Mahasiswi di Tiongkok Meninggal Dalam Kondisi Hamil, Diduga Salah Diagnosis

Ilustrasi mahasiswi di Tiongkok meninggal dalam kondisi hamil. (Foto: Istimewa)
Ilustrasi mahasiswi di Tiongkok meninggal dalam kondisi hamil. (Foto: Istimewa)

Peristiwa memilukan dialami seorang mahasiswi asal Tiongkok. Lili, nama samarannya, meninggal dunia usai didiagnosis mengidap penyakit ginjal.

Mahasiswi Tiongkok berusia 23 ini juga disebut sedang hamil tujuh bulan. Sayang, bayinya itu juga turut meninggal saat masih dalam kandungan.

Penyakit Lili terungkap saat mahasiswi asal Dengzhou, Nanyang, di provinsi Henan, Tiongkok Tengah ini sedang pulang kampung untuk berkumpul dengan orang tuanya saat Tahun Baru Imlek. 

Ibu dan ayahnya memperhatikan bahwa tubuh Lili tampak lebih gemuk dari biasanya. Di mana berat badan Lili bertambah dan mengalami sesak napas saat melakukan tugas sehari-hari.

| Baca Juga: Rumah Kontrakan Diubah Jadi Ladang Ganja, Satu Keluarga Kaget

Saat itulah diketahui Lili menderita penyakit ginjal usai dibawa ke Rumah Sakit Rakyat Dengzhou saat mengeluh sakit perut.

Dia pun menerima perawatan ekstensif, termasuk terapi hormon dan pengobatan untuk mengobati infeksi. Namun, kondisinya memburuk karena mengalami kesulitan bernapas dan kehilangan kesadaran. Lantas, dia pun dipindahkan ke Rumah Sakit Rakyat Nanyang First pada tanggal 11 Februari.

Di sana, keluarganya terkejut. Lili ditemukan hamil tujuh bulan dan bayinya tidak lagi hidup saat masih berada dalam kandungan.

“Perut pasien membengkak, menyerupai kehamilan lanjut, dan hasil USG menunjukkan adanya kehamilan,” demikian tertulis dalam rekam medisnya.

Namun, pihak keluarga menyangkal kehamilan tersebut. Lili dinyatakan hamil dengan komplikasi penyakit jantung dan kematian janin intrauterin pada minggu ke-31.

| Baca Juga: Bayi Umur 7 Bulan Tewas Digigit Anjing Peliharaan Ras Malinois

Dia segera dipindahkan ke Rumah Sakit Pusat Nanyang, di mana operasi caesar darurat dilakukan untuk mengeluarkan janinnya.

Dia tetap koma setelah operasi dan meninggal pada tanggal 20 Februari. Namun, sang ayah, Pang, menuduh kematian anaknya karena kesalahan diagnosis awal dan perawatan yang tidak tepat di Rumah Sakit Rakyat Dengzhou.

“Putri saya salah didiagnosis menderita penyakit ginjal dan diobati dengan terapi hormon dalam jumlah besar. Meskipun dia menyembunyikan kehamilannya, bukankah seharusnya rumah sakit dapat mendeteksinya?” kata Pang.

Pang lantas meminta evaluasi terkait adanya malpraktik medis di Rumah Sakit tersebut. Namun terhenti karena penolakan rumah sakit untuk menyerahkan dokumen yang diperlukan.

| Baca Juga: Inspiratif, Kisah Virginia Hislop Raih Gelar Master di Usia 105 Tahun

Pada tanggal 1 Juni, Komisi Kesehatan Dengzhou merilis hasil penyelidikan mereka, yang menyalahkan pihak rumah sakit dan keluarga.

“Insiden tersebut awalnya diyakini sebagai kecelakaan medis yang disebabkan oleh kegagalan pasien untuk mengungkapkan kondisinya secara jujur dan kesalahan diagnosis staf medis,” demikian bunyi pengumuman.

“Departemen Inspeksi Disiplin, Keamanan Publik, dan Kesehatan Dengzhou sedang melakukan penyelidikan lebih lanjut atas insiden tersebut untuk meminta pertanggungjawaban petugas secara hukum,” katanya.

Peristiwa ini pun memicu pro kontra di tengah publik. Banyak yang menyalahkan rumah sakit. Sementara yang lain mengkritik budaya tabu mengenai kehamilan sebelum menikah, yang menyatakan bahwa ketidakjujuran Lili dengan tujuan agar tak mempermalukan keluarga yang justru telah membahayakan hidupnya.

Apakah menyangkal kehamilan lebih penting daripada nyawanya?” kata salah seorang.

Ini tidak masuk akal. Bagaimana kehamilan tujuh bulan bisa disalahartikan sebagai penyakit ginjal? Atau apakah dia sebenarnya sakit selama kehamilan dan menyembunyikannya sehingga menyebabkan kesalahan diagnosis? Baik pasien maupun dokternya bingung, lalu di mana ayah anak tersebut?” kata yang lain.

Saya belajar kedokteran. Selain pernyataan pasien, tes dasar seperti HCG darah dan urine sangat penting. Secara klinis, beberapa wanita yang kurang pengalaman tidak menyadari bahwa mereka hamil,” ujar yang lain. 

Dokter harus selalu mempertimbangkan faktor ginekologi dalam kasus sakit perut. Ini yang diajarkan kepada kami di sekolah,” tulis seorang pengamat. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here