Kisah Masitoh, Tega Bakar Suami Karena Tak Diberi Nafkah Batin

Ilustrasi kisah Masitoh tega bakar suami. (Foto: Freepik)
Ilustrasi kisah Masitoh tega bakar suami. (Foto: Freepik)

Peristiwa tragis dialami sepasang suami istri di  Perumahan Wilis Indah II, Kediri. Siti Masitoh merekayasa pembunuhan suami, Marno, dengan bakar tubuhnya pada Rabu, 2 Oktober 2002.

Masitoh tega melakukan itu karena Marno sudah tak pernah memberi nafkah batin lagi. Sakit hati semakin menjadi-jadi karena saat tidur suaminya juga kerap membelakanginya. Marno juga disebut senang menyendiri dan tak mau lagi berkumpul dengan anak-anaknya.

Saat merekayasa peristiwa bakar suami itu, Masitoh yang berusia 30 tahun ini awalnya menyebut kebakaran tersebut akibat korsleting listrik. Masitoh mengungkapkan saat itu suaminya ada di dalam rumah terjebak.

Masitoh berpura-pura histeris di depan rumahnya yang tengah dilalap si jago merah. Warga yang berdatangan lalu mencoba membantu memadamkan dengan alat seadanya di rumah Jalan H nomor 1 itu.

| Baca Juga: Tragis! Polwan Bakar Suami yang Juga Polisi di Mojokerto, Ini Kronologinya

Baru saja api bisa dipadamkan, warga dikejutkan dengan sosok mayat laki-laki yang telah gosong. Belakangan diketahui mayat tersebut adalah Marno, suami Masitoh.

Kasus kebakaran yang menewaskan Marno ini lantas dilaporkan ke polisi. Polisi yang datang kemudian melakukan olah TKP dan penyelidikan.

Penyelidikan dipimpin langsung oleh Kapolres Kediri Kota saat itu, Kompol Tomsi Tohir. Sejumlah saksi yang mengetahui peristiwa kebakaran tersebut kemudian diperiksa. Tak terkecuali Masitoh.

Penemukan fakta lain bahwa sumber api berasal dari tubuh Marno. Bukan dari arus pendek listrik yang disebut Masitoh.

Dugaan Marno tewas dibakar istrinya pun terkuak. Masitoh selanjutnya diamankan ke Mapolres Kediri Kota. Di sana ia diperiksa secara intensif.

Di hadapan penyidik, Masitoh lalu mengakui telah menghabisi dan membakar suaminya. Masitoh menjelaskan, sebelum membakar, ia terlebih dahulu menghabisi suaminya dengan sebuah parang.

Marno dan Masitoh diketahui telah membina rumah tangga selama 17 tahun. Dari pernikahan itu, keduanya dikarunia dua anak, yakni laki-laki yang saat itu berusia 16 tahun dan 9 tahun.

Masitoh mengaku menyesal dengan perbuatan yang dilakukan. Namun nasi sudah jadi bubur. Polisi lalu menetapkan Masitoh sebagai tersangka dan mengenakan Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana. (*) 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here