Dua minggu lalu, sosok Ardani Persada Subagio tidak lagi berada di kantor. Ia mengalami batuk yang tak kunjung berhenti. Kemudian diputuskan ia diberi izin istirahat dari kegiatan kantor hingga keadaannya membaik.

Rencananya, ia kembali ke redaksi Tabloid Nyata pada Juli. Tapi, ia justru dipanggil kembali oleh Yang Maha Kuasa pada hari ini, Jumat, 30 Juni 2017. Penyebabnya adalah radang pada selaput otaknya.

Nama laki-laki yang lahir pada 1988 ini tidak asing di telinga penggemar fantasi lokal. Ardani Persada adalah nama yang ia gunakan pada dua novel fantasinya, yaitu Sang Penantang Takdir dan Ratu Seribu Tahun, yang dirilis beberapa tahun silam.

Dani–panggilan akrab Ardani–sempat memiliki berat badan yang berlebih. Ia memutuskan untuk mengubah pola hidupnya agar lebih sehat. Ia pun belajar kung fu. Melalui akun Instagram miliknya, @ardanisubagio, Dani menuliskan perjalanannya menemukan zen di dalam pikiran dan badannya melalui kung fu.

Ketika Dani bergabung dengan tim online Tabloid Nyata pada 2016, ia sudah berubah cukup banyak berkat latihan kung fu-nya. Tak banyak bicara, ia termasuk kontributor yang sangat rajin datang ke kantor. Begitulah sosok Dani yang kami kenal. Bila diajak berbicara tentang hal yang ia senangi, ia antusias memberi tanggapan.  Ia juga menyukai makanan, serta kerap memuji koki yang membawa makanan untuk kami.

Dani pun sosok satu-satunya yang bisa saya ajak berbicara soal serial idola favorit kami berdua, yaitu THE iDOLM@STER. “Selera yang bagus,” ungkap saya saat itu kepada Dani yang duduk di sebelah.

Foto terakhir bersama — Dani (baju merah dengan jaket coklat) berpose bersama teman-temannya saat makan malam pada awal bulan Juni 2017.

Namun, sosok antusias tersebut menghilang seiring waktu. Beberapa bulan setelah mulai berkenalan dengan Dani, saya mulai kerap melihatnya tampak sakit. Ia selalu datang dengan batuk yang melanda, yang tak kunjung usai. Ia juga tampak susah berkonsentrasi, sering terlihat menggigit tutup bolpoin, dengan alasan agar ia bisa fokus dalam bekerja.

Kondisi yang cukup parah adalah ketika Dani mual dan muntah, saat tim online makan bersama di salah satu restoran all you can eat di Surabaya. Tetapi, saat itu kami berpikir, “Mungkin karena kebanyakan makan.”

Meski didera batuk tanpa henti dan susah berkonsentrasi, Dani tetap tak kenal lelah untuk datang ke kantor setiap hari kerja. Saat ditanya apakah sudah ke dokter, ia hanya menjawab bahwa dirinya tidak batuk saat berada di dalam rumah. Beberapa dari kami menganggap mungkin ia alergi terhadap sesuatu yang ada di dalam ruangan. Tetapi saat pindah ruangan pun, ia tak kunjung sembuh.

Karena batuk berkelanjutan tersebut, salah satu anggota tim online membawa Dani mengunjungi dokter yang kebetulan berada di kantor pada pertengahan Juni 2017. Dari dokter tersebut, kami dapat informasi bahwa ia mungkin menderita sesuatu yang cukup berat. Kami belum mengetahui secara pasti, karena hasil tes belum selesai.

Kami tadinya berpikir penyakitnya ada di dalam paru-paru atau tenggorokan, karena gejala yang terlihat adalah batuk. Tetapi ternyata, kami justru kehilangan Dani karena masalah yang jauh lebih serius dan tak pernah kami lihat sebelumnya, yaitu radang otak.

Sosok Dani memang tak pernah menunjukkan rasa sakit, kecuali batuk. Kami semua jadi tak tahu bahwa ia menderita penyakit yang sangat serius. Ia mungkin sudah mengalami kesakitan yang luar biasa, tapi tak pernah memperlihatkan hal itu kepada kami.

Kakak Dani, Ardi Pratomo, mengumumkan kematian adiknya tercinta melalui Instagram dan Facebook miliknya. Kabar ini sontak membuat kami kebingungan. Mayoritas dari kami masih berada dalam suasana libur lebaran.

Kepergian Dani membuat kami sadar bahwa ada begitu banyak hal yang tak bisa dilihat oleh manusia. Begitu banyak hal yang membuat kami terlalu cepat mengambil kesimpulan atas sesuatu, namun sebenarnya kami tidak mengetahui apapun.

Selamat jalan, Dani. Semoga amal dan ibadahmu diterima di sisi-Nya. Sosokmu akan selalu kami kenang. Semangatmu menjadi teladan bagi kami untuk terus berjuang, meski rasa sakit terus melanda.

So long, our friend, thank you for everything…