Kukuh Prasetya Cerita Kisah Sedih Dibalik Mendung Tanpo Udan

Foto: Nyata/Agnes

L agu Mendung Tanpo Udan pernah begitu populer di tahun 2022 silam. Di Tiktok, lagu ini di cover menjadi musik dangdut koplo hingga viral, dance yang menggunakan lagu tersebut menjadi musik latar. Bahkan grub terkenal asal Korea Selatan, NCT pernah joget diiringi lagu Mendung Tanpo Udan.

Lagu ciptaan Kukuh Prasetya Kudamai ini populer, setelah dibawakan Ndarboy Genk dan sejumlah penyanyi lain, seperti Denny Caknan. Kepopuleran lagu ini, akhirnya membuat  Nant Entertainment mengangkat kisah dan judul lagunya ke layar lebar, dengan Kris Budiman sebagai sutradaranya.  Selain dua bintang utamanya, Erick Estrada dan Yunita Siregar, Marcell Darwin, Tommy Limm, Kery Astina, dan Aulia Deas​​​​​​​ juga berperan dalam film tersebut.

| Baca Juga: Deva Mahenra Sebut Ipar Adalah Maut Adalah Drama Terberatnya

Kisah di film Mendung Tanpo Udan memang terinspirasi dari lagunya. Dimana ada sepasang kekasih yang awalnya berjanji untuk selalu bersama, namun akhirnya harus berpisah karena perbedaan prinsip dan hadirnya orang ketiga.

Kukuh Prasetya mengungkapkan cerita dibalik lagu ciptaannya itu. Menurutnya kisah yang terjadi dengan Mendung dan Udan, sering terjadi di kalangan mahasiwa yang kuliah di Yogjakarta. Dimana saat kuliah mereka memang menjalin cinta, tapi begitu lulus kuliah banyak yang akhirnya ‘bubaran’ alias memilih putus.

“Jadi cerita itu ada teman kongkow anak jurusan teater, yang suatu malam kita nongkrong bareng. Dia nungguin pacarnya anak jurusan tari. Setelah lulus dia bilang mau ninggalin Yogja, kembali ke daerah asalnya. Disana ia ingin membuat sanggar kecil-kecilan buat ngajarin anak-anak teater. Terus istrinya nanti ngajarin nari,” cerita Kukuh Prasetya di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, belum lama ini.

| Baca Juga: Christine Hakim Dapat Pembelajaran Hidup Lewat Film Sara

“Yang penting bisa aktivitas sama istriku. Aku ngeliat istriku pakai daster, aku pakai sarung minum teh gitu kan asik. Tapi ternyata setelah lulus mereka putus. Ini tuh kayak mitos mahasiswa ISI (Insitut Seni Indonesia) kalau lulus pasti putus,” sambungnya.

Ucapan temannya itu, lantas menjadi lirik di lagu Mendung Tanpo Udan. “…Awakdewe tau duwe bayangan, besok yen wis wayah omah-omahan, aku moco koran sarungan, kowe belonjo dasteran…”  Kisah itu oleh Kukuh Prasetya jadi inspirasi untuk lagu ini, yang dibuatnya di Jakarta saat pandemi Covid-19.

“Jadi lagu itu hasil flashback aku saat masih kuliah. Waktu pandemi itu kan aku engga kerja, banyakan di rumah. Di tempat tinggalku waktu itu di Jakarta Barat aku sering ngeliatin jemuran tetangga kos. Kalau hujan mereka engga ada, aku yang sering angkatin jemuran mereka. Pokoknya waktu itu hidupku nelongso,” kenang Kukuh Prasetya, yang alumnus ISI Yogjakarta ini. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here