Bermusik Tanpa Beban, Chandelier Choir Borong 3 Emas untuk Indonesia!

0
166
Foto: Dok. Panitia SICF 2018

Kelompok paduan suara independen asal Surabaya, Chandelier Choir, membawa pulang 3 emas dari kompetisi internasional Singapore International Choral Festival 2018, yang berlangsung pada 19-22 Juli 2018 kemarin.

Chandelier Choir mengikuti 3 kategori lomba yaitu kategori Mixed Voice Open, Sacred dan kategori Folklore. Dari ketiga kategori yang mereka ikuti tersebut, kelompok paduan suara arahan conductor Ageng Pujarachman ini, berhasil mendapatkan predikat emas di setiap kategorinya.

Baca juga: Jarak Tak Jadi Penghalang Chandelier Choir Berlaga di Kancah Internasional

Foto: Dok. Panitia SICF 2018

Lagu Evening, Das Madchen, dan Gloria Patri berhasil mengantarkan mereka menjadi 3rdplace pada kategori Mixed Voice Open. Kompetisi ini diikuti oleh 63 tim dari berbagai negara seperti Tiongkok, Singapura, India, Indonesia, Polandia, Kanada, Filipina, dan Korea.

Foto: Dok. Panitia SICF 2018

“Bersyukur sekali sudah bisa mendapatkan 3 Gold Medal, karena mengingat perjuangan kami untuk bisa mewujudkan mimpi berkompetisi di kancah international tidaklah bisa dibilang mudah. Persiapan yang hampir setahun belakangan terbayar sudah. Tak bisa diungkapkan, hanya rasa syukur dan bangga sama teman-teman,” ungkap Ageng Pujarachman, conductor sekaligus Music Director Chandelier Choir.

Baca juga: Baru 2 Bulan Pacaran, Nick Jonas dan Priyanka Chopra Tunangan!

Terkait dengan kompetitor dan berbagai tantangan di internal tim, Ageng mengaku bahwa peran masing-masing pribadi anggota tim, sangat berperan untuk saling menguatkan satu sama lain.

Foto: Dok. Panitia SICF 2018

“Karena berjuang tanpa lelah dan tanpa mengeluh, bahkan saling memberikan kekuatan dan dorongan. Saingan yang tidak bisa diremehkan juga merupakan tantangan tersendiri, apalagi di atas panggung. Karena kami gak sempat uji coba panggung (sebelum lomba berlangsung), alhasil benar-benar mencoba sebaik mungkin menampilkan yang terbaik,” imbuhnya.

Foto: Dok. Panitia SICF 2018

Berkomitmen mengikuti kompetisi, dengan anggota tim yang terpencar-pencar di Jakarta, Surabaya, Mojokerto, Malang, dan Jember, tak menghambat keinginan mereka untuk tampil maksimal saat kompetisi. Tak hanya mengerahkan seluruh tenaga, saat di Singapura pun seluruh anggota tim tak lupa untuk beribadah bersama pada dini hari waktu setempat.

Baca juga: Anak Denada: Shakira Mukanya Kenapa Begini? Shakira Kenapa Botak, Ibu?

“Kami selalu mencoba mengingat, bahwa Chandelier itu tempat mengekspresikan diri melalui musik. Maka bermusiklah tanpa henti. Motto kami adalah ‘bersenang-senang sambil bermusik’. Plus kami tetap saling menguatkan satu sama lain. Bahkan kami selalu bangun pukul 02.00 untuk berdoa bersama sesuai agama masing-masing. Disitulah sumber kekuatan kami,” ujar alumni Fakultas Psikologi Universitas Airlangga tersebut.

Foto: Dok. Panitia SICF 2018

Ageng juga menambahkan, bahwa tujuan yang diraih tak melulu soal prestasi. “Menurutku di Chandelier ini yang ingin kita raih, adalah bagaimana kita bermusik tanpa beban. Yang mana bukan prestasi yang menjadi poin utama, namun bermusik itu sendiri. Rindu ingin bermusik, ya bermusik disini, di Chandelier. Juara? Itu bonus,” pungkasnya.

Singapore International Choral Festival 2018 berakhir dengan keluarnya 上海黄浦区青少年艺术活动中心春天少年合唱团 dari Shanghai, Tiongkok sebagai grand champion, dan berhak untuk berlaga pada 1st Asian Grand Prix di Manila, Filipina 2019 mendatang.