Runner Up Miss Grand Indonesia Bawa Pesan Perdamaian untuk Negeri

0
23
runner-up-miss-grand-indonesia 1
Foto: Yanuarika/Nyata

First Runner Up Miss Grand Indonesia 2018, Vivi Wijaya menjadi salah satu wanita yang meginspirasi. Tidak hanya cantik dan pintar, Karirnya sebagai seorang entrepreneur dan bussines manager, bisa dibilang sukses.

Tak heran kalau ia bersama beberapa tokoh nasional, dipercaya menjadi salah satu pembicara talkshow bertema perdamaian. Acara ini diselenggarakan oleh JCI (Junior Chamber International) di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, pada Rabu (5/12) kemarin.

Mewakili kaum milenial, Vivi seolah tak mau kalah memberi banyak gagasan perdamaian, khususnya di Indonesia. Vivi mengaku gelisah melihat perkembangan media sosial yang kini banyak berisi permusuhan.

“Sebagai anak muda, aku gelisah melihat media sosial yang sekarang banyak bullying dan hoax. Makanya aku antusias berpartisipasi,” katanya.

runner-up-miss-grand-indonesia
Foto: Yanuarika/Nyata

Baca juga: Gaya 90-an Para Seleb di Fashion Show Versace Pre-Fall 2019

Sebelum bicara, ternyata Vivi sudah terlebih dahulu mencontohkan dengan tidak pernah mengunggah konten bernada bully atau hoax di media sosialnya. “Selama ini Vivi enggak pernah posting hoax atau bully-an, bisa dicek sendiri. Lebih sering posting sehari-hari Vivi aja kayak pekerjaan, makanan atau lokasi kunjungan Vivi,” katanya.

”Vivi menghindari postingan di luar diriku. Kalaupun harus sharing, mikir dulu kira-kira bikin orang tersinggung nggak, beritanya benar atau nggak, informatif atau nggak. Kalau nggak semua lebih baik tidak di-posting,” kata gadis kelahiran Binjai, Sumatera Utara 24 tahun lalu itu.

Baca juga: Ibu Nick Jonas Beri Priyanka Chopra Hadiah Miliaran Rupiah

Selain itu, Vivi juga menyoroti interaksi yang kerap membuat perselisihan. Diantaranya adalah cara memberi informasi yang kerap disalahartikan sebagai provokasi.

“Sebagai wanita, lebih perlu diperhatikan cara penyampaian. Misalnya soal gemuk, karena ini sensitif bagi wanita. Walaupun niatnya baik, sebagai informasi supaya lebih dijaga kesehatannya. Tapi sering disalahartikan sebagai provokasi,” katanya. (*)