Tanggapan KPAI atas Kasus Kematian Afif Maulana Akibat Kekerasan Polisi

Ilustrasi Kekerasan Anak (Foto : Gettyimages)
Ilustrasi Kekerasan Anak (Foto : Gettyimages)

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), telah menemui orang tua Afif Maulana, pelajar berusia 13 tahun yang tewas akibat dugaan kekerasan yang dilakukan oleh oknum anggota Polda Sabhara Sumatra Barat.

Afif Maulana tewas setelah diamankan bersama belasan remaja yang diduga hendak melakukan tawuran di Kuranji, Padang, Sumatra Barat.

Tidak hanya menemui orang tua Afif, KPAI juga menemui sejumlah anak yang mengaku mendapat kekerasan dari oknum anggota kepolisian tersebut. 

| Baca Juga : Fakta Pelajar Tewas di Padang, Kompolnas Akui Ada Penganiayaan

“Beberapa ada yang mengalami kekerasaan seperti dipukul, disundut rokok, disetrum, disuruh guling-guling, dan lain-lain,” kata Komisioner KPAI Dian Sasmita dalam keterangan tertulis, Sabtu (29/6).

KPAI juga telah melakukan rapat koordinasi daerah (rakorda) bersama dengan Pemerintah Kota Padang dan Provinsi Sumbar terkait situasi kerawanan anak. Di sana, KPAI berharap bahwa pemerintah daerah dapat mengambil peran yang lebih luas serta intensif menyasar keluarga-keluarga rentan dan satuan pendidikan

“Salah satunya dengan memastikan bahwa setiap anak memiliki hak atas pendidikan, tanpa diskriminasi. Upaya ini menjadi bagian dari mitigasi risiko agar anak-anak tidak mengalami tindak kekerasaan,” ujar Dian.

Di samping itu, KPAI bersama dengan Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas), Ombudsman Sumbar, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA), dan Komnas HAM Sumbar telah melakukan koordinasi dengan Kapolda Sumbar Irjen Suharyono. Koordinasi tersebut menitik beratkan pada penanganan kasus Afif Maulana dan kekerasaan terhadap anak-anak lainnya.

| Baca Juga: Rumah Wartawan di Karo Dibakar, Empat Orang Ditemukan Tewas

“Kami mengapresiasi upaya Kapolda yang telah menetapkan 17 personel yang harus bertanggung jawab terhadap kasus tersebut. KPAI berharap dapat digunakan UU Perlindungan Anak untuk menjerat pelaku kekerasaan terhadap anak,” pungkas Dian.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Ketua Harian Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas), Benny Mamoto menyebut 18 remaja terduga pelaku tawuran yang diamankan di Mapolsek Kuranji, ternyata mendapatkan tindakan kekerasan atau penganiayaan yang diduga dilakukan oleh oknum kepolisian.

Parahnya, tindakan penganiayaan itu mengakibatkan salah seorang di antara 18 pelajar yang diamankan di Mapolsek Kuranji, Padang, tewas. Dia adalah Afif Maulana.

Benny pun menyampaikan ada 17 anggota Direktorat Samapta Polda Sumatera Barat yang diduga melanggar kode etik. Dia bahkan mengakui ada oknum kepolisian yang menyulut rokok, memukul, hingga menendang dalam peristiwa tragis tersebut.

“Dengan adanya tindakan pelanggaran kode etik ini, nantinya akan ada tahapan dalam penanganan yang dilakukan Bidang Propam kepada oknum anggota yang terlibat. Sampai dengan nanti pemberkasan dan maju sidang kode etik,” kata Benny. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here