Gelisah saat Balik ke Indonesia, Cinta Laura Ungkap Traumanya

cinta-laura-bully
Foto: Dok. Instagram Cinta Laura

Aktris sekaligus penyanyi Cinta Laura pergi ke Amerika Serikat untuk kuliah di Colombia University pada 2011 lalu. Tak hanya kuliah, wanita 27 tahun itu juga melebarkan sayapnya untuk menjajal dunia akting di AS. Namun siapa sangka, Cinta menyebut kepergiannya dari Indonesia sebagai bagian dari ‘melarikan diri’.

Bagaimana tidak, ketika usianya sekitar 13 tahun, yakni awal dirinya meniti karier, Cinta jadi bulan-bulanan publik. Kemampuan bahasa Indonesianya tidak lancar. Hal itu membuat wanita kelahiran Jerman tersebut, harus kuat menerima bully-an publik.

“Dari hati terdalam, dulu aku berharap memulai hal baru di negara yang tak ada satupun orang mengenalku. Atau paling tidak, orang tak tahu apa yang telah aku lakukan di Indonesia. Mereka akan menyukaiku apa adanya,” kata Cinta dalam kanal YouTube Asian Boss belum lama ini.

|Baca juga: 8 Tahun Tinggal di Amerika, Ini yang Disayangkan Cinta Laura

Karena hal itulah, pemain film The Ninth Passenger (2017) itu mencoba berkarya maksimal di luar negeri. Ketika harus pulang ke Indonesia, Cinta Laura pun sempat merasakan kecemasan karena takut di-bully seperti dulu.

“Setiap aku akan kembali ke Indonesia di musim panas atau musim dingin, aku merasa gelisah. Aku merasakan kecemasan yang ekstrem karena aku nggak mau di-bully lagi seperti dulu,” beber wanita yang pernah dapat penghargaan sebagai Aktris Ngetop ini.

Bully-an itu membuat Cinta Laura ingin membuktikan dirinya dengan segudang prestasi. “Itu kenyataan yang menyedihkan. Karena itu mengapa aku harus membuktikan agar orang-orang mengapresiasiku. Tapi itu ketika aku masih melihat dari sisi negatif,” katanya.

|Baca juga: Sukses Berkarir hingga Hollywood, Cinta Laura Bongkar Rahasianya

Namun kini, Cinta tak memandang negatif dari pembuktian yang selama ini ia coba lakukan. Ia pun berharap apa yang kini dilakukan, bisa memberi dampak positif bagi orang lain.

“Jika aku mau jadi negatif, aku bisa bilang mengapa aku masuk ke universitas bagus. Ya agar orang-orang sadar aku punya kepintaran,” ungkapnya.

“Tapi, pada akhirnya yang bisa dilakukan sebagai individu ialah menjadi versi terbaik dari diri sendiri. Yakinkan apa pun yang kamu lakukan dalam hidup tak hanya membuatmu bahagia, tetapi juga berdampak positif dan berarti bagi orang di sekitar,” tutupnya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here