Mengenal Sosok Ghanim Al-Muftah, Duta Piala Dunia Qatar 2022 yang Gemparkan Dunia

Ghanim bersama Morgan Freeman dalam Pembukaan Piala Dunia Qatar 2022. Foto: Dok. AP

Atmosfer islami sangat terasa dalam pembukaan Piala Dunia 2022 di Qatar kali ini. Hal tersebut terjadi kala Ghanim Al-Muftah melantunkan surat Al-Hujarat Ayat 13 dengan sangat merdu di hadapan 67 ribu penonton di Stadion Al-Bayt. Ia juga didampingi aktor asal Amerika Serikat Morgan Freeman yang membacakan versi terjemahannya.

Surat itu memiliki makna mendalam tentang kesetaraan derajat manusia di mata Allah SWT. Pemilihan ayat ini tepat untuk sebuah event yang melibatkan bermacam-macam manusia dari penjuru dunia.

Ghanim didapuk menjadi penampil pertama karena ia merupakan Duta Piala Dunia tersebut. FIFA menunjuknya sebagai duta bukan tanpa alasan. Ia adalah sosok inspiratif yang mencerminkan rasa semangat untuk tetap berjuang dalam keterbatasan.

|Baca Juga: Sederet Larangan Keras Piala Dunia Qatar 2022, Tak Patuh Akan Diusir!

Foto: Dok. Instagram @g_almuftah

Pria 20 tahun itu menderita penyakit langka yang disebut Caudal Regression Syndrome CDS. Kondisi medis itu membuatnya lahir dengan tubuh separuh. Kelainan itu yang menghambat perkembangan organ bagian bawahnya.

Penyakit langka itu sudah terlihat sejak dalam kandungan. Pada tahun 2001, kedua orangtuanya sudah bahagia dengan mimpi akan memiliki anak kembar. Namun harapan itu langsung pupus saat dokter mengatakan bahwa janin Ghanim mengalami cacat fisik.

|Baca Juga: Masih Misterius! 4 Kesaksian Warga Ungkap Detik-Detik Kematian Keluarga di Kalideres

Kedua orang tuanya, Mohammed Al-Muftah dan Eman Ahmad hanya memiliki dua pilihan, yakni tetap melahirkannya atau digugurkan. Ibunya menolak dan memutuskan untuk melahirkan Ghanim bersama dengan saudara kembarnya, Ahmad, pada 5 Mei 2002. Dua orang saudara kembar itu akhirnya lahir dan tumbuh bersama.

Ghanim mewarisi tekad seperti ibunya yakni tak mau diremehkan. Sejak usia muda, ia tidak membiarkan fisiknya menghambat aktifitasnya sebagai manusia normal.

Pada tahun 2006, pria asli Qatar itu berhasil menaklukan Jabal Syam. Sebuah gunung tertinggi di pegunungan Hajar yang berlokasi di Oman. Kegiatan itu biasa dilakukan bersama Ahmad. Ia selalu mengatakan bahwa ibunya sebagai support system.

“Ibu selalu mengajari saya untuk tetap positif. Dia selalu menunjukkan kepada saya bahwa hidup itu indah dan tidak ada yang mustahil,” tuturnya.

Diusia 11 tahun, dimana anak seusianya masih suka bermain. Ghanim dengan percaya diri membuka kedai es krim bernama Gharissa Ice Cream. Perusahaan es krim yang didirikan pada tahun 2011 itu menggunakan resep rahasia ibunya. Tak ayal, bisnis itu semakin banyak dikenal hingga memiliki lima cabang dan 60 pegawai.

Kelima cabang tersebut tersebar di Qatar, yakni Souq Waqif, Aspire Park, Barwa Village, Souq Wakrah dan National Museum. Dengan pencapaiannya ini, dia dinobatkan sebagai pengusaha paling muda di Qatar. *pad/ika

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here