Nose Herbalindo: Dalang di Balik Kesuksesan Bisnis Kosmetik Seleb

0
64
nose-herbalindo
Foto: Dok. Pri

Perkembangan industri kosmetik nasional mengalami pertumbuhan 20% atau empat kali lipat, dari pertumbuhan ekonomi nasional pada 2017. Di tahun yang sama, nilai ekspor produk kosmetik nasional mencapai US$ 516,99 juta (setara dengan Rp 7,3 triliun).

Itu artinya, pertumbuhannya meningkat tajam dibandingkan tahun 2016 yang nilainya mencapai US$ 470,3 juta (setara Rp 6,6 triliun). Demikian data yang dirilis Kementerian Perindustrian pada tahun 2018.

Fakta itu mendorong semakin banyak pelaku usaha yang mengambil peluang atas prospek tersebut, untuk menjadi beuatypreneur. Gairah mereka makin diperkuat, dengan berbagai kemudahan yang ditawarkan sejumlah perusahaan OEM (Original Equipment Manufacturing) atau maklon kosmetik. Artinya, dengan biaya yang tidak terlalu besar, para beautypreneur sudah bisa membangun bisnis kosmetiknya.

Nose
Foto: Dok. Pri

Salah satu perusahaan OEM lokal PT Nose Herbalindo misalnya. Mereka tampak agresif menyasar para beautypreneur lokal. Sejak beroperasi pada awal 2017 lalu, Nose terus mengalami pertumbuhan signifikan, yakni naik 20% setiap tahunnya.

Direktur Nose Herbalindo, Yoda Nova mengatakan, pihaknya berusaha mengutamakan keunikan dan inovasi dalam setiap produknya.

“Kami menjamin keamanan dan kehalalan kosmetika dalam setiap rantai proses pembuatannya. Melalui riset-riset yang selalu dilakukan secara berkala oleh tim R&D, serta dengan kolaborasi bahan-bahan seperti ekstrak dari tumbuhan alami, melahirkan produk-produk inovasi yang dapat membanggakan produk lokal kosmetik Indonesia,” kata Yoda di acara Cosmo Beaute di Jakarta Convention Center (JCC), Kamis (17/10).

Nose
Foto: Dok. Pri

Menurut Yoda, Nose membuat produk kosmetik sesuai dengan konsep dan impian yang diinginkan pelanggan. Untuk mendukung hal tersebut, produk ini sudah mengikuti persyaratan standar.

Tak sekedar sertifikasi lokal, tetapi juga internasional melalui Badan Sertifikasi International yaitu ISO 9001:2015, OHSAS 18001:2007, GMP, CPKB, dan HAS 2310.

“Kami sudah mengantongi sertifikasi halal yang menjadi trusted added value bagi para pebisnis kosmetik atau kami menyebutnya beautypreneur,” imbuhnya.

Karena memenuhi kebutuhan pelanggan, perusahaan ini memproduksi produk sesuai dengan keinginan pemilik merek.

“Tidak akan ada yang sama. Masing-masing memiliki keunikan dan karakter produk sendiri. Kami akan membantu calon beautypreneur untuk membuatkan produk kosmetik dengan konsep dan formula bahan yang berbeda dengan lainnya,” jelas Yoda.

Di kesempatan yang sama, General Manager Marketing Nose Herbalindo, Sri Rahayu menambahkan, tren kosmetik saat ini kembali ke alam.

Customer bisa memilih bahan aktif dari jenis tanaman yang ingin dimasukkan dalam kandungan kosmetik atau skincare. Misalnya yang sedang naik daun adalah tanaman pegagan dan kembang telang,” ujar Ayu.

Nose
Foto: Dok. Pri

Ada sejumlah tanaman lain yang bisa dimanfaatkan sebagai komposisi kosmetik, termasuk bunga marigold (calendula) dan mawar, serta tanaman kelor.

“Tanaman ini memiliki manfaat mulai dari mencerahkan kulit, meminimalkan keriput hingga anti-peradangan,” imbuh Ayu yang memiliki latar belakang pendidikan farmasi.

Selain bahan lokal, Nose juga menyediakan bahan impor seperti stem cell tumbuhan (anggur, apel, mawar), hingga filtrat pitera yang memiliki kemampuan dalam mencerahkan dan menjaga kelembaban kulit.

Hingga kini Nose telah melayani 50 pelanggan, termasuk beberapa di antaranya adalah pesohor hingga social media influencer. Mereka antara lain brand Innertrue, Maska, Everwhite, Evershine, MS Glow, hingga personal brand dari para selebritis seperti Ria Ricis, Ashanty, Bunga Zainal hingga Shandy Aulia.

“Para beautypreneur ini kebanyakan atau sekitar 80%-nya memang memesan produk skincare dan personal care, sedangkan sisanya, 20%, memesan produk kosmetik,” kata Yoda.

Untuk bisa menjadi beautypreneur, investasi yang ditawarkan untuk memiliki produk custom di Nose bisa dibilang terjangkau.

“Cukup dengan Rp 50 juta sudah bisa memulai bisnis kosmetik dengan produk merek sendiri,” tutur Ayu.

Bagi pemula disarankan memilih produk body lotion dan serum. “Dua produk ini peminatnya banyak dan bisa dipadukan dengan skincare lain yang sudah dipakai oleh konsumen,” imbuhnya.

Nose
Foto: Dok. Pri

Ayu mengatakan bila masing-masing produk dari costumer itu berbeda satu sama lainnya. Mulai dari warna, bahan aktifnya, baunya.

“Kita menyesuaikan konsep masing-masing klien. Ada klien yang kiblatnya ke produk yang natural, ada yang mau produk yang lebih innovation dan active ingredient. Kita seseuaikan dengan keinginan costumer itu sendiri. Untuk costumer artis, produk mereka masih ke brightening dan glowing. Dan prediksi kita, untuk pasar Indonesia ke depannya masih di brightening dan glowing nomor satu. Kalau untuk whitening, untuk perizinan di badan POM harus bikin satu seri. Kalau buat satu produk saja tidak bisa,” katanya.

Bagi beautypreneur pemula tak usah cemas, Nose akan mendukung dengan memberikan informasi lengkap. Mulai dari diskusi pemilihan bahan baku sampai dengan cara-cara mendistribusikan produk di pasar Indonesia.

“Tim Nose akan membantu, mulai dari konsep pemilihan bahan baku, formula yang harus digunakan, packaging yang menarik, bahkan sampai dengan cara mendistribusi dan memasarkan produk tersebut,” Yoda menambahkan.

Jadi customer cukup memantapkan mimpi, visi, dan misi. “Nose akan berikan konsultasi konsep kosmetik, pemilihan nama brand yang menarik, hingga proses manufaktur kosmetik dari hulu hingga hilir, mulai dari research & development, formulasi bahan baku, quality control, pengemasan, izin BPOM, sertifikasi halal MUI, dan paten, hingga distribusi produk kosmetik brand anda sendiri,” beber Yoda.

Beautypreneur bisa memilih beragam produk yang ingin diproduksi, mulai produk dekoratif seperti lipstik, eye shadow, blush on, maskara, pensil alis, bedak, hingga produk skincare seperti masker wajah atau mata, krim pelembab, krim pencerah, serum antiaging, dan sebagainya.

Customer juga bisa memilih bentuk sediaan yang diinginkan, mulai dari cairan, cairan kental (serum), krim, hingga serbuk (bubuk).

Ayu mengatakan bahwa untuk jadi beautypreneur syaratnya harus sudah punya merek sendiri. Untuk mendaftarkan merek itu bisa dari costumer, ataupun Nose bisa membantu untuk pendaftarannya, Dengan catatan nama merek tersebut belum pernah didaftarkan.

Setelah mendaftarkan merek, kita mulai di tahap development formulanya. Setelah formulanya mengantongi izin, baru dilakukan stability test. Produk tidak akan diproduksi dulu sebelum kita melakukan stability test sekitar satu sampai tiga bulan.

“Setelah sampelnya stabil, hasilnya bagus, baru kita daftarkan BPOM. Setelah BPOM keluar, baru kita produksi. Jadi tahapnya mungkin agak panjang, sekitar 4 bulanan prosesnya, tapi kita sudah bisa membuat produk sendiri,” papar Ayu.

Guna mendekatkan diri pada calon beautypreneur, Nose berpartisipasi di pameran “Cosmobeaute Indonesia 2019” pada 17-19 Oktober 2019 di Jakarta Convention Center (JCC).

Dengan konsep Natural Beauty dan Ingredient, Nose menampilkan keunikan dan inovasi produknya berupa bahan-bahan ekstrak dari tumbuhan alami, kolagen hidrogel, bio-cellulose masker, ampul kosmetik, dengan tekstur kosmetik yang sangat menarik dan menggemaskan para pecinta skincare.

Di pameran tersebut, Nose juga menyajikan Experimental Zone pada Cosmobeaute Indonesia.

“Di Experimetal Zone, para pecinta skincare dapat melihat secara langsung proses pembuatan kosmetik dengan menggunakan ekstrak bunga alami dan bisa langsung dibawa pulang,” ujar Yoda.

Ia juga mengatakan bahwa Nose juga menggunakan pendekatan media sosial, digital marketing, dan Public Relations (PR) untuk makin mendekatkan diri dengan klien maupun calon kliennya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here