Christine Hakim Dapat Pembelajaran Hidup Lewat Film Sara

Foto: Dok. Pri.

P laza Indonesia Film Festival tahun 2024 memutar perdana film Sara, yang pernah melanglang buana hingga Busan di Korea Selatan, di Jakarta. Sara juga menjadi nominasi terbaik dalam Festival Film Indonesia (FFI) pada 2023.

Sara adalah film yang bayangan ceritanya sudah ada sejak 2018. Film ini menceritakan kehidupan anak laki-laki yang pulang dari perantauan ke kampung, sebagai transpuan (perempuan transgender) bernama Sara (Asha Smara Darra), saat sang ayah telah meninggal dunia.

Di rumah, Sara hanya tinggal berdua bersama ibu kandungnya, Muryem (Christine Hakim) yang memorinya terguncang, setelah ditinggal mati suaminya. Muryem tidak dapat merasakan kehadiran putranya dalam wujud Sara. Situasi ini membuat Sara harus berjuang keras untuk mengurus ibunya yang sakit, termasuk memilih antara mempertahankan jati dirinya sebagai transpuan, atau kesehatan sang ibu.

| Baca Juga: Deva Mahenra Sebut Ipar Adalah Maut Adalah Drama Terberatnya

Christine Hakim berhasil memerankan sosok penderita demensia yang bisa mengekspresikan emosi dan kekecewaan mendalam.

“Saya baru pertamakali menerima satu karakter yang abu-abu. Karena saat saya bertanya dengan Basbeth, director dan penulis cerita, ‘ini ibunya Alzeimer?’ Dijawab, ‘nggak juga. Bisa dibilang alzeimer, bisa dibilang dia denial.’ Jadi abu-abu. Mainin karakter yang abu-abu kan susah,” ungkap Christine saat ditemui di Plaza Indonesia XXI, Jakarta pada Selasa (20/2).

Walaupun cukup sulit memainkan karakter tersebut, namun Christine berusaha semaksimal mungkin untuk melakukan yang terbaik.

“Saya bersyukur dan berterimakasih, dan saya percaya juga bahwa setiap keterlibatan saya dalam sebuah film, pasti ada pembelajaran hidup yang mau diberikan Tuhan pada saya. Apalagi dengan tema-tema yang sangat kontroversial seperti ini. Kita tahu mayoritas penduduk Indonesia adalah Muslim. Hingga dari segi agama ini pasti ditentang. Tapi ini adalah realita kehidupan yang memang harus dihadapi oleh semua pihak. Apalagi melakui film ini kita bisa banyak belajar dari orangtua, terutama seorang ibu, yang harus menghadapi kondisi seperti Sara dan keluarganya,” jelas wanita kelahiran Kuala Tungkal, Jambi, 25 Desember 1956 itu.

| Baca Juga: Film Sinden Gaib Ternyata Horornya Beneran Horror

Diakui Christine, sebelum terlibat di dalam film Sara ini, dirinya tidak tahu apa yang dirasakan seorang Ibu.

“Dari sinilah saya belajar, luar biasa, cinta ibu, is beyond your imagination. Karena anak yang dikandung selama 9 bulan, dilahirkan, katakanlah sebagai manusia ada denial-nya, tapi the end of the day itu tidak bisa dipungkiri. Itu yang saya rasakan saat memainkan peran sebagai ibu di film ini. Dan Kebetulan saya mengenal Asha Smara Darra dan Mama Regi sudah lama sekali,” ungkapnya.

Ismael Basbeth, sutradara film Sara, mengatakan alasan dirinya mantap mengusung isu transpuan, karena terinspirasi dari aktivis transpuan pendiri pesantren waria bernama Shinta Ratri. Dan jauh sebelum proses syuting dimulai, Ismael Basbeth sudah mengincar Christine Hakim untuk bermain dalam film ini. Karena Christine lah, Ismael mengenal Asha Smara Darra yang kemudian menjadi pemeran utama.

“Selama prosesnya, saya cerita tentang film ini pada Bu Christine dan minta beliau main karena ngefans. Meski belum baca ceritanya beliau mau. Lalu nama Asha datang karena rekomendasi Bu Christine,” tutur Ismael.

| Baca Juga: Robert Downey Jr. Singgung Fans Marvel dengan Pidatonya di BAFTA

Sementara produser film Sara, Lyza Anggraheni mengatakan film itu bertujuan membangkitkan rasa simpati dalam diri manusia, sehingga muncul sikap tolong-menolong antar sesama, tanpa membeda-bedakan golongan.

“Kita ini sama, ujian-ujian yang datang pada kita ini adalah ujian juga untuk yang ada di sekeliling kita. Jadi harapan kami dari film Sara ini adalah kita bisa sama-sama merasakan, dan supaya perbedaan tidak menjadi alasan untuk tidak saling tolong-menolong,” kata Lyza.

Tayang di Plaza Indonesia Film Festival (PIFF)

Charlie Meliala yang juga selaku produser dari film Sara, menyambut baik ditayangkannya film ini di PIFF 2024, “Partisipasi film kami dalam Plaza Indonesia Film Festival adalah sebuah kehormatan bagi kami. Kami percaya bahwa festival ini tidak hanya memberikan wadah bagi kami untuk memperluas jangkauan penonton, tetapi juga untuk memperkuat ikatan antara pembuat film dan penonton,” ujarnya.

Selain Sara, ada enam judul film lainnya yang juga tayang selama empat hari di Plaza Indonesia Film Festival (PIFF) 2024, mulai 20 hingga 23 Februari nanti. Tidak hanya karya sineas Indonesia saja, tapi juga dari Inggris, Tunisia, Finlandia, hingga Korea Selatan. Seperti film Woman From Rote Island, Ratu Adil, In Our Day (Korea Selatan), Four Daughters (Prancis), Fallen Leaves (Finlandia), dan The Zone of Interest yang meraih lima nominasi Piala Oscar 2024.

| Baca Juga: Djenar Maesa Ayu Sulit Pakai Mukena Saat Syuting Pemandi Jenazah

Soal pemilihan filmnya, Sugar, kurator film PIFF menjelaskan, ketujuh film tersebut dihadirkan untuk memberikan beragam pengalaman rasa cinta, yang belum pernah dirasakan sebelumnya. “Love itu sangat universal, ini adalah perpaduan banyak rasa cita,” katanya.

Selain menghadirkan film dengan isu sosial dan kisah yang sarat makna, gaya sinema yang ditampilkan pun jadi pertimbangan dalam menentukan film-film yang tayang di PIFF. “Meskipun sedikit, tapi penonton film-film ini tiba-tiba punya perasaan yang ‘penuh’ setelah menonton,” jelas Sugar. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here