Terdakwa Pelecehan Seksual SMA Selamat Pagi Indonesia Tidak Dipenjara, Arist Merdeka Sirait Geram!

arist-merdeka-sirait-kawal kasus spi
Arist Merdeka Sirait kawal kasus kekerasan dan pelecehan seksual SMA Selamat Pagi Indonesia. (Dok. Instagram @aristmerdeka.official)

Bejat dan tidak berperikemanusiaan, itulah kata-kata yang tepat untuk menggambarkan Julianto Eka Putra, pemilik sekaligus pendiri SMA Selamat Pagi Indonesia, Kota Batu, Jawa Timur. Pria asal Surabaya itu tega melakukan kekerasan dan pelecehan seksual kepada 14 orang gadis di bawah umur yang notabenenya adalah anak didiknya sendiri.

Kasus ini sangat memprihatinkan. Sebagai Ketua Komnas Perlindangan Anak (KPAI) Pusat, Arist Merdeka Sirait membuka suara. “Itu menjadi problem kita untuk melindungi mereka. Kekerasan dan pelecehan seksual ini termasuk kejahatan yang tersembunyi. Ini berat, tapi kami akan memperjuangkannya,” katanya, Selasa (10/5) kemarin.

Perlu diketahui, untuk membuktikan adanya kejahatan seksual, korban atau pihak pelapor harus menghadirkan saksi kunci kuat yang tidak sekadar mendengar, tetapi juga melihat kejadian tersebut. Inilah yang menurut Arist jadi tantangan tersendiri, sebab hampir dipastikan ketika pelaku melancarkan aksinya, tidak ada saksi melihat.

“Apalagi, para korban telah dimanipulasi, dicuci otaknya sehingga mereka menganggap itu ‘kasih sayang’ seorang Ayah kepada anaknya, bukan pelecehan,”

“Laki-laki ini kasih bujuk rayu ‘Sebelum kamu dicintai orang, kamu harus mencintai aku dulu, karena aku ini Bapakmu‘. Nah anak-anak ini nurut karena Bapaknya yang bilang. Coba kalau Aris yang bilang, pasti nggak didengar kan,” tambahnya.

aris merdeka sirait saat audiensi kasus pelecehan seksual sma selamat pagi indonesia
Arist Merdeka Sirait saat melakukan audiensi kepada Redaksi Nyata, Selasa (10/5) sore. (Dok. Redaksi Nyata)

| Baca juga: Founder SPI Kota Batu Dilaporkan Atas Dugaan Kasus Pelecehan Seksual

Pria 61 tahun itu sedang mendampingi kasus hukum tak biasa. Seorang pria dengan kekuasaannya berani meremehkan proses hukum. Sudah berstatus sebagai terdakwa malah bebas melang-lang buana.

“Berpotensi dihukum maksimal, hukuman mati tetapi terdakwa dalam persidangan TIDAK PERNAH DITAHAN,” ujarnya saat melakukan audiensi ke Redaksi Nyata. “Terdakwa bahkan menyerang balik dengan menuduh korban sebagai wanita nakal,” sambungnya.

Tidak hanya itu, yang lebih mencengangkan lagi Ko Jul pede menghadiri persidangan kekerasan dan pelecehan seksualnya dengan baju bebas dan diantar jemput menggunakan mobil mewah. Meski begitu, Arist berjanji akan terus mengawal kasus ini.

julianto-eka-putra-pendiri-sma-selamat-pagi-indonesia
Julianto Eka Putra pendiri dan pemilik SMA Selamat Pagi Indonesia. (Dok. Suarajatimpost)

| Baca juga: Jurnalis Australia Terjang Reruntuhan Gempa Palu Demi Nyawa Kucing

Arist pun mengungkapkan kepada kami, kalau korban sebanyak 14 orang yang tengah menjadi saksi di persidangan bukanlah jumlah sebenarnya. Masih banyak lagi para korban yang enggan bersaksi karena sudah disuap, diteror, bahkan diancam akan dibunuh.

Mengantisipasi hal ini, Arist telah menempatkan dan membina 14 korban tersebut ke LPSK (Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban) yang tersebar di beberapa wilayah di Indonesia.

”Meski mereka ada di bawah naungan LPSK, tetap kita ajarkan untuk tetap waspada dengan tidak memberitahu identitas pribadi kepada orang asing,” kata Arist.

Perlu diketahui Ko Jul dilaporkan dengan Pasal berlapis. Terdakwa akan dijerat dengan empat pasal dalam bentuk alternatif, yakni Pasal 81 Ayat (1) juncto Pasal 76 D UU 23 Tahun 2002 yang diubah UU 17 Tahun 2016 tentang Perlindungan Anak. Serta Pasal 81 Ayat (2) dan Pasal 82 Ayat (1) UU Perlindungan Anak serta pasal 294 ayat 2 KUHAP.

Atas kejahatannya melakukan kekerasan dan pelecehan seksual terhadap siswi SMA Selamat Pagi Indonesia, Julianto Eka Putra bisa mendapatkan hukuman 12 sampai maksimal 20 tahun penjara. Hukuman ini tentu dirasa kecil oleh korban yang mengharap tersangka bisa dijatuhi hukuman seumur hidup bahkan hukuman mati. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here