Awal dekade 2000an merupakan masa kejayaan reality show bertema kompetisi. Acara-acara TV semacam American Idol, American Next Top Model, dan Project Runway bermunculan dan jadi sangat populer. Para penyanyi profesional, model profesional, dan perancang busana porfesional bermunculan dari sana. Atmosfer tersebut rupanya menggelitik para pegiat seni tari, sehingga lahirlah acara So You Think You Can Dance dengan konsep serupa pada 2005.

Acara ini digagas oleh produser Simon Fuller dan sutradara Nigel Lythgoe yang sebelumnya menggarap American Idol. Kesuksesan ajang pencarian penyanyi ini mendorong mereka bereksperimen dengan dunia tari, yang kebetulan Lythgoe cukup mengenalnya. Lythgoe sudah tampil tap dance secara profesional sejak 1969 di TV BBC, serta mulai mengkoreografi sejak 1971.

Konsep dasar So You Think You Can Dance tak jauh beda dengan reality show lainnya. Tiap musim dimulai dengan audisi para pelamar yang memamerkan kemampuan tari yang paling mereka andalkan. Yang beruntung dapat tiket menuju seleksi berikutnya. Di sinilah peserta paling banyak berguguran, karena dihadapkan kepada jenis-jenis tari di luar comfort zone mereka.

Para juri akan memilih kandidat terbaik, dengan jumlah laki-laki dan perempuan yang sama. Mereka akan dipasangkan, sebagai persiapan masuk acara yang sesungguhnya. Dari situlah, setiap pekan para penonton akan disuguhi penampilan tiap pasangan, dengan jenis tari berbeda-beda, serta tuntutan kualitas yang makin tinggi. Sejumlah kandidat yang performanya dianggap paling lemah, diberi kesempatan tampil solo. Di akhir tiap pekan, minimal satu laki-laki dan satu perempuan digugurkan.

So You Think You Can Dance bukan satu-satunya reality show bertema tari. Ada beberapa yang lain, misalnya Dancing with the Stars. Tapi, So You Think You Can Dance punya ciri khas yang nyaris tak pernah menampilkan selebriti. Lythgoe bersama Fuller berhasil mengarahkan penonton untuk memandang para kandidat sebagai bintang-bintangnya.

Kita jadi saksi perjalanan karir mereka, dari penari amatir ke profesional.
Kita jadi saksi perjalanan karier mereka, dari penari amatir ke profesional.

Ada satu perbedaan besar antara ajang pencarian bakat menyanyi dan ajang pencarian bakat menyanyi. Acara macam American Idol—atau The Voice—bagian paling menariknya adalah di awal. Ketika para peserta masih tampil dengan kemampuan belum terasah, acara terasa begitu unik. Tapi, begitu peserta yang tersisa sudah cukup terasah, penampilan mereka jadi seperti penyanyi profesional, yang bisa dibilang tak lagi terlalu istimewa. Di mana-mana penyanyi terkenal ya seperti itu.

Sedangkan So You Think You Can Dance sedari awal tentu menarik. Para amatir memberanikan diri menunjukkan bakat mentah mereka. Penonton akan disuguhi emosi mereka yang sangat manusiawi. Dan ketika mereka bertambah mahir dalam babak-babak selanjutnya, acara tak kalah asyiknya ditonton. Acara nyanyi ada di mana-mana, sementara acara menari yang indah adalah pemandangan yang langka.

Para penonton bukan saja dijamu dengan aneka tarian indah. Acara So You Think You Can Dance juga banyak memperkaya wawasan penonton tentang dunia tari. Kita akan tahu apa beda antara genre classical dengan ballroom, misalnya. Penilaian serta petunjuk dari para juri kepada para kandidat sangat akurat, membuat mereka mampu tampil lebih baik lagi.

Pertunjukannya cukup lengkap. Selain tari-tarian berpasangan, ada penampilan solo—yang mereka bawakan penuh kesungguhan agar tak tereliminasi. Ada juga penampilan ramai-ramai para kandidat, dengan koreografi dari para juri. Dan tak lupa, sesekali para juri unjuk gigi. Mereka buka mata semua orang, kenapa mereka layak jadi juri acara sekelas itu. Sementara pembawa acara Cat Deeley dengan logat British-nya jadi daya tarik tersendiri.

Oh ya, satu lagi.. Dalam So You Think You Can Dance tak ada drama bodoh sebagaimana ditampilkan dalam reality show lainnya. Tak ada kandidat yang saling benci. Mereka sadar bahwa tiap pekan pasangan akan diacak ulang. Jika sampai berpasangan dengan orang yang dibenci, chemistry takkan terbangun dan penampilan bakal jadi buruk. Itulah sebabnya di sepanjang musim, para kandidat justru membangun sikap bersahabat dengan semua kompetitornya. Indah sekali…

Tahun lalu, So You Think You Can Dance memasuki musim ke-12. Lythgoe dan para juri bekerja keras untuk menyajikan musim terbaik, karena merupakan peringatan sepuluh tahun acara tersebut. Penyanyi Paula Abdul—yang lebih dikenal dengan kemampuan menarinya—jadi juri tetap. Kali ini, lebih banyak tarian solo, serta eliminasi tak lagi menjaga kesamaan jumlah kandidat laki-laki dan perempuan. Menjelang akhir, lebih banyak penari perempuan yang bertahan ketimbang yang laki-laki.

Generasi baru nan penuh harapan.
Generasi baru nan penuh harapan.

Karena 12 musim terdahulu berjalan sukses, beban menjaga reputasi acara ini jadi sangat berat pada musim ke-13. Lythgoe pun mengubah drastis konsepnya, yaitu jadi So You Think You Can Dance: the Next Generation. Pesertanya bukan lagi orang-orang muda yang matang, melainkan anak-anak usia 8 hingga 13 tahun. Satu juri istimewa ditambahkan, yaitu bocah 13 tahun bernama Maddie Ziegler. Bukan pilihan sembarangan, karena ia memenangkan acara Dancing Moms pada usia 8 tahun. Ia juga jadi bintang sejumlah video klip musik yang sangat artistik dari penyanyi Sia, misalnya Chandelier.

Musim ke-13 masih berlangsung hingga sekarang. Biasanya, acara ini bisa dinikmati penonton Indonesia lewat saluran AXN di TV kabel. Tapi, yang baru kenal So You Think You Can Dance bisa mencari koleksi DVD berisi musim-musim terdahulu. (*)

https://youtu.be/6HWepao8Wys

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here