Perokok Vape Meningkat, Amankah dari Risiko Kanker Paru-Paru?

Ilustrasi perokok vape lebih berisiko terkena kanker paru-paru. (Foto: Freepik)
Ilustrasi perokok vape lebih berisiko terkena kanker paru-paru. (Foto: Freepik)

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) beberapa waktu lalu mengungkapkan data terbaru terkait perokok di Indonesia. Angka perokok anak di bawah usia 19 tahun menunjukkan tren penurunan.

Data  tersebut berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2020 dan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. “Riskesdas 2018, perokok anak di angka 9,1 persen, tapi di SKI 2023 itu 7,3 persen, jadi turun,” ujar Benget Saragih, Ketua Tim Kerja Pengendalian Penyakit Akibat Tembakau Kemenkes RI.

Namun, di balik penurunan perokok anak, terdapat fakta yang mengkhawatirkan. Kemenkes mencatat adanya peningkatan signifikan pada jumlah perokok elektrik (vape).

| Baca Juga: Perempuan Pengguna Vape Lebih Susah Hamil

Angka tersebut naik sebesar 10 kali lipat dibandingkan dengan Riskesdas 2018. “Rokok elektroniknya meningkat 10 kali lipat. Jadi perokok beralih dari konvensional ke vape. Ini yang jadi masalah,” lanjut Benget.

Peningkatan ini menjadi perhatian serius bagi Kemenkes. Hal ini dikarenakan mengingat potensi bahaya rokok elektrik bagi kesehatan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa rokok elektrik diklaim lebih aman daripada rokok konvensional.

Meski begitu, tetap saja mengandung bahan kimia berbahaya. Bahan kimia tersebut disinyalir dapat meningkatkan risiko kanker paru-paru.

Di sisi lain, penelitian terbaru dari Korea Selatan menunjukkan hasil yang mencengangkan. Dikatakan bahwa mantan perokok yang beralih ke vape memiliki risiko lebih besar terkena kanker paru-paru dan kematian. Hal tersebut dibandingkan dengan mantan perokok yang telah berhenti dan menghindari rokok elektrik.

| Baca Juga: Profil Bro Jabro, Selebgram Malang yang Meninggal Karena Vape

“Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa ketika menerapkan upaya berhenti merokok untuk mengurangi risiko kanker paru-paru, potensi bahaya penggunaan rokok elektrik sebagai alternatif untuk merokok harus dipertimbangkan lagi,” kata Yeon Wook Kim, pemimpin penelitian di Rumah Sakit Bundang Universitas Nasional Seoul.

Meskipun belum ada bukti definitif bahwa vaping secara langsung menyebabkan kanker, para ahli kesehatan menyarankan untuk berhati-hati. Dengan kata lain menghindari penggunaan rokok elektrik, terutama bagi anak-anak dan wanita hamil.

“Ilmu pengetahuan juga belum dapat menyimpulkan apakah vaping lebih berbahaya bagi beberapa orang daripada yang lain, misalnya pada wanita hamil atau anak-anak,” kata Ashley Merianos, seorang profesor di University of Cincinnati.

Kemenkes mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kesadaran akan bahaya rokok. Dalam hal ini baik bersifat konvensional maupun elektrik. Kemudian mendorong gaya hidup sehat untuk mencegah terjerumus ke dalam kebiasaan merokok. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here