8 Fakta Hakim Ruth Bader Ginsburg, Pahlawan Kesetaraan Gender AS

profil-hakim-ruth-bader-ginsburg-meninggal-dunia
Foto: Steve Petteway/Koleksi MA Amerika Serikat/TIME

Hakim Mahkamah Agung Amerika Serikat, Ruth Bader Ginsburg meninggal dunia di usia 87 tahun, Jumat (18/9) kemarin. Dilansir dari BBC, mendiang mengembuskan napas terakhir di rumahnya, dikelilingi oleh keluarga tercinta.

Ruth berpulang setelah berjuang melawan penyakit kanker pankreas. Awal tahun ini, perempuan yang jadi hakim tertua di MA Amerika Serikat tersebut harus kembali menjalani kemoterapi karena gejala kanker pankreasnya kembali muncul.

“Negara kita telah kehilangan sosok ahli hukum yang memiliki reputasi bersejarah. Kami di Mahkamah Agung telah kehilangan seorang rekan yang disayangi,” kata ketua Mahkamah Agung AS, John Roberts. 

“Hari ini kami berduka, tetapi dengan percaya diri kami ucapkan kalau generasi masa depan akan terus mengingat Ruth Bader Ginsburg seperti yang kami kenal – seorang pejuang keadilan yang tak kenal lelah dan tegas,” tambahnya. 

Baca juga: 6 Fakta Kamala Harris, Wanita Keturunan India yang Siap Lawan Trump

Sosok hakim Ruth Bader Ginsburg memang memiliki reputasi yang tak boleh diragukan lagi di lembaga hukum Amerika Serikat. Ia terkenal sebagai tokoh yang selalu memperjuangkan hak-hak perempuan. Masih ada beberapa fakta menarik dari hakim yang tak kenal takut ini. Simak ulasan selengkapnya. 

1. Lahir dari Keluarga Kelas Pekerja

profil-ruth-bader-ginsburg
Ruth kecil. Foto: Mahkamah Agung Amerika Serikat/TIME

Lahir di New York, 15 Maret 1933, Ruth tumbuh di lingkungan kelas pekerja. Keluarganya bukanlah dari golongan kaya. Meski begitu, sang ibu Celia Bader selalu mengajarkan Ruth untuk menjadi perempuan mandiri dan memiliki pendidikan tinggi. 

Celia jadi teladan bagi Ruth. Celia bekerja di pabrik garmen untuk membantu membayar biaya pendidikan adiknya, hal inilah yang membuat Ruth kagum. 

2. Pendidikan

profil-ruth-bader-ginsburg-1
Foto: Mahkamah Agung Amerika Serikat/TIME

Ruth mendapat beasiswa penuh saat kuliah di Universitas Cornell jurusan Ilmu Pemerintahan. Perempuan tersebut lulus pada tahun 1954. 

Dua tahun setelah itu, ia memutuskan untuk masuk Harvard Law School. Saat itu, diskriminasi gender mulai dirasakan oleh Ruth. Betapa tidak dari total 500 mahasiswa, hanya ada delapan mahasiswa perempuan.

Bahkan, para perempuan tersebut mendapat sinisme dari dekan karena dianggap mengambil posisi calon mahasiswa laki-laki yang memenuhi kualifikasi untuk masuk sekolah hukum. Meski begitu, Ruth tidak menyerah. Ia terus belajar dengan giat dan jadi mahasiswa yang unggul. Bahkan, ia akhirnya menjadi anggota perempuan pertama di Harvard Law Review.

Baca juga: Anak Dibunuh Remaja 15 tahun, Orangtua Korban Tidak Dendam

Ruth melanjutkan pendidikannya di Columbia Law School. Kala itu ia juga harus merawat putri pertamanya Jane, dan suaminya Martin Ginsburg yang menderita kanker testis. Meski dengan segala tantangan itu, Ruth berhasil jadi lulusan terbaik dari Columbia tahun 1959. 

4. Tantangan Mencari Pekerjaan

hakim-ruth-bader-ginsburg-1
Foto: Mahkamah Agung Amerika Serikat/TIME

Meski prestasinya bisa dibilang sempurna, namun tidak berarti Ruth memiliki jalan tanpa hambatan untuk dapat pekerjaan sebagai seorang pengacara. Lagi-lagi kesulitan ini didapatkannya karena Ruth adalah seorang perempuan dan ibu. 

Kala itu sangat sedikit perempuan yang menjadi pengacara di Amerika Serikat. Bahkan, hanya ada dua perempuan saja yang pernah jadi hakim umum. 

Tahun 1963, Ruth menjadi asisten profesor di Rutgers Law School. Saat itu, dekannya meminta Ruth untuk menerima gaji rendah karena suaminya sudah memiliki gaji yang tinggi. 

Kekhawatiran sempat mencekam hati Ruth saat hamil anak ke duanya, James pada tahun 1965. Ia bahkan sampai mencoba menyembunyikan kehamilannya dan memakai baju oversize karena khawatir kontraknya tidak akan diperbarui. 

5. Terlibat Secara Profesional dalam Perjuangan Kesetaraan Gender

ruth-bader-ginsburg
Foto: Mahkamah Agung Amerika Serikat/TIME

Tahun 1970, Ruth terlibat secara profesional dalam isu kesetaraan gender setelah ditunjuk untuk jadi moderator dalam diskusi panel mahasiswa tentang ‘kebebasan perempuan’. Tahun 1971, dia menerbitkan artikel hukum dan mengisi seminar soal diskriminasi gender. 

Ia juga memutuskan untuk jadi bagian dari American Civil Liberities Union (ACLU), LSM yang bergiat di bidang advokasi hukum, cabang New Jersey. Kasus pertamanya Reed v. Reed berakhir dengan memuaskan. 

Kasus ini diawali dengan undang-undang Idaho yang menunjuk laki-laki lebih berhak mengurus properti dan perkebunan dibanding perempuan. Keputusan tersebut dianggap tidak adil. Bahkan, Mahkamah Agung memutuskan kalau UU di Idaho tentang tata kelola properti itu tidak sah secara konstitusional karena mengandung diskriminasi gender. 

Baca juga: Si Jago Rayu Itu Kini Jadi Eksekutif Produser ‘Kajeng Kliwon’

Setelah itu, karier Ruth mulai melejit. Ia ditunjuk sebagai ‘komandan’ dari Women’s Right Project ACLU. Sejumlah kasus yang dikomandoi oleh Ruth berakhir memuaskan. 

6. Ditunjuk Sebagai Hakim Mahkamah Agung

hakim-mahkamah-agung-perempuan
Foto: Steve Petteway/Koleksi MA Amerika Serikat/TIME

Tahun 1993, Presiden Bill Clinton menunjuk Ruth untuk jadi hakim Mahkamah Agung menggantikan hakim Byron White yang pensiun. Pemilihan Ruth ini berjalan lancar, senat menyetujui pencalonan itu dengan suara 96-3. 

Ia adalah perempuan kedua yang duduk di kursi hakim MA, setelah Sandra Day O’Connor yang diangkat pada 1981. Ketika jadi hakim MA, Ruth terkenal aktif dengan argumen-argumen kritisnya. 

Dia dianggap jadi anggota hakim Mahkamah Agung yang memiliki suara kuat soal kesetaraan gender, hak-hak pekerja, dan pemisahan antara gereja dan negara. Tahun 1999, ia mendapat penghargaan Thurgood Marshall dari American Bar Association atas kontribusinya terhadap kesetaraan gender dan hak-hak sipil. 

7. Penyakit 

hakim-ruth-bader-ginsburghakim-ruth-bader-ginsburg
Foto: Politico

Hakim Ruth Bader Ginsburg memiliki sejumlah isu kesehatan. Ia dirawat karena menderita kanker usus pada tahun 1999, kanker pankreas pada tahun 2009 dan kanker paru-paru pada 2019. 

Tahun 2020, ia kembali menerima perawatan karena gangguan kantung empedu. Kala itu juga kembali menjalani kemoterapi karena gejala kanker pankreasnya kembali muncul. 

8. Namanya Dikenal Luas

ruth-bader
Foto: Al Jazeera

Tahun 2016, Hakim Ruth Badre Ginsburg menerbitkan bukunya yang bertajuk My Own Words. Buku tersebut jadi New York Best Seller. 

Januari 2018, Ruth hadir di Sundance Film Festival dalam premiere film dokumenter yang merangkum perjalanan hidupnya, RBG. Karya tersebut berhasil mencuri hati publik dan masuk nominasi Oscar.

Kehadirannya begitu dipuja dan dirayakan di internet dengan meme “Notorious RBG” atau yang paling heboh adalah ‘Without Ruth We Can’t Spell Truth’. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here