Dua Anak Gadis Bunuh Ayah Kandung, Kasih Sayang Dibalas Pembunuhan

Dua anak gadis ini tega bunuh ayah kandungnya. (Foto: Istimewa)
Dua anak gadis ini tega bunuh ayah kandungnya. (Foto: Istimewa)

Apa yang dilakukan kakak beradik, Karin dan Putri (14) ini sangat tidak masuk akal. Gara-gara akan dilaporkan ke polisi karena tak mengakui telah mencuri kartu ATM dan buku tabungan, dua anak gadis itu tega bunuh ayah kandung mereka, Syafri (55), Rabu (28/6) lalu.

Karin membunuh ayahnya yang sedang tidur menggunakan pisau dapur. Remaja berusia 15 tahun itu menusuk dua kali. Sementara Putri memukul kepala ayahnya menggunakan kayu papan cucian.

Syafri sempat mencoba melawan, namun tubuhnya roboh di kasur dengan bersimbah darah. Kakak beradik itu lantas melarikan diri. Putri lebih dulu meninggalkan rumah sekaligus toko.

Tidak berapa lama, Karin yang pergi setelah sebelumnya menggembok dari luar. Ia juga membawa HP dan motor milik ayahnya.

| Baca Juga: Fakta Mencengangkan Anak Kandung Bunuh Ayah di Pondok Bambu

Kematian Syafri baru diketahui dua hari kemudian, Jumat (28/6) oleh Imam, salah seorang karyawannya. Imam curiga, sudah dua hari toko tutup. Ia pun membuka toko secara paksa.

Imam mencoba menghubungi Syafri, namun tidak ada jawaban. Demikian pula Karin dan Putri juga dihubungi. Pesan hanya dibaca tapi tidak dibalas. Akhirnya Imam terpaksa memotong gembok menggunakan gerinda, sebab ia harus mengambil dagangan yang dititipkan untuk dijual esok pagi.

Ancam Dilaporkan

Setelah diperiksa polisi, Karin mengaku telah membunuh bapaknya karena sakit hati sering dimarahi, dipukul dan tak diberi makan. Imam terkejut mendengar pengakuan Karin dan Putri itu.

”Kok bisa sih, kok tega sih. Tak ada perasaan kasih sayang sehingga mereka membunuh ayah sendiri,” ucap Imam ketika ditemui Senin (1/7), saat hendak membuka lapak dagangan di pinggir Kanal Banjir Timur (KBT), RT 01/RW 03, Pondok Bambu, Duren Sawit, Jakarta Timur.

| Baca Juga: Ada Tersangka Baru, Kasus Anak Bunuh Ayah Kandung di Jakarta

Imam menceritakan, Syafri memang marah-marah ketika mengetahui buku tabungan dan kartu ATM yang disimpan dalam dompet, hilang. Syafri baru mengetahui ATM itu hilang pada Minggu (23/6), sore.

Malam harinya, Syafri bertanya kepada Imam. ”Mam, lu lihat buku tabungan ama ATM nggak? Nggak tahu pak, kan baru bangun sayanya,” ujar Imam.

Syafri minta tolong dicarikan. Imam membantu mencari, dari depan hingga ke belakang, semua tempat diperiksa, tak ada. Imam menanyakan, apakah salah taruh di mana, lupa atau terjatuh.

Keesokan harinya Syafri memanggil Imam maupun kedua putrinya. Satu-satu ditanya. ”Lu benaran Mam, nggak ngambil. “Benaran pak, buat apa, ngerti aja kagak,” sahut Imam.

Hari ketiga, Syafri rupanya sudah kehilangan kesabaran. Ia kembali memanggil Imam, Karin dan Putri. ”Kita bertiga diancam akan dilaporkan ke polisi,” tutur Imam. Ancaman korban itulah, yang membuat kedua anak perempuannya itu, takut dan membunuh bapaknya.

Kisah Pilu ini selengkapnya bisa dibaca di Tabloid Nyata Print, Edisi 2762, Minggu ke I, Juli 2024.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here