Para Milenial Dibuat Baper Saat Belajar Mix & Match Kain Indonesia

0
1774
KCBI goes to campus
Foto: Nadhirul/Nyata

Siapa bilang mengenakan kain tradisional khas Indonesia, nggak keren? Siapa bilang kalau kain batik, tenun, jumputan ataupun songket cuma cocok dikenakan saat ke kondangan?

Dengan mix and match yang tepat, maka kain-kain indah dari nusantara itu bisa dikenakan dalam berbagai kesempatan. Mulai dari acara kasual hingga formal. 

peserta-kcbi-goes-to-campus
Foto: Nadhirul/Nyata

Jumat (23/8) kemarin, mahasiswi Fakultas Vokasi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS), berkesempatan untuk belajar soal Wastra Nusantara bersama Komunitas Cinta Berkain Indonesia (KCBI) Surabaya.

“Tujuan kami mengadakan KCBI Goes to Campus, kami berharap KCBI bisa menularkan budaya berkain pada generasi muda sebagai generasi penerus. Mengingat banyaknya budaya asing yang masuk ke Indonesia, sehingga generasi muda tidak melupakan jati diri asli Indonesia,” kata Ketua KCBI Surabaya, Windrati Wiworo dalam sambutannya.

cara-memakai-kain-tradisional
Ketua KCBI Surabaya, Windrati Wiworo sampaikan pentingnya memakai kain Nusantara. Foto: Nadhirul/Nyata

Lebih dari 100 orang yang hadir. Termasuk mahasiswi Fakultas Vokasi yang kompak mengenakan baju batik. Bahkan karena antusiasnya, mereka sudah membawa kain sendiri dari rumah untuk belajar mix and match langsung dari ahlinya. 

Benar saja, ketika diminta menjadi volunteer untuk praktik pemakaian kain, banyak sekali yang mengacungkan tangan. Dalam sesi tersebut, sederet anggota KCBI termasuk Windrati, turun tangan langsung mengajari para mahasiswi mengenakan kain dengan cara modis dan simpel.

“Kami akan menunjukkan kalau mengenakan kain Indonesia itu, tidak harus dengan style jaman dulu. Apakah kita mengenakannya harus (seperti zaman dulu) ada wirunya sembilan di bagian depan? Susah amat hidup ini. ‘I love my country with my style. Kekinian gitu kan‘, milenial bilang yah,” kata Enny Handayani, Wakil Ketua 1 KCBI.

Salah satunya mereka mengajarkan tentang model alibaba. Untuk model ini, sisi lebar kain cukup diikatkan ke belakang, lalu kain panjang dilewatkan melalui kedua kaki dan diikat di depan.

cara-pakai-kain-tradisional-simpel
Model alibaba. Foto: Nadhirul/Nyata

Tidak butuh waktu lama, cukup lima menit saja untuk membuatnya. Model ini cocok bagi kalian yang suka mengenakan celana.

Tak lupa, mereka juga memberikan tips dan trik mengenakan kain yang benar. Di antaranya adalah cara memakai kain batik dengan motif tertentu.

“Dalam mengenakan batik yang memiliki motif burung, kupu-kupu, atau bunga, jangan sampai memakainya terbalik (kepala burung/kupu-kupu/bagian atas bunga berada di bawah). Kurang bagus dilihatnya. Juga sebisa mungkin hindari menggunakan peniti, atau dipotong. Sehingga dalam penggunaanya, bisa memanfaatkan tali yang berbahan kain atau sabuk elastis,” tutur Windrati.

pemaparan materi 'Batik Tanda Cinta' oleh Noorlailie Soewarno
Pemaparan materi ‘Batik Tanda Cinta’ oleh Noorlailie Soewarno. Foto: Nadhirul/Nyata

Tidak berhenti sampai di sini saja, antusiasme mahasiswa kembali terasa ketika sesi pemaparan materi ‘Batik Tanda Cinta’ oleh Noorlailie Soewarno. Bahkan, tak jarang para mahasiswi baper dibuatnya.

Bagaimana tidak? Materi ini membahas berbagai jenis batik yang memiliki filosofi dan biasa digunakan sebagai tanda cinta.

Seperti kain batik Sido Asih yang berarti perlambang kehidupan manusia yang penuh kasih sayang, sedangkan Satrio Manah yang digunakan pria untuk melamar kekasih atau pujaan hatinya,” kata Noorlailie.

batik-sido-asih
Motif batik Sido Aasih. Foto: Nadhirul/Nyata

Mendengar hal tersebut, para mahasiswi langsung heboh dan baper dibuatnya. Dari 24 motif batik Nusantara yang dibahas, ada salah satu motif modern yang diberi nama Lope Lope. Sesuai dengan namanya, batik dari Bangkalan, Madura ini memiliki motif bentuk hati yang cantik. 

batik-lope-lope
Batik Lope Lope. Foto: Nadhirul/Nyata

Melihat antusiasme para mahasiswi tersebut, dekan Fakultas Vokasi UKWMS, Benedicta D. Muljani berharap mereka bisa semakin cinta dengan budaya Indonesia.

“Diharapkan melalui kegiatan ini, kita bisa bangga berkain Indonesia,” kata perempuan yang akrab disapa Bene tersebut.

dekan-fakultas-vokasi-universitas-widya-mandala
Benedicta D. Muljani. Foto: Nadhirul/Nyata

Sementara itu, komunitas yang telah tersebar di berbagai kota besar Indonesia seperti Jakarta, Surabaya, Bogor, Bandung, Malang dan Jember ini berharap, agar masyarakat Indonesia khususnya generasi muda semakin mencintai kain tradisional. 

“Jangan sampai nanti batik ini diakui oleh negara tetangga. Jadi ayolah kita sekarang yang pake gitu. Tentunya orang lain bakal tahu kalau itu warisan budaya kita, Indonesia,” ujar Windrati.

Bukan hanya dalam negeri, dengan misinya tersebut KCBI juga sudah tersebar hingga benua Amerika dan Australia, tepatnya di Kota San Fransisco dan Perth. Selain itu, dalam waktu dekat KCBI juga akan hadir di Singapura. (*)