seorang commander (setingkat letnan kolonel) yang mengawasi operasi. Bisa dibilang, perwira ini dihadirkan agar penonton memahami strategi pemerintah Inggris saat itu. Oh ya, tak tampak juga seorang pun tentara Jerman dalam film ini.

Bukan sekadar meminjamkan kapalnya kepada negara, Mr. Dawson (Mark Rylance) secara patriotis memilih berangkat sendiri.

Nolan juga sengaja membuat Dunkirk tidak punya bintang yang mencolok. Sebagian besar peran penting dipegang oleh aktor yang kurang dikenal di Hollywood. Ada juga Cillian Murphy dan Tom Hardy, veteran dari film Nolan terdahulu. Tapi, akting mereka yang apik bersifat menguatkan penceritaan, bukan membuat mereka jadi pusat perhatian. Bahkan, penonton takkan terlalu mudah menemukan penyanyi muda populer Harry Styles, yang berperan cukup signifikan dalam film ini.

Yang saya paling suka, Nolan sukses menghindarkan Dunkirk dari adegan klise ala Hollywood—dalam hal drama dan aksi klimaks—yang dulu mengurangi kualitas Saving Private Ryan. Tentu ada momen egoisme manusia, serta tentu saja momen heroisme. Tapi, penyampaiannya tidak berlebihan. Selebihnya, ini kisah tentang penyelamatan dan bertahan hidup.

Untuk ukuran Nolan, film ini tergolong sangat pendek. Cuma seratus menit, lalu Dunkirk pun berakhir. Bandingkan dengan film-film populer Nolan lainnya, yang panjangnya dua setengah jam hingga lebih dari tiga jam. Tapi, dalam durasi singkat tersebut, Dunkirk tuntas mengajak penonton menyimak kisah dari tiga matra berbeda—darat, laut, dan udara. Dari lingkungan militer dan sipil. Serta dari perspektif prajurit rendahan hingga perwira yang harus berpikir jangka panjang.

Dalam sejarah, tiga ratus ribuan prajurit berhasil diboyong ke daratan Inggris. Belasan kali lipat daripada yang diharapkan oleh Churchill. Dan nantinya, sebagian besar dari mereka akan dikerahkan kembali dalam peperangan melawan Jerman, termasuk pendaratan Normandia yang termasyhur itu—kisah film Saving Private Ryan.

Mungkin ada yang memperhatikan, dengan begitu banyaknya pasukan yang frustrasi di pantai Dunkirk, kenapa serangan pihak Jerman tak sehebat dalam film Saving Private Ryan? Kenapa Hitler tidak mengerahkan pasukan yang jauh lebih masif untuk menghabisi mereka? Jika ada pertanyaan seperti itu, maka anda pengamat yang jeli. Para ahli militer pun masih memperdebatkannya hingga sekarang. (*)