Masyarakat Inggris antusias menatap layar televisi Minggu (16/7) kemarin. Lewat sebuah trailer pendek, saluran BBC memperkenalkan sosok terbaru tokoh utama serial legendaris Doctor Who. Ternyata, untuk pertama kalinya dalam lebih dari setengah abad, tokoh Sang Doktor diperankan oleh perempuan. Kehebohan pun dimulai.

Bagi masyarakat Inggris, Doctor Who tak kalah populernya dengan James Bond. Setahun setelah Dr.No—film pertama James Bond—dirilis, serial Doctor Who mulai diputar di televisi. Serial ini berkisah tentang makhluk planet Gallifrey yang datang ke Bumi. Kemampuan utamanya adalah bertualang lintas-waktu, dengan wahana yang disebut Tardis.

Sang Doktor ke-10 (diperankan David Tennant) di pintu Tardis.

Sang Doktor, sebutan makhluk tersebut, melawan aneka kejahatan di Bumi, termasuk para musuh yang hendak memanipulasi sejarah. Ia tak hanya berperan sebagai Time Lord (penguasa waktu), melainkan bisa juga melanjutkan hidup dengan berganti wujud. Plot inilah yang memungkinkan kisah Doctor Who berlanjut dari 1963 hingga sekarang, dengan aktor-aktor yang berbeda.

Setiap kali tubuh Sang Doktor menua, terluka, ataupun sebab-sebab lain, ia bisa regenerasi jadi sosok yang sama sekali baru. Selama ini sudah ada 12 aktor yang memerankannya. Mereka bervariasi secara usia, penampilan, bahkan perangai. Menariknya lagi, karena unsur cerita lintas-waktu, lebih dari satu sosok Sang Doktor dengan pemeran yang berbeda bisa saja bertemu dalam suatu episode.

Sejak 2014, pemeran Sang Doktor adalah Peter Capaldi. Pada awal tahun ini, aktor Skotlandia tersebut mengumumkan niatnya untuk berhenti. Ia mematok episode Natal mendatang merupakan penampilan terakhirnya sebagai Sang Doktor ke-12. Pencarian pemeran baru pun bergulir, hingga akhirnya diserahkan kepada Jodie Whittaker, aktris yang biasa tampil di layar lebar, televisi, dan panggung teater.

Sang Doktor ke-12 (Peter Capaldi) bersama Missy alias The Master (Michelle Gomez).

Pro-kontra terjadi. Pihak yang menentang melontarkan tuduhan bahwa BBC melakukan affirmative action, dengan mengorbankan pakem Doctor Who. Yang dimaksud dengan affirmative action adalah memberi kesempatan kepada golongan-golongan yang tadinya terabaikan, dalam peran sosial yang tadinya didominasi oleh golongan tertentu. Misalnya, mengutamakan kaum perempuan, ras minoritas, atau penyandang cacat dalam suatu lowongan pekerjaan.

Affirmative action ini dituding terlalu jauh, hingga menghilangkan ciri khas yang harusnya tidak diutak-atik.. Ada yang nyeletuk kekuatiran bahwa nantinya peran James Bond pun akan diberikan kepada perempuan—namanya diganti Jamie Bond. Bakal lebih kontroversial ketimbang masuknya Idris Elba yang kulit hitam dalam bursa calon pengganti Daniel Craig tempo hari.

Tapi tentu saja, dukungan tak kalah banyaknya. Peter Capaldi sendiri menyambut baik tampilnya Jodie Whittaker sebagai Sang Doktor ke-13. Keputusan BBC tersebut juga dibela oleh Jacqui Oatley, perempuan pertama yang jadi komentator acara sepakbola Match of the Day. Theresa May, perdana menteri Inggris, juga gembira kaumnya akhirnya kebagian peran utama Doctor Who.

M (Judi Dench) bersama James Bond (Pierce Brosnan) dalam film The World is Not Enough.

Dalam dunia film, tampilnya aktris dalam peran yang dirancang untuk dimainkan aktor sebenarnya sudah berlangsung lama. Misalnya, dalam film The Year of Living Dangerously yang dirilis pada 1982. Dalam film berlatar Indonesia yang dibintangi Mel Gibson dan Sigourney Weaver ini, ada karakter laki-laki bernama Billy Kwan. Peran ini dijalankan oleh Linda Hunt, yang belakangan dikenal sebagai Hattie dalam serial televisi NCIS: Los Angeles.

Kemudian, kita melihat juga aktris senior Judi Dench secara meyakinkan berperan sebagai M, atasan James Bond. Tidak tanggung-tanggung, dalam kurun waktu 17 tahun mulai GoldenEye hingga Skyfall. Masih ditambah penampilan singkat dalam Spectre.

Lalu, ada juga aktris Tilda Swinton yang penampilannya androgini. Pada 2005, ia memainkan Archangel Gabriel dalam film Constantine, bersama Keanu Reeves. Dalam pakem asli komik Hellblazer, Gabriel digambarkan laki-laki. Sebelas tahun kemudian, Swinton mengulangi hal tersebut dalam film Doctor Strange. Kali ini, ia jadi Ancient One, mentor sang jagoan.

Archangel Gabriel (Tilda Swinton) yang digambarkan tanpa jenis kelamin.

Hal serupa terjadi pada berbagai film ikonik lainnya. Misalnya, Star Wars yang dua film terbarunya menampilkan jedi perempuan—diperankan Daisy Ridley—sebagai tokoh utama. Film Ghostbuster yang tim protagonisnya perempuan semua, sedangkan resepsionis mereka justru laki-laki yang macho. Serta hadirnya film Lady Bloodfight, yang merupakan penerus Bloodsport, film laga klasiknya Jean-Claude van Damme.

Kembali ke Doctor Who, para penggemar serial tersebut mestinya tidak terlalu kaget dengan sosok Sang Doktor perempuan. The Master, musuh bebuyutan Sang Doktor, salah satu inkarnasinya adalah perempuan, yang diperankan oleh Michelle Gomez. Lagipula, kemampuan regenerasi para Time Lord tidak mengecualikan perempuan sebagai sosok baru.

Tahun lalu, sebuah situs di Inggris menggelar polling tentang aktris mana yang dijagokan untuk memainkan Sang Doktor. Kebanyakan memilih Helena Bonham Carter (pemeran Bellatrix dalam film Harry Potter). Tapi tentu saja, mengontrak aktris sekelas dirinya untuk suatu serial televisi bakal terlalu mahal.

Sang Doktor ke-11 (Matt Smith) beraksi bersama Sang Doktor ke-10.

Bagi yang rutin mengikuti serial Doctor Who, yang perlu dikuatirkan adalah masalah lain. Pakem seringkali menyebutkan bahwa Time Lord hanya bisa regenerasi hingga sosok ke-13. Apakah ini berarti Jodie Whittaker akan jadi Sang Doktor terakhir?

Yah, kita lihat saja bagaimana BBC mengembangkan serial legendaris ini. Kita bisa menyimak kata-kata dalam naskah As You Like It karya William Shakespeare empat abad silam, “All the world’s a stage, and all the men and women merely players!(*)