4 Kriteria Pangan Berkelanjutan, Bisa Tekan Laju Perubahan Iklim

Ilustrasi pangan berkelanjutan. (Foto: pexel/saturnus99)
Ilustrasi pangan berkelanjutan. (Foto: pexel/saturnus99)

Tidak bisa dipungkiri bahwa cuaca ekstrem yang melanda Bumi saat ini merupakan dampak dari perubahan iklim. Ya, kita sedang hidup di era pemanasan global. Alih-alih membenahi, orang-orang di seluruh dunia terus melakukan praktik-praktik tidak berkelanjutan yang mempercepat dan memperburuk dampak perubahan iklim.

Salah satu kontributor utama pemanasan global adalah industri makanan. Berdasarkan data dari Food and Agriculture Organisation (FAO), sepertiga gas rumah kaca global berasal dari sistem pangan, mulai dari tahap produksi, pengemasan, distribusi, hingga pembuangan limbah. Itu berarti, pilihan terhadap suatu bahan makanan sangat berpengaruh terhadap kesehatan bumi.

Nah, agar bumi tidak semakin makan, setiap individu bertanggung jawab untuk menurunkan tingkat emisi gas rumah kaca. Menurut CEO dan Co-Founder Food Sustainesia Jaqualine Wijaya, langkah yang bisa dilakukan adalah dengan mengadopsi pola makan berkelanjutan (Food Sustainable). Termasuk memilih bahan pangan yang juga berkelanjutan, dari segi lingkungan, kesehatan, hingga ekonomi.

| Baca Juga: 5 Makanan Sehat Pembakar Lemak Perut, Cocok untuk Diet

Lantas, seperti apa bahan pangan yang masuk dalam kriteria berkelanjutan?

  1. Mudah didapat dan harga terjangkau

Makanan yang diproduksi oleh petani lokal merupakan bahan pangan berkelanjutan yang ramah lingkungan. Karena, bahan makanan lokal tidak harus melalui proses distribusi yang panjang untuk sampai di tangan konsumen.

“Keuntungan dari berbelanja produk pangan lokal adalah meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan, karena aksi ini dapat mengurangi jejak karbon, sekaligus mendukung produsen lokal, baik petani maupun nelayan. Keuntungan lainnya adalah produk lokal biasanya berlimpah, mudah sekali didapatkan di sekitar kita, dan harganya sangat terjangkau,” kata Jaqualine Wijaya, CEO dan Co-Founder Food Sustainesia dalam keterangannya, Rabu (12/6) lalu.

Karena mudah didapat dan harganya murah, Anda tidak perlu membeli stok produk lokal terlalu banyak. Belanja secukupnya, sehingga tidak menjadi sampah makanan. Jika stok habis, Anda bisa belanja lagi sesuai kebutuhan.

| Baca Juga: Gak Nyangka, 7 Makanan Sehat Ini Malah Bikin Flu Tambah Parah

  1. Pilih Bahan Makanan Ramah Lingkungan

Metode penanaman bahan pangan yang masih menggunakan bahan kimia dan peptisida, berpotensi merusak tanah. Tanpa disadari bahan kimia tersebut menyumbang jejak karbon. Karena itu, pilihkan bahan pangan organik.

“Ada pilihan beras yang ramah lingkungan, yaitu beras organik, yang tidak menggunakan bahan kimia dalam penanamannya dan tidak menggunakan air yang tercemar. Untuk memastikan suatu bahan makanan memang diproduksi secara organik, carilah kemasan yang melekatkan label organik atau sustainable food. Itu berarti bahan pangan tersebut sudah mendapatkan sertifikasi organik. Atau, kalau membeli protein hewani dari daging sapi, carilah yang berlabel grass-fed dan telur berlabel cage-free,” kata Jaqualine.

Meskipun harga pangan organik masih terbilang mahal, namun seiring dengan meningkatnya permintaan dan ketersediaan bahan makanan organik di pasaran, perlahan-lahan harganya akan menyesuaikan menjadi lebih terjangkau.

Walau demikian, tidak semua bahan pangan harus berlabel organik. Sebab, secara alami sejumlah bahan pangan ditanam dan dipelihara dengan cara yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Misalnya, jamur tidak memerlukan banyak air. Petani jamur juga menggunakan bahan daur ulang pertanian sebagai media tanam jamur, seperti sekam kapas dan tongkol jagung.

| Baca Juga: 5 Makanan Sehat yang Bantu Tingkatkan Kecerdasanmu

Selain itu, penanaman bayam juga tidak berdampak negatif terhadap persediaan air dan tidak merusak tanah. Bayam yang harganya murah dan mudah sekali didapat mengandung nutrisi sangat tinggi yang dibutuhkan tubuh.

Ada pula rumput laut yang tidak memerlukan pestisida untuk tumbuh subur. Bahkan, pertumbuhan rumput laut secara alami dapat menyerap karbon sehingga dapat mengurangi emisi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here