Mengenal Penyakit ALS, Penyebab Kematian Kreator SpongeBob

0
489
Penyakit ALS
Foto: Adweek

Kematian kreator serial kartun SpongeBob SquarePants, Stephen Hillenburg mengejutkan banyak orang. Hillenburg meninggal di usia 57 tahun, setelah setahun lebih berjuang melawan penyakit ALS.

Banyak yang masih asing dengan penyakit tersebut. Padahal, ALS termasuk penyakit langka yang berbahaya, dan sampai sekarang belum ditemukan obatnya.

Apa itu ALS?

Amyotrophic Lateral Sclerosis atau ALS, merupakan penyakit yang menyerang sistem sel saraf pada otak dan sumsum tulang belakang. ALS disebut juga penyakit Lou Gehrig, yang diambil dari nama pemain bisbol, yang meninggal akibat penyakit tersebut.

ALS bersifat progresif, sehingga neuron atau sel saraf yang rusak, perlahan akan kehilangan fungsi, dan kemudian mati.

“ALS ini penyakit motor neuron, yaitu sel saraf yang bertanggungjawab atas fungsi motorik,” ungkap dr. Christian Kamallan, Sp.S., M.Med., saat ditemui Nyata pada Kamis (29/11) kemarin.

Penyakit ALS
Foto: Catur/Nyata

Sel saraf motorik memiliki peranan penting, untuk mengirim impuls dari sistem saraf pusat ke otot. Sehingga, menghasilkan tanggapan dari tubuh berupa gerak. Maka dari itu, penderita ALS lambat laun akan mengalami kelumpuhan pada area titik saraf yang diserang.

Seberapa langka ALS?

Dalam studi kasus, ALS dikategorikan sebagai penyakit langka, dimana sedikit lebih banyak menyerang pria, daripada wanita.

“Perbandingannya bisa menimpa 2 dari 100.000 orang. Di tempat kami, ada sekitar 2-3 orang per tahun. Beberapa orang bisa berjuang hingga 5-10 tahun,” papar dokter 51 tahun yang praktik di RS Premier Surabaya itu.

Ada berapa jenis ALS?

Secara garis besar, ALS memiliki dua jenis, yaitu Familial dan Sporadic. Kasus ALS Familial bersifat genetik, dan rata-rata menyerang sejak usia muda. Selain itu, ALS jenis ini terjadi pada sekitar 90% penderita. Sedangkan sisanya, 10% bersifat Sporadic.

Baca juga: 3 Bahan Alami Untuk Mengatasi Asam Urat yang Mengganggu

Untuk ALS jenis Sporadic, biasanya menyerang pada usia tua. Lebih tepatnya terjadi pada dekade ke 6, atau sekitar usia 55-75 tahun.

Apa saja keluhan penderita ALS?

Keluhan pertama muncul saat anggota gerak mulai melemah. Kondisi ini bisa menyerang anggota gerak bagian bawah, maupun bagian atas. Berdasarkan contoh kasus, seperti gangguan dalam menelan, mudah tersedak, kesulitan berbicara, tumit mulai tidak kuat untuk berjalan, hingga lambat laun terjadi kelumpuhan pada anggota geraknya.

Adapun bagi penderita yang mengeluhkan kesulitan dalam bernapas, sebenarnya hal itu merupakan dampak dari penyakit ALS. Pernapasan terganggu karena lumpuhnya otot napas. Hal ini lah yang kemudian berdampak pada paru-paru.

Baca juga: 5 Buah Penangkal Kanker

Prinsip dari penyakit ini sejatinya menyerang neuron-neuron motorik, dari gerak volunter (gerak yang dikehendaki).

“Detak jantung itu tidak terpengaruh, karena itu gerak otonom,” lanjut dokter kelahiran Ende, NTT itu.

Bagaimana Menangani ALS?

Pada prinsipnya, penyakit ini tidak mungkin hilang, tapi akan menetap, dan semakin lama gangguan sarafnya semakin memburuk. Namun ada satu obat yang dapat memperlambat progresifitas dari ALS itu sendiri.

“Namanya Riluzole, tidak tersedia di Indonesia. Kami dapat dari Singapura,” kata dr. Christian.

Tidak ada efek samping dari pengobatan ini karena sifatnya suportif, sebagaimana fungsi suplemen untuk tubuh. Sehingga pada akhirnya, tak banyak yang bisa obat ini perbuat bagi penderita ALS. (*)