Rajin Olahraga Berpotensi Kena Serangan Jantung? Ini Faktanya

Ilustrasi Serangan Jantung Ketika Olahraga (Foto : Gettyimages)
Ilustrasi Serangan Jantung Ketika Olahraga (Foto : Gettyimages)

Ada beberapa kejadian seseorang tiba-tiba meninggal saat sedang berolahraga. Kebanyakan terkena serangan jantung. Bagaiman itu bisa terjadi? Padahal ada banyak jurnal dan artikel yang membahas manfaat olahraga untuk kesehatan jantung.

Dikutip dari Kompas, Dokter Spesialis Jantung dan Darah di RS Pusat Jantung Harapan Kita, Prof. Dr. dr. Yoga Yuniadi Harkit, Sp.JP(K) menuturkan, penyebab seseorang yang rajin berolahraga mengalami serangan jantung adalah kelalaian mereka melakukan pre-participation screening.

“Sebetulnya gini, karena mereka sebelumnya tidak melakukan Pre-participation screening, jadi screening kesehatan sebelum melakukan aktivitas fisik olahraga atau kompetisi olahraga,” kata dr. Yoga. 

| Baca Juga : Sering Marah Dapat Memicu Serangan Jantung, Ini Faktanya

“Itu penting untuk dilakukan, karena kita merasa sehat dengan rajin olahraga itu kan belum tentu kita sehat dalam konteks yang sebenarnya,” lanjutnya. 

Dalam pemeriksaan awal, banyak hal dilakukan, salah satunya mengecek kesehatan jantung melalui elektrokardiogram (EKG). Yoga menyebut, apabila kondisi tidak sehat tapi dipaksakan untuk melakukan aktivitas olahraga, maka bisa memicu akibat yang fatal. 

“Kalau dia selama ini status kesehatannya critical, kemudian dibawa olahraga seperti itu, bisa memicu serangan (jantung),” ucap dia. 

| Baca Juga : Hati-Hati, Stress dan Kafein Bisa Ganggu Irama Jantung

Dia turut memaparkan, seringkali penyakit jantung dimiliki seseorang tanpa terdeteksi sejak awal. “Pada dasarnya mereka tidak tahu bahwa sebetulnya mereka sudah punya penyakit jantung yang tidak terdeteksi sebelumnya,” ujarnya. 

Karena dasar itu, Yoga menyarankan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan menyeluruh jika dinilai rawan terkena penyakit jantung. 

Menurut dokter spesialis jantung dan pembuluh darah tersebut, riwayat keluarga dan gaya hidup menjadi salah satu faktor risiko terkena penyakit jantung, tapi itu bukanlah satu-satunya indikator.

“Karena kan keturunan hanya salah satu faktor risiko, ada faktor risiko lain yaitu kolesterol, hipertensi, diabetes, merokok. Orang juga semakin dimudahkan mengonsumsi fast food,” jelas dr. Yoga. 

Tak hanya itu, aktivitas masyarakat sekarang juga telah meminimalisir gerakan fisik. Semakin canggihnya teknologi, membuat banyak aspek kehidupan berubah sehingga tidak menuntut banyak kerja fisik. Misalnya, bepergian menggunakan kendaraan bermotor dan jarang berjalan kaki, atau bekerja lebih banyak di dalam ruangan.  

Faktor lain yang memicu risiko penyakit jantung adalah kelebihan berat badan atau obesitas. Dokter Yoga menyebut, bagian perut yang besar dari laki-laki dapat memicu penyakit jantung koroner. Namun hal itu bukan berarti seseorang dengan badan kurus tidak berisiko terkena serangan jantung.

| Baca Juga : Serangan Jantung Intai Usia Muda, Penting Lakukan Deteksi Dini

“Bisa saja badannya kurus tapi kolesterolnya tinggi, bisa jadi ada hipertensi, bisa jadi kurus karena diabetes,” jelas dr. Yoga.

Menurut dr. Yoga, 30-50 persen kematian yang diakibatkan oleh serangan jantung terjadi secara mendadak. Untuk orang-orang yang gemar berolahraga, kejadian ini banyak terjadi pada pesepeda. 

“Sebetulnya, lari, tenis juga termasuk banyak. Tetapi yang secara statistik sih paling bayak pesepeda,” kata dia. 

Untuk itu, menjadi penting bagi setiap orang untuk melakukan pre-participation screening sebelum menggeluti satu olahraga tertentu secara rutin. 

Itu penting untuk mengetahui kondisi badan kita secara menyeluruh sebelum memaksanya melakukan aktivitas yang mungkin sebenarnya mengancam keselamatan, karena porsi bebannya tidak sesuai dengan kemampuan tubuh. 

“Sebetulnya awal berolahraga itu harus dilakukan, selanjutnya apakah harus menjadi rutin itu tergantung dari hasil pemeriksaan awal itu,” pungkasnya. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here