Penulis Cilik ini ’Galau’ Setelah Lihat Ondel-ondel Ngamen

0
40
Foto: Why/Nyata

Ada pemandangan yang tak biasa bagi Frances Caitlin Tirtaguna, ketika melihat Ondel-ondel menari-nari sambil meminta uang. Di benak anak berusia 15 tahun ini, Ondel-ondel merupakan simbol kebudayaan Betawi. ”Tapi mengapa, kok minta-minta uang,” bisik Frances dalam hatinya.

Apa yang dilihat siswi kelas 10 Binus School Simprug, Jakarta Selatan ini, rupanya jadi bahan pikiran. Apalagi ondel-ondel yang dilihatnya di tengah kemacetan itu, terlihat lusuh sekali.

”Ini yang buat aku penasaran dan ingin tahu lebih, tentang sejarah ondel-ondel itu seperti apa. Makanya di sini aku melakukan riset ke kampung Betawi di Setu Babakan untuk mencari informasi,” jelas Frances saat launching buku Ondel Ondel Galau di Binus School Simprug, Jakarta Selatan, belum lama ini.

Baca juga : 14 Aturan Fashion Kerajaan Inggris yang Jarang Diketahui

Di hadapan para tamu undangan, media dan teman-temannya, Frances menceritakan keresahannya.

”Aku bertemu dengan budayawan Betawi. Namanya Bang Indra, beliau berbagi infromasi tentang sejarah Betawi khususnya ondel-ondel,” kenang Frances yang saat itu melakukan riset selama satu bulan.

 

Baca juga : Merdu dan Menyentuh, Konser Children of Lights 3 Pukau Penonton

Putri bungsu dari dua bersaudara pasangan Lukman Tirtaguna dan Djohariah Sastradiharja ini, mengaku takjub pada budaya Betawi. Segenap pikirannya ingin menuliskan dalam sebuah karya tulis.

”Ternyata setelah mendengar cerita Bang Indra, ternyata kebudayaan Betawi ini sangat kaya sekali. Apalagi kulinernya seperti, kerak telor, kue rangi, soto Betawi, roti buaya, nasi uduk dan masih banyak lagi. Aku suka sekali,” seru Frances.

Buku Ondel Ondel Galau karya Frances ini, akhirnya selesai dikerjakan selama beberapa bulan saja. Sebelumnya, Frances pernah mengeluarkan buku berjudul Lost in Bali tahun 2014 lalu.

”Ini buku kedua aku, setelah buku pertama saat aku berusia 12 tahun. Aku memang suka menulis sejak kecil. Dari dulu aku sukanya cerita sama mami. Mungkin karena mami capek dengerin aku cerita, makanya aku bikin tulisan. Ternyata dari situ aku jadi suka menulis,” kenang Frances.

Baca juga : Tragis! Seorang Pria Tewas Saat Nonton Avengers: Infinity War

Tak hanya pandai menulis saja, gadis kelahiran 25 September 2002 ini baru saja meraih penghargaan. Frances mewakili Indonseia di Asia Pasific Young Leaders Convention 2018 di Singapura.

Acara yang mengusung tema Embracing Unity, Valuing Diversity ini diikuti enam negara. Frances mendapat juara pertama kategori Place for Overall (Mixed Countries) Team Presentataion.