Hati-Hati, Stress dan Kafein Bisa Ganggu Irama Jantung

dr. Alexandra Gabriella Sp.J.P FIHA menjelaskan gangguan irama jantung. (Foto: Dok. Pri)
dr. Alexandra Gabriella Sp.J.P FIHA menjelaskan gangguan irama jantung. (Foto: Dok. Pri)

Menurut dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, dr. Alexandra Gabriella Sp.J.P FIHA (Gaby), hormon yang tidak stabil karena stres, dapat mengganggu irama detak jantung.

Untuk diketahui, jantung yang normal memiliki degupan reguler atau teratur. “Pada kondisi aritmia (gangguan irama jantung), maka detak jantungnya tidak normal, dalam hal ini bisa pelan, bisa lebih cepat, atau bahkan tidak berdetak. Premature heart beats itu bagian dari aritmia. Terasa ada detak yang menghilang,” jelasnya.

Irama jantung yang sehat dan normal adalah 60-100 kali per menit. Apabila terasa lebih cepat dan ada detak tambahan yang tidak teratur, maka disarankan untuk melakukan pemeriksaan elektrokardiogram (EKG) atau memeriksa kelainan hormon pada tubuh.

“Detak jantung sedang istirahat normalnya 60-100 kali per menit, kalau cepat pada saat istirahat harus periksa hormon tiroid, atau lagi diam tapi detak jantung 97 berarti ada sesuatu dengan jantungnya,” ujar Gaby.

| Baca Juga: Diet Air Putih Turunkan Berat Badan Drastis, Waspadai Risikonya!

Gejala aritmia yang mungkin dirasakan penderita mencakup detak jantung yang tidak teratur, sesak napas, pusing, lemas, dan sensasi tidak nyaman di dada atau pingsan.

Gaby mengatakan, tidak selamanya pingsan itu berbahaya. “Misalnya pingsan karena kekurangan cairan atau saat cuaca panas. Pingsan yang tidak bahaya biasanya terjadi saat berdiri, ada gejala awal yang jelas, atau dicetuskan rangsangan spesifik misalnya takut jarum, pas mau disuntik jadi pingsan,” ujarnya.

Pingsan yang berbahaya adalah terkait kelainan jantung. “Pingsan yang bahaya terjadi saat aktivitas, dengan posisi pingsan telentang, dengan tanda awal tidak jelas. Juga memiliki riwayat sakit jantung atau meninggal mendadak pada keluarga. Ini yang harus diwaspadai,” tutur Gaby.

Selain stres, kata dokter lulusan Universitan Indonesia ini, kafein juga dapat mengakibatkan irama jantung menjadi tidak normal. karena di dalam kafein ada zat simpatomimetik yang memicu tekanan darah menjadi naik, detak jantung bertambah menjadi cepat.

| Baca Juga: Waspada Silent Stroke, Kenali Penyakit yang Datang Mendadak

Kafein itu membawa agen simpatomimetik, artinya dia memang sebenarnya ditemukan zat untuk memicu saraf simpatis yang memicu tubuh kita tensi tinggi, detak bertambah jadi cepat,” kata dokter yang praktik di RS Pondok Indah Bintaro Jaya itu.

Untuk itu, ia menyarankan agar pasien dengan riwayat darah tinggi dan dengan gangguan irama jantung atau aritmia, sebaiknya menghindari konsumsi kafein terlalu sering. Jika tidak memiliki riwayat masalah aritmia, Gaby menyarankan mengonsumsi kafein secukupnya dan untuk menghilangkan kantuk saja.

Jangan Lakukan Pijatan Di Leher

Gaby menggarisbawahi pentingnya pencegahan bagi mereka yang menderita gangguan irama jantung atau aritmia. Satu hal yang perlu diingat, penyandang aritmia sebaiknya tidak melakukan pijatan pada bagian leher. Alasannya, di bagian leher terdapat saraf penting, nervus vagus, yang berperan dalam mengatur irama jantung dan tekanan darah.

Gaby menjelaskan bahwa pijatan pada leher bisa menekan saraf tersebut, menyebabkan detak jantung semakin rendah, dan memicu efek samping seperti penurunan tekanan darah yang signifikan. “Bisa menyebabkan pandangan yang kabur, dan bahkan pingsan,” katanya.

| Baca Juga: Kenali Tahi Lalat yang Bisa Jadi Tanda Penyakit Kanker

Selain itu, prosedur pijatan di leher juga berisiko membawa pengapuran dan plak yang terbawa melalui aliran darah ke otak, meningkatkan risiko stroke pada penderita.

Selain menghindari pijatan leher, penderita aritmia juga disarankan mengurangi tekanan saat mengejan atau aktivitas olahraga yang terlalu berat atau kompetitif. Olahraga yang disarankan tidak bersifat kompetitif, seperti bersepeda, berjalan kaki atau jogging, dan berenang.

“ Olahraga-olahraga tersebut disarankan untuk semua pasien dengan gangguan jantung, seminggu tiga kali sampai lima kali, dengan durasi olahraga 30 menit resep latihannya dari treadmill test,” katanya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here