Upaya Serius Pemerintah Provinsi Jatim Perangi Angka Stunting

0
146
tingkat-stunting-di-jawa-timur-1
Foto: Pindai News

Stunting atau balita berperawakan pendek, akibat kekurangan gizi jangka panjang, menjadi masalah yang krusial di berbagai negara di belahan dunia. Pasalnya, masalah ini mengancam generasi penerus bangsa ke depannya.

Stunting itu bukan masalah pendeknya (tubuh) tapi otak. Kalau balita kekurangan gizi, maka asupan nutrisi ke otak kurang. Bila masalah ini tak diatasi sampai usia anak dua tahun, maka dewasanya kelak IQ di bawah rata-rata. Sehingga mereka nggak bisa kerja kantoran tapi kuli,” kata Prof. Dr. dr. Damayanti Rusli Sjarif SpA (K), dari Divisi Nutrisi Pediatrik dan Penyakit Metabolik, Departemen Ilmu Kesehatan Anak Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) dalam acara Aksi Cegah Stunting di Dinkes Provinsi Jatim, Selasa (30/7).

Berdasarkan data World Health Organization (WHO), di tahun 2018 lalu, sebanyak 180 juta balita di dunia mengalami stunting. Sebesar 55 persen balita di Asia mengalami stunting. Indonesia menempati peringkat ke tiga untuk kasus stunting terbanyak setelah Laos dan Kamboja.

tingkat-stunting-di-jawa-timur
Foto: Bayu Basu Seno/Nyata

Sedangkan di dunia, Indonesia menempati urutan ke lima untuk kasus stunting terbanyak setelah India, Nigeria, Pakistan, dan China.

”Memang penduduk Indonesia banyak, yakni 267 juta jiwa. Tapi masalah ini nggak bisa dibiarkan,” ujar Damayanti.

Menurut Damayanti, stunting tidak hanya disebabkan oleh faktor kemiskinan, tapi juga ketidaktahuan orangtua terhadap asupan makanan yang dikonsumsi anaknya.

”Banyak pasien saya kendaraannya BMW, tapi anaknya stunting,” ungkapnya.

Berkomitmen mengurangi stunting

Sementara itu, menurut Wakil Gubernur Provinsi Jatim, Emil Dardak, diperkirakan jumlah balita yang mengalami stunting di Jatim sekitar 30 persen.

”Coba bayangkan kalau kira-kira angka stunting kita 30 persen, dan 75 persen dari yang stunting kemungkinan IQ-nya di bawah rata-rata. Sekarang bagaimana caranya kita mengentaskan kemiskinan, kalau sampai 75 persen dari yang stunting itu mengalami keterbatasan intelektual, ini kan susah. Jadi ini menjadi PR yang sangat urgent,” ujar Emil saat ditemui dalam kesempatan yang sama.

Untuk menekan angka stunting di Jatim, Pemprov melalui Dinkes Jatim akan melakukan kerja sama dengan tim Prof. Damayanti. Tim mereka berhasil menurunkan angka stunting hingga tiga kali lipat dari target yang ditetapkan WHO di Desa Banyumundu, Pandeglang, Banten.

Tak hanya itu, Dinkes Jatim juga menggandeng Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Ditjen Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT), dalam menekan angka stunting.

Tujuan Dinkes menggandeng Ditjen PDT, karena selama ini banyak kepala desa yang menggunakan dana desa yang dikucurkan pemerintah pusat, hanya untuk pembangunan infrastruktur.

”Kami bersama pemerintah desa sudah berkomitmen. Dana desa juga digunakan untuk kebutuhan kesehatan. Buku dana desa 2020 untuk kesehatan sudah ada kok. Anggarannya juga nggak besar-besar amat,” ujar Emil.

Bergerak untuk kurangi angka stunting

Saat ini di Jatim, ada 12 kabupaten dan kota yang menjadi lokus stunting. ”Sebenarnya di Jatim ada 38 kabupaten dan kota, tapi yang jadi lokus stunting ada 12 kabupaten dan kota. Itu langsung ditentukan oleh Setwapres (Sekretariat Wakil Presiden). Menurut kami, 38 kabupaten dan kota masih ada balita yang stunting, maka dari itu kita harus bergerak semua dalam menangani stunting,” ujar Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Vitria Dewi, saat dijumpai dalam kesempatan yang sama juga.

Vitri mengimbau kepada seluruh masyarakat Jatim yang mempunyai balita, untuk rutin setiap bulan membawa anaknya ke Posyandu. Hal itu dilakukan untuk pencegahan dan penanganan dini stunting.

”Apalagi Agustus ini adalah bulan timbang. Tak ada satu pun balita yang tidak ikut penimbangan di bulan Agustus ini. Nanti kalau ada balita yang nggak datang ke Posyandu, kader akan mendatangi rumahnya,” beber Vitri.

Saat ini Dinkes Jatim sedang melakukan pendataan jumlah balita yang ada di Jatim. Sampai per 19 Juli 2019 lalu, Dinkes sudah mendata 2.800.000 balita.

”Masih 1.600.000 balita yang belum kami data. kami mendatanya by name, by address. Baru akhir Agustus nanti akan kami kasih tahu angka stunting yang sebenarnya di Jatim,” ungkap Vitri. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here