Lewat Seni, Fotografer Surabaya Sikapi Rasisme di AS saat Pandemi

foto-virus-corona-fotografer-indonesia
Foto: Dok. Pri

Pandemi Covid-19 yang terjadi sekarang ini ternyata memicu terjadinya rasisme di Amerika Serikat (AS). Terutama pada orang-orang Asia dan Asia-Amerika. Sebab, virus corona berasal dari Wuhan, China. Hal itu diungkap oleh seorang fotografer fashion dan selebriti asal Surabaya yang tinggal di Los Angeles, AS, Reinhardt Kenneth.

”Populasi di Amerika Serikat kan diverse banget. Tapi alhasil, dari kasus Covid-19 akhirnya banyak orang Asian American (dari seluru penjuru Asia) yang jadi korban hate crime,” ungkap Reinhardt. ”Parah banget di AS. Terutama di New York & Midwest,” imbuh pria keturunan Indonesia-China itu.

Reinhardt mengaku emosi setelah liputan berita tentang kebencian dan retorika berbahaya yang menargetkan orang Asia dan Asia-Amerika di AS. Dia mendengar banyak kisah memilukan seputar rasisme akibat pandemi Covid-19.

Foto: DOK. PRI

Mulai anak kecil yang didorong karena batuk di depan umum, hingga berita yang melaporkan kejahatan kebencian, seperti penikaman anak berusia dua tahun.

”Ada seorang teman sekolah menengah saya di New York yang mengaku dilecehkan secara verbal, karena dianggap telah menyebarkan virus corona,” ungkap Reinhardt. ”Hal itu membuat saya sedih dan takut hingga menyalahkan diri sendiri,” imbuh anak pertama dari tiga bersaudara itu.

Menurut Reinhardt, banyaknya orang yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi Covid-19 membuat mereka bereaksi tidak rasional. Bahkan jadi mudah menyalahkan orang asing karena tertular virus, hanya dengan melihat penampilan mereka.

”Hai, virus ini tidak punya wajah. Penampilan fisik Asia kami tidak ada hubungannya dengan coronavirus. Apa yang terjadi di Amerika Serikat ini membuktikan bahwa kebencian adalah virus mental yang besar,” tandasnya.

Karya Seni

Kondisi rasisme yang terjadi di AS membuat Reinhardt tergerak untuk membuat project photoshoot bertajuk #HateIsVirus. Project itu mengampanyekan betapa berbahayanya kebencian dan rasialisme di tengah pandemi Covid-19 sekarang ini. Untuk itu, dia menuliskan We are Not Virus!

”Jadi, photoshoot ini bukan bukan tentang Corona, tetapi lebih ke to bring awareness against the error in human behavior in the age of Coronavirus,” katanya.

Foto: DOK. PRI

Reinhardt bersyukur tidak menemui kesulitan berarti selama menyiapkan project itu. Bahkan dia hanya butuh waktu satu minggu untuk menyiapkan project-nya.

”Lokasi langsung disponsori oleh Haven City Market. Mulai dari produser saya Thomas Bang hingga seluruh tim sangat amat lancar. Sesampai di lokasi aja gudangnya sudah penuh properti yang sangat cocok,” ungkapnya, bersyukur.

Baca juga: Gara-Gara Corona, Via Vallen Tuai Pro dan Kontra

Dalam project-nya, Reinhardt menyiapkan empat tampilan, yaitu:

1. Mass Hysteria

Foto: DOK. PRI

Tema ini terinspirasi dari sikap tidak rasional bila ada ketakutan dan kebencian. Itu digambarkan dengan gadis-gadis bergaun dengan masker beterbangan. ”Karena itu, saya mengajak agar merasionalisasi ketakutan kita dan mengubahnya menjadi tindakan pencegahan yang masuk akal, tetapi masih saling menjaga satu sama lain,” terang Reinhardt.

2. Anti Xenophobia

Foto: DOK. PRI

Tema ini menampilkan model yang memerankan para pejuang Asia yang selamat dari pandemi setelah mengalami xenophobia dan kejahatan rasial. Kata-kata seperti Chinese Virus, Kung Flu, I am not a Virus dan Hate is A Virus melengkapi penampilan mereka.

3. Pan!c Buying

Foto: DOK. PRI

Tema ini menampilkan gadis-gadis yang berpose di depan kuburan troli atau kereta belanja. Ini mengacu pada keserakahan, karena kelangkaan produk yang terjadi akibat penimbunan dan panic buying.

4. Power Play Privilege

Foto: DOK. PRI

Tema ini menampilkan dua gadis yang dibalut busana warna-warna cerah monokromatik. Terlihat, gadis-gadis ini berbaring di lautan limbah terkait coronavirus. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here