Klarifikasi BPOM Soal Video Nata De Coco Mengandung Plastik

0
38
nata-de-coco-plastik
GAPPMI menggelar diskusi media saoal kebaikan nata de coco. Foto: Istimewa

Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (GAPMMI). mengapresiasi langkah BPOM RI dan Kemenkominfo RI. karena cepat tanggap dalam mengklarifikasi video hoax. Klip tersebut menyebutkan bahwa produk nata de coco terbuat dari plastik.

BPOM RI telah mengklarifikasi video nata de coco mengandung plastik melalui siaran pers pada 7 Desember 2019. Kementerian Kominfo juga menyatakan sebagai disinformasi pada 24 November 2019 kepada masyarakat, bahwa informasi yang beredar itu tidak benar.

“Kami melihat video hoax yang beredar itu dibuat oleh masyarakat dari berbagai kalangan. Dari situ kami melihat pentingnya kita bersama-sama meningkatkan edukasi, menyampaikan berita yang benar, mengklarifikasi, supaya masyarakat paham dan tidak menyebarkan berita hoax,” ungkap Ketua Komite Regulasi Teknis Pangan, Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (GAPMMI), Susana, dalam pernyataan resminya, Senin (16/12).

Melihat banyaknya kalangan yang menyebarkan video hoax tersebut, Susana menyatakan pentingnya masyarakat diedukasi lebih besar lagi.

“Kami juga mengharapkan pemerintah menindak mereka yang menyebarkan hoax, supaya masyarakat kita lebih teredukasi dan tidak cemas dengan berbagai hoax,” imbuhnya.

Baca juga: 2 Cara Ampuh Atasi Gangguan Serangan Panik Ala Marshanda

GAPMMI pun menggelar diskusi media di Jakarta, Senin (16/12), dengan menghadirkan Direktur Pengawasan Pangan Olahan Resiko Rendah dan Sedang BPOM RI, Ema Setyawati S.Si, Apt.ME; Ahli Gizi di RSU Tangerang Selatan, dr. Dian Permatasari, M.Gizi, SpGK; serta Ahli Teknologi Pangan dari IPB, Dr Ing Azis Boing Sitanggang, STP, MSc.

Direktur Pengawasan Pangan Olahan Resiko Rendah dan Sedang BPOM RI, Ema Setyawati S.Si, Apt.ME, mengatakan bahwa Badan POM mengajak semua pihak untuk bekerja sama untuk mengedukasi masyarakat. Juga untuk menjadi mitra pelaku usaha meningkatkan mutu produksinya.

“Mitra itu bukan hanya berdekatan tapi juga bisa menjadi pengontrol bagi pelaku usaha untuk dapat meningkatkan mutu produksi, dan keamanan produksinya,” ujarnya.

Ema juga menegaskan bahwa produk nata de coco itu aman, sepanjang sesuai persyaratan dan standar.

“Dan badan POM menjamin persyaratan dan standar itu diterapkan pada saat proses produksi sampai dengan dikonsumsi masyarakat,” tegasnya.

Menurut Ema, nata de coco masuk dalam kategori pangan, yang semua bahannya berbasis buah. Nata de coco asalnya dari kelapa. Nata de coco adalah makanan berupa gel selulosa hasil fermentasi air kelapa oleh bakteri asam cuka (acetobacter xylium).

“Kalau kita lihat, nata de coco serat kasarnya 2,75 persen. Ada juga protein, lemak. dan airnya besar sekali, 95 persen,” kata Ema.

Baca juga: Deretan Seleb yang Hobi Olahraga Pilates Saat Hamil

Ema mengatakan bahwa pengawasan secara menyeluruh tidak hanya dilakukan oleh pemerintah. Tapi ada akademisi, pelaku usaha, konsumen dan media.

Ema menambahkan, BPOM menetapkan tiga jenis standar, yaitu kelompok standar bahan baku, proses produksi, dan bahan jadinya. Produk yang sesuai standar adalah yang benar, aman, dapat dikonsumsi.

“Kami lakukan standar ini sebagai dasar evaluasi pengawasan pre-market. Data dukung yang kami minta kepada pelaku usaha itu cukup banyak, karena kami berhadapan dengan resiko terhadap produk, kami berhadapan dengan masyarakat yang harus kami lindungi. Ada asimetri informasi, ada unbalance knowledge antar masyarakat dan pelaku usaha. Karena itu dilakukan penilaian pre-market itu,” paparnya.

Kalau semua sudah sesuai dengan berbagai standar tersebut, keluarlah ijin edar. BPOM juga melakukan pengawasan post-market ketika produk sudah beredar di pasar.

“Kami adakan pengawasan post-market lewat pemeriksaan sarana produksi, distribusi, dan retail. Misalnya nggak boleh ditumpuk sampai ketinggian tertentu, karena produk paling bawah bisa bocor dan terkena cemaran. Produknya kami sampling dan uji, masih sesuai janji saat pre-market atau tidak, kalau bermasalah diminta ditarik dan diberikan sanksi,” imbuhnya.

Ahli Teknologi Pangan dari IPB, Dr Ing Azis Boing Sitanggang, STP, MSc juga menegaskan bahwa nata de coco tidak terbuat dari plastik, tapi dari selulosa dengan pemurnian yang hampir 100 persen sehingga fungsinya baik untuk tubuh.

“Dalam proses pembuatannya, pangan yang menyerupai gel ini terbentuk dari jutaan benang selulosa yang berlapis-lapis, sehingga menjadikan pangan ini mengandung serat tinggi yang baik untuk tubuh,” katanya.

Menurut Azis, Nata de Coco ini merupakan salah satu jenis atau produk dari bacterial nano selulose. Jadi nano selulosa dari mikroba bakteri. Perlu diketahui selulosa dari bakteri ini, pemanfaatnnya sangat banyak.

“Dia diproduksi oleh fermentasi dari mikroba atau bakteri acetobacter xylium secara spesifik. Nano seslulosa itu bentuknya seperti benang-benang, dengan diameter 20-100 nanometer. Yang perlu diketahui, nano selulosa yang berasal dari bakteri ini sudah banyak pemanfaatnnya, khususnya untuk geling yaitu membuat dalam bentuk seperti gel karena punya kapasitas mengikat air,” ujarnya.

Alih-alih berbahaya, nata de coco justru mempunyai manfaat yang sangat baik untuk anak-anak atau orang dewasa mengingat serat yang terkandung dalam nata de coco sama seperti yang ada pada buah atau sayur.

Nata de coco pertama kali digunakan tahun 1990-an di Filipina, dan tahun 1992 masuk ke Jepang. Nata de coco juga sudah mendapatkan status generally recognized as safe (GRAS) dari otoritas pangan Amerika (FDA: Food and Drug Administration).

“Artinya aman untuk dikonsumsi sebagai pangan, dan masuk dalam kategori serat pangan yang tidak larut,” ujarnya.

Menurut Dr Aziz, selulosa sebenarnya sudah lama dimanfaatkan tidak hanya untuk produk pangan, tapi juga untuk produk farmasi.

“Karena dari selulosa, nata de coco ini juga bisa dibakar,” imbuhnya.

Dr Aziz membuka pintu bagi mereka yang ingin mendapatkan informasi lebih dalam, khususnya terkait teknologi pengolahan pangan, bisa mengakses Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan IPB.

“Banyak ahli disana yang bisa menjelaskan terutama terkait teknologi pangan maupun keamanan pangan. Kami juga mengcounter isu ini lewat media sosial, baik secara pribadi masing-masing dosen, maupun official web kami,” imbuhnya.

Baca juga: Manfaat Olahraga Pilates yang Dilakukan Shandy Aulia Selama Hamil

Sementara dr. Dian Permatasari, M.Gizi, SpGK, Ahli Gizi yang saat ini bertugas di RSU Tangerang Selatan, menyebut nata de coco adalah makanan yang sehat.

“Sebagian besar mengandung air, seratnya tinggi, ada karbohidrat juga, manfaatnya untuk kesehatan sangat baik sekali,” ujarnya

Hal yang perlu ditekankan disini, sambung Dian, karena manfaatnya untuk kesehatan banyak, alangkah baiknya masyarakat diedukasi lebih sering lagi.

“Nata de coco tidak memiliki efek negatif untuk kesehatan kecuali cara mengkonsumsinya yang salah, jadi juga harus diedukasi bagaimana mengkonsumsi nata de coco yang benar sehingga manfaatnya bisa dirasakan,” pungkasnya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here