Busana yang Bisa Diubah Jadi Tandu Curi Perhatian di SFP 2022

Ada yang mencuri perhatian dalam gelaran Surabaya Fashion Parade (SFP) 2022 hari ke dua, Jumat (7/10) lalu. Koleksi yang ditampilkan tiga desainer dari Islamic Fashion Institut (IFI) Banyuwangi bukanlah busana pada umumnya.

”Busana ini untuk outdoor. Jadi kain yang menutup tubuh ini dapat dilepas dan bisa digunakan sebagai tandu,” terang perwakilan dari Islamic Fashion Institut Anita Yuni sambil melepas kain yang menutup tubuh model.

Anita pun lantas memanggil dua temannya yang siap dengan tongkat. Mereka kemudian memasukkan tongkat itu ke dalam lubang di tepi kain. ”Sebenarnya kain ini tidak hanya dapat digunakan sebagai tandu, tapi juga tenda mini. Bahkan dipakai sebagai sarung pun bisa. Jadi busana ini bisa untuk pria dan wanita,” terang desainer yang juga seorang dokter itu.

|Baca Juga: Ready to Wear hingga Street Wear Warnai IN2MOTIONFEST

Kebakaran Ijen

Koleksi yang ditampilkan bertema Code 65 yang merupakan kode pemadam kebakaran. Koleksi itu terinspiasi dari petugas pemadam kebakaran Banyuwangi yang begitu heroik memadamkan kebakaran hutan di Taman Wisata Alam Gunung Ijen pada tahun 2019 lalu.

”Di kawasan Ijen beberapa kali terjadi kebakaran, yaitu tahun 2014, 2015, 2019 dan 2021. Tapi yang terbesar dalam satu dasawarsa terakhir adalah tahun 2019,” terang Anita.

Kebakaran itu terjadi karena keserakahan manusia yang ingin membuka lahan untuk perkebunan kopi. ”Jadi koleksi ini ingin menyampaikan pesan awareness bahwa akibat ulah dua orang, bisa berakibat fatal,” tegas Anita.

”Dampaknya tidak hanya sesaat itu saja. Tapi pada tahun 2020 terjadi kebanjiran besar, sehingga sebanyak dua ratus kepala keluarga harus dipindahkan. Banjir terjadi akibat hilangnya area resapan di daerah itu,” sambungnya.

Hijau, Hitam dan Biru

Anita Yuni dari IFI menjelaskan busana yang juga bisa digunakan sebagai tandu. Foto: HENI Nyata

Meski terinspirasi dari kisah heroik petugas pemadam kebakaran, Anita tidak memilih warna merah atau oranye untuk koleksi Code 65. Tapi lebih memilih warna hijau, hitam dan biru,

Hijau dari warna daerah evergreen atau topografi Gunung Ijen. Hitam merupakan warna setelah kawasan Gunung Ijen terbakar. Sedang biru dari blue fire yang memang terkenal di Ijen.

”Saat terjadi kebakaran pada tahun 2019 itu, blue fire sampai keluar ke tempat penimbangan belerang, saking dahsyatnya,” kata Anita.

Limbah UMKM

Koleksi tiga desainer dari IFI yang ditampilkan di SFP 2022. Foto: HENI Nyata

|Baca Juga: Serba Ramah Lingkungan di Surabaya Fashion Parade 2022

Untuk membuat koleksinya, Anita mengolah limbah tekstil dari UMKM Banyuwangi. Mulai limbah jeans, jaket parka dan jaket parasut. ”Di Banyuwangi itu limbah tekstilnya sangat besar. Dalam sebulan antara tiga puluh hingga delapan puluh kilogram per bulan. Limbahnya juga masih besar-besar, sehingga masih dapat digunakan lagi dengan teknik patchwork atau tambal sulam,” beber Anita.

”Untuk koleksi yang kami tampilkan di Surabaya Fashion Parade kali ini, kami bisa mengolah sebanyak dua puluh satu kilogram,” imbuh desainer yang baru mengeluarkan koleksi pertamanya itu.

Hebatnya lagi, untuk menjahit busana tersebut Anita tidak menggunakan listrik dari PLN, tapi dari solar panel. ”Jadi kami punya bangunan. Namanya OJO NESU. Artinya Omah Jahit Organic Energi Surya. Jadi koleksi kali ini merupakan salah satu produk dari OJO NESU,” ujar Anita seraya tersenyum. *hen

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here