Cara Mengatasi Vaginismus, Disfungsi Seksual pada Wanita

0
41
Dr Ni Komang Yeni SpOG. Foto: Naomi/Nyata

Pernah dengar atau bahkan mengalami kesakitan saat melakukan hubungan intim, karena otot bagian bawah tidak mau diajak kompromi? Pada sebagian kasus, kesakitan ini bahkan tidak tertahankan sehingga hubungan seks gagal total.

Ini merupakan disfungsi seksual disebut adalah vaginismus. Vaginismus merupakan kontraksi otot di sekitar vagina, yang mengakibatkan nyeri yang sangat mengganggu.

Dalam jangka panjang apabila tidak ditangani dengan baik, vaginismus akan menurunkan kualitas hidup perempuan. Seks bukan lagi hal yang menyenangkan, namun berubah menjadi semacam teror.

| Baca Juga: 6 Mitos dan Fakta Disfungsi Ereksi yang Perlu Diketahui

Angka kejadian vaginismus di Indonesia tidak diketahui secara pasti, karena kondisi ini kerap diabaikan atau tidak diceritakan, bahkan kepada pasangan karena dianggap sebagai hal yang tabu.

Hasil penelitian di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta (2018), ditemukan sebesar 90% dari 300 perempuan yang disurvei, pernah mengalami disfungsi seksual. Namun hanya 6% dari mereka yang mau mengakui.

Hasil penelitian mengungkap, sebagian besar perempuan Indonesia masih enggan terbuka baik itu kepada pasangan, atau bahkan mencari pertolongan medis. Padahal vaginismus merupakan penyakit yang butuh penanganan. Diperlukan kolaborasi antara dokter spesialis obstetri, ginekologi (obgin) dan kedokteran jiwa (psikiater) untuk mengatasinya.

“Banyak faktor yang terlibat dalam kasus vaginismus, dan disfungsi seksual secara luas. Penyebab penyakit ini juga bersifat multifaktorial, sehingga diperlukan kejelian para dokter untuk menanganinya. Kami menghimbau agar perempuan Indonesia yang mengalami vaginismus dan disfungsi seksual, untuk berkonsultasi kepada dokter ahli yang tepat,” ujar Dr. Yassin Yanuar MIB, SpOG (K), MSc, CEO Bamed Healthcare Group, saat menghadiri seminar Vaginismus dan Disfungsi Seksual Perempuan pada beberapa waktu lalu di Jakarta.

| Baca Juga: Kenali 3 Kondisi Medis yang Bisa Sebabkan Disfungsi Ereksi

Dr Ni Komang Yeni SpOG, spesialis Obgin pada Bamed Women’s Clinic mengatakan, vaginismus dikategorikan sebagai kontraksi otot yang tidak disadari, dan tidak dapat dikendalikan.

“Vaginismus adalah rasa nyeri yang timbul akibat terjadi ketegangan otot sekitar vagina, saat mencoba memasukkan sesuatu ke dalam vagina. Hal ini menyebabkan wanita seringkali menghindari hubungan seksual, melakukan kontraksi otot yang tidak disadari, ketakutan merasakan nyeri yang tidak wajar,” ujar Yeni.

Vaginismus terjadi secara terus menerus atau berulang, di sepertiga daerah bagian luar vagina, yaitu daerah perineum sampai otot levator ani, dan otot pubococcygeus. Kontraksi otot yang berlebihan menyebabkan nyeri, sulit atau bahkan tidak dapat melakukan penetrasi saat berhubungan seksual.

“Dalam kondisi ini, penetrasi akan terasa seperti ‘menabrak dinding’ dan akan menimbulkan rasa nyeri pada kedua pasangan,” kata Yeni.

Menurutnya, pemeriksan dokter juga biasanya mengalami kesulitan. Pasalnya sulit dilakukan penetrasi dengan satu jari, bahkan akan sulit untuk memasukkan tampon atau vibrator ke vagina.

Penyebab Vaginismus

Penyebab vaginismus dibagi menjadi dua, penyebab organik atau fisik dan penyebab anorganik atau psikologis. Secara fisik, vaginismus disebabkan karena infeksi pada daerah genital, atau trauma pada saat melahirkan, atau luka di jalan lahir.

Sedangkan secara psikologis, ada trauma psikis sebelumnya yang berkaitan dengan kekerasan seksual, atau adanya rasa kurang percaya diri, atau tidak berhubungan seksual dalam jangka waktu panjang.

| Baca Juga: Ini yang Terjadi pada Tubuh Saat Kamu Benci Pekerjaanmu

Faktor psikologis merupakan salah satu hal yang harus diperhatikan, karena perempuan akan sulit melakukan penetrasi saat berhubungan dengan pasangan.

“Merasa nyaman adalah kunci dari keberhasilan berhubungan seksual bagi seorang perempuan normal,” kata Yeni.

Vaginismus bisa menyerang perempuan dengan variasi usia. Mulai dari usia ketika sudah aktif secara seksual, sampai yang sudah berusia lanjut.

“Beberapa perempuan mengalami vaginismus justru pada masa menopause. Saat kadar estrogen turun, pelumasan dan elastisitas vagina pun relatif menurun. Kondisi ini membuat hubungan intim terasa menyakitkan, atau terkadang sulit untuk direalisasikan yang akhirnya memicu gangguan vaginismus,” ungkapnya.

Yeni mengingatkan, bila Vaginismus merupakan sindoma klinis, bukan suatu diagnosis yang definitif yang sering kali overlap (tumpang tindih) dengan hipertonik otot dasar panggul, nyeri, rasa cemas dan kesulitan melakukan hubungan seksual.

| Baca Juga: Waspadai Kelainan Bibir Sumbing Sejak Bayi Dalam Kandungan

Wanita dengan vaginismus terlihat lebih tertekan dan seringkali menghindar dari aktivitas seksual, dibandingkan dyspareunia (rasa sakit pada daerah kelamin yang terjadi secara terus-menerus atau berulang ketika akan, sedang, atau setelah berhubungan seksual), atau wanita normal yang tidak mengalami nyeri saat berhubungan.

“Kualitas pengalaman nyeri, seringkali sulit dibedakan antara dyspareunia and vaginismus. Nyeri yang diakibatkan rasa takut untuk melakukan penetrasi dan terjadinya spasme otot (kondisi dimana otot berkontraksi, menjadi kaku, atau berkedut tanpa sadar), dapat dijadikan pedoman untuk mengetahui dan mengobati vaginismus.

Dua Jenis Vaginismus

Vaginismus terbagi menjadi dua jenis. Yaitu vaginisme primer, apabila seorang perempuan sama sekali tidak pernah bisa memiliki hubungan seksual akibat rasa sakit dan kesulitan penetrasi.

Dan vaginisme sekunder, apabila seorang perempuan sebelumnya pernah menikmati seks tanpa masalah, namun kemudian mengalami vaginismus akibat trauma atau masalah medis yang memengaruhi kondisi vagina.Klasifikasi ini memberi perbedaan kecil yang menentukan cara pengobatannya.

Penanganan Vaginismus

Sebelum memberikan diagnosis vaginismus pada pasien, biasanya dokter perlu mengetahui riwayat medis, psikososial, hubungan seksual yang mendetail, termasuk setiap episode pengalaman seksual yang traumatis.

Selain itu, dokter juga akan memberikan pertanyaan tentang pengetahuan seksual dan sikap keluarga terhadap perilaku seksual yang relevan dengan penilaian psikologis.

“Dan penting juga dilakukan pemeriksaan genital untuk mengetahui adanya kelainan organik. Beberapa konsultasi mungkin diperlukan, sebelum wanita siap untuk diperiksa. Pemeriksaan genital dapat menjelaskan berbagai tingkat kecemasan: bisa ditemukan derajat nyeri dari ekspresi verbal, ketidaknyamanan hingga penolakan, menarik diri, atau berteriak,” jelas Yeni.

| Baca Juga: Maharani Kahiyang, Minyak Sereh dengan Segudang Manfaat

Setelah pasien didiagnosa menderita vaginismus, maka dokter biasanya akan melakukan treatment yang terdiri dari pendidikan, konseling, dan latihan perilaku.

“Dibutuhkan kolaborasi antara psikiatri dan ginekolog untuk melakukan terapi yang terarah bagi para penderita vaginismus. Kombinasi terapi edukasi adalah terapi dengan dilator vagina dan pelvic physical therapy, untuk meningkatkan keberhasilan terapi,” imbuh Yeni.

Treatment tersebut disesuaikan dengan kebutuhan wanita dan pasangannya. “Tujuan pasien bisa berupa, hubungan intim tanpa rasa sakit, penggunaan tampon, atau pemeriksaan vagina tanpa rasa sakit. Ketika tujuan utama adalah konsepsi, informasi tentang konsepsi berbantuan harus diberikan. Dokter harus menjelaskan pilihan perawatan apa yang tersedia,” papar Yeni.

| Baca Juga: 2 Cara Ampuh Atasi Gangguan Serangan Panik Ala Marshanda

Yeni menegaskan, bahwa tujuan dari perawatan adalah untuk membuat wanita menjadi lebih nyaman dengan alat genitalnya sendiri. Maka saat terapi akan diajarkan teknik relaksasi, untuk digunakan bersamaan dengan eksplorasi genital sendiri dan penggunaan ‘vaginal trainers‘.

Namun jika wanita tersebut memiliki riwayat trauma seksual, ia harus segera dirujuk untuk pengobatan lebih lanjut.

“Rujukan ke psikolog disarankan jika ia memiliki kecemasan, resistensi fobia terhadap pemeriksaan, atau masalah kesehatan mental atau hubungan lainnya,” tuturnya.

Ia menambahkan, “Meski masih diperlukan penelitian lebih lanjut, terapi botox sering digunakan pada pasien dengan dyspareunia atau nyeri pada saat berhubungan dan vaginismus, untuk melemahkan otot panggul agar tidak berkontraksi secara berlebihan.”

| Baca Juga: RSOT Surabaya Gandeng 1500 Pelari Dukung Penderita Kaki Bengkok

Selama menjalani perawatan, pasien dianjurkan melakukan catatan harian di rumah, untuk mencatat kemajuan terapi. Dan melakukan terapi sendiri di rumah, seperti memakai pelumas saat hubungan sex, berpartisipasi dalam aktifitas yang menyenangkan untuk mengurangi stress, olahraga yang mampu merelaks-kan otot panggul dan seputar vagina, mencoba memasukkan 1 jari untuk membiasakan diri relax saat penetrasi, dan mencoba relaks dalam mengatasi rasa takut saat penetrasi.

Yeni menegaskan, bahwa merasa nyaman adalah kunci dari keberhasilan berhubungan seksual bagi seorang perempuan normal. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here