Langkah Dinkes Jatim Tekan Angka Penderita TBC

0
22
angka-tbc-di-jawa-timur
Foto: Bayu Basu Seno/Nyata

Saat ini Indonesia menduduki peringkat ke tiga penderita tuberculosis (TBC) terbanyak di dunia, setelah India dan China. Untuk itu, Dinas Kesehatan di setiap provinsi berusaha menekan angka penderita TBC di daerahnya masing-masing. Tak terkecuali Dinkes Provinsi Jawa Timur. 

”Jatim menduduki urutan ke dua penderita TBC terbanyak di Indonesia,” kata Kepala Dinkes Jatim, Dr Kohar Hari Santoso dr SpAn KAP KIC, saat ditemui dalam Kongres Nasional dan Seminar Asosiasi Rumah Sakit dan Balai Kesehatan Paru Indonesia (ARSABAPI) 2019, di Surabaya, Jumat (27/9) lalu. 

Sudah banyak upaya yang dilakukan Dinkes Jatim, untuk menurunkan angka penderita TBC. Di antaranya, memerintahkan perawat yang berdinas di jajaran perangkat desa, untuk turun sampai ke bawah, memantau kesehatan masyarakat yang ada di wilayahnya. 

Selain itu Dinkes Jatim juga sudah melakukan pendampingan pada Pos Kesehatan Pesantren (Poskestren), untuk memantau kesehatan para santri.

Tak hanya itu, Dinkes Jatim bersama organisasi masyarakat, seperti Muslimat (Organisasi wanita Nahdlatul Ulama) dan Aisyiyah (Organisasi wanita Muhammadiyah) juga sudah melakukan konseling kesehatan kepada masyarakat dari pintu ke pintu.

Menurut Kohar, dengan adanya kegiatan yang sudah dilakukan Dinkes tersebut, diharapkan masyarakat paham tentang TBC.

”Dengan begitu, masyarakat bisa bersama-sama mengatasi TBC, sehingga tahun 2030 target eliminasi TBC dapat tercapai,” jelas Kohar berharap. 

Kohar juga menghimbau, bagi masyarakat yang terkena TBC segera memeriksakan diri ke pusat layanan kesehatan terdekat.

”Bagi penderita TBC yang tidak kebagian obat segera lapor ke Puskesmas atau Dinkes setempat. Karena obatnya gratis, dan stoknya juga cukup,” ujarnya. 

Kepala Dinkes yang menjabat dari tahun 2016-sekarang ini juga berharap melalui Kongres Nasional dan Seminar ARSABAPI 2019 ini, bisa merumuskan cara mengatasi TBC dan penyakit paru-paru lainnya yang ada di Indonesia. 

”Pertemuan ini dihadiri rumah sakit paru dan balai kesehatan. Dan ada pula mereka, para peminat tentang (kesehatan) paru, yaitu para dokter paru yang ada di Indonesia untuk merumuskan langkah dalam mengatasi TBC dan penyakit paru-paru lainnya,” ungkapnya. (*)