Popularitas Milla Jovovich dalam berbagai filmnya cukup diakui, sehingga ia dipercaya memegang peran utama Alice dalam keenam seri film Resident Evil. Aktris kelahiran Ukraina 41 tahun yang lalu ini berharap bahwa industri Hollywood di masa depan lebih membuka kesempatan bagi para aktris untuk jadi peran utama. Milla Jovovich anggap bahwa–walaupun kondisi saat ini sudah lebih bagus dibandingkan masa lalu–masih butuh waktu bagi para aktris Hollywood untuk dapat diterima seperti para aktor.

Ditanya apakah kesempatan bagi para aktris Hollywood saat ini lebih terbuka dibandingkan dengan ketika ia baru meniti karir, Jovovich menjawab,

“There are in some ways, and there aren’t in other ways. These days, women definitely have more of a shot. You can send in a resume and call yourself Michael, and then list the same credits and accomplishments and call yourself Michelle, and Michael is probably going to get the job, and be paid more for the same amount of work. That’s just the reality.”

Baca juga: Emma Watson Menolak Selfie Dengan Penggemar, Ada Apa Gerangan?

Wajar jika Milla Jovovich kuatir masa depan kaum perempuan dalam industri Hollywood, mengingat putrinya yang tertua, Ever, sepertinya berniat ikut jejaknya. Gadis cantik berusia sembilan tahun itu telah berperan sebagai super komputer bernama Red Queen dalam Resident Evil: the Final Chapter. Dalam film tersebut, Ever mampu bermain sebagai sebuah komputer dengan logat British secara luar biasa.

Kepada majalah Prestige Hong Kong, Milla Jovovich mengatakan Ever sangat ingin menjadi aktris. Ia bahkan telah berakting semenjak berumur lima tahun. Dalam usia enam tahun, Jovovich memasukkan putrinya tersebut ke ekolah akting. Ever sangat suka mengikuti beragam audisi dan merasakan berbagai pengalaman baru. Jovovich mengakui bahwa putrinya itu sangat berbakat.

‘It was amazing watching Ever work because she loves acting, she takes it so seriously and she’s exceptional.’

Kesenjangan antara laki-laki dan perempuan dalam pekerjaan apapun bukanlah hal baru, bahkan dalam industri seperti Hollywood. Echa setuju jika kesenjangan tersebut perlahan-lahan dihapuskan. Apalagi, semakin hari semakin banyak perempuan yang berkualitas dalam pekerjaannya, baik sebagai aktris, ataupun dalam bidang lain.

Baca juga: Emma Watson, Feminisme dan Sesi Fotonya