Terlalu Banyak Konsumsi Protein Pengaruhi Kesehatan? Ini Kata Dokter

Sumber Protein (Foto : Gettyimages)
Sumber Protein (Foto : Gettyimages)

Apa pun yang dikonsumsi secara berlebihan, akan memberikan dampak buruk bagi kesehatan, hal tersebut tak terkecuali pada protein. Sebenarnya, protein memiliki banyak manfaat bagi tubuh, khususnya bagi mereka yang sedang dalam program diet, terlebih lagi bagi mereka yang sedang membentuk otot.

Namun, kelebihan protein justru dapat menjadi bumerang bagi kesehatan tubuh. Dikutip dari Indian Express, Dr. Eileen Canday, HOD, nutrisionis dan ahli gizi dari Rumah Sakit Sir HN Reliance Foundation, India mengatakan jika mengonsumsi lebih dari dua kali lipat kebutuhan protein untuk jangka waktu yang lama, maka dapat menimbulkan risiko bagi organ vital untuk metabolisme limbah dari sistem tubuh.

Canday memaparkan, kelebihan protein dapat menimbulkan masalah kronis pada fungsi organ seperti, kardiovaskular, gangguan pembuluh darah, cedera hati dan ginjal hingga kerusakan lebih lanjut pada organ-organ tersebut dapat berakibat fatal.

| Baca Juga : Ingin Terlihat Ramping? Ini Tips Latihan Mengurangi Lemak Perut

Konsumsi protein secara berlebihanjuga telah dikaitkan dengan peningkatan risiko komplikasi pada orang dengan diabetes tipe-2. Selain itu, risiko kanker menjadi lebih tinggi bagi mereka yang mengonsumsi daging olahan secara berlebihan. 

Risiko lainnya, osteoporosis dan osteopenia jika mengonsumsi protein tanpa mineral esensial.

Terdapat efek samping berbahaya yang diakibatkan oleh konsumsi protein berlebihan di antaranya:

1. Meningkatnya Berat Badan

Meskipun kerap diklaim diet tinggi protein dapat membantu penurunan berat badan, namun jika seseorang melebihi kebutuhan kalori total maka hal tersebut akan disimpan sebagai cadangan energi yang menyebabkan peningkatan simpanan lemak.

Dengan kelebihan protein yang disimpan sebagai lemak, hal tersebut dapat mengganggu penurunan berat badan.

2. Merusak Ginjal

Kelebihan protein bahkan membahayakan pasien yang memiliki riwayat penyakit ginjal. Banyaknya jumlah nitrogen yang terkandung dalam asam amino yang membentuk protein adalah alasan di balik masalah ini. 

| Baca Juga : 6 Alasan Harus Makan Pisang Sebelum Olahraga

Ginjal yang telah rusak harus bekerja lebih keras untuk menghilangkan kelebihan nitrogen, hingga produk limbah dari metabolisme protein.

3. Meningkatnya Risiko Kanker

Diet tinggi protein tertentu, khususnya yang kelebihan protein berbasis daging merah, sering dikaitkan dengan peningkatan risiko beberapa masalah kesehatan, termasuk kanker.

Kanker kolorektal, payudara, dan prostat terkait dengan makan lebih banyak daging merah dan/atau daging olahan. Mengkonsumsi protein dari alternatif lain, di sisi lain, telah dikaitkan dengan risiko kanker yang lebih rendah.

4. Penyakit Jantung

Diet tinggi protein mencakup banyak daging merah dengan lemak jenuh dan produk susu penuh lemak dapat menyebabkan penyakit jantung. Hal tersebut dikaitkan dengan konsumsi lemak dan kolesterol yang lebih besar.

| Baca Juga : Jangan Dianggap Remeh, Ini Bahaya Kurang Minum Air Putih

Menurut sebuah penelitian tahun 2010, wanita dengan jumlah konsumsi daging merah dan produk susu tinggi lemak, memiliki risiko lebih tinggi terkena penyakit jantung koroner.

Ayam, ikan, dan kacang-kacangan terbukti mengurangi risiko. Makan daging merah dalam jangka panjang juga dapat meningkatkan trimetilamina N-oksida (TMAO), molekul yang diproduksi usus yang terkait dengan penyakit jantung, menurut sebuah penelitian tahun 2018.

Menurut Canday, jika seseorang ingin mengonsumsi protein tinggi, ada beberapa hal yang harus diperhatikan seperti identifikasi berapa banyak protein yang dibutuhkan tubuh. Kebutuhan protein setiap individu bergantung pada banyak aspek seperti berat badan, usia, tujuan komposisi tubuh, tahap siklus hidup, masalah medis.

Pilihlah sumber protein berkualitas seperti dari putih telur, produk susu rendah lemak seperti buttermilk, dadih, paneer atau keju cottage, kedelai atau tahu, daging tanpa lemak seperti ikan atau potongan ayam tanpa lemak, serta sumber lain seperti kacang polong, lentil, dal, kacang-kacangan dan biji-bijian.

Jika Anda menderita gangguan organ seperti gangguan hati, gagal ginjal, diabetes, kanker, atau kondisi medis yang memerlukan pemantauan ketat asupan protein, konsultasi dengan ahli gizi agar jumlah protein dapat dihitung dengan akurat.

| Baca Juga : 6 Makanan Ini Ternyata Bisa Picu Jerawat Muncul

Sambil menghindari konsumsi berlebihan, berhati-hatilah agar tidak menurunkan kadarnya sedemikian rupa sehingga menyebabkan kekurangan dan hilangnya massa otot.

“Orang sehat tidak perlu menggandakan atau melipatgandakan asupan protein mereka,” ujar Dr. Canday.

Umumnya orang yang aktif secara fisik seperti atlet, olah raga angkat beban selain itu, hamil, ibu menyusui atau orang yang sedang menjalani pengobatan kanker serta sedang menjalani cuci darah akan membutuhkan lebih dari 1 gram per kg berat badan, namun hal ini harus dilakukan dengan resep dokter atau ahli gizi. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here