Rahasia di Balik Kesuksesan Dilan 1990 dan 1991

0
53
film-dilan-1991-5
Foto: YouTube Max Pictures

Ody Mulya Hidayat, produser film Dilan 1991 (2019), bisa saja tersenyum puas karena film yang diproduksi sukses di sukai penonton. Hampir semua produksi MAX Picture itu meraup banyak penonton.

Hingga 28 Maret, Dilan 1991 telah meraup penonton sebanyak 5,2 juta, setelah dirilis sebulan lalu, pada 28 Februari. Sedang film Dilan 1990 (2018) yang dirilis Januari 2018 mendapatkan 6,5 juta penonton, setelah diputar selama 1,5 bulan.

Baca juga: Mengintip Keseruan Konvoi 1000 Motor di Hari Dilan

Saat tayang, Dilan 1991 harus bersaing dengan Captain Marvel (2019).

“Kalau saja nggak berbarengan dengan (film) Captain Marvel, saya yakin bisa meraup penonton sama dengan film Dilan 1990,” ujar Ody, dalam Diskusi Film peringatan Hari Film Nasional ke-69, yang diselenggarakan oleh Forum Wartawan Hiburan (Forwan) di Gedung Film, jalan Gatot Subroto, Jakarta Pusat, Kamis (28/3) kemarin.

Pembicara dalam diskusi tersebut di antaranya Ody Mulya Hidayat, Ahmad Yani Basuki, Ketua Lembaga Sensor Film (LSF), Ketua GPBSI Jhoni Syafrudin, SH., Dian Srinursih dari Pusbang Film, serta wartawan film, Yan Wijaya, Dimas Supriyanto, Niny Sunni dan Didang Prajasasmita.

Baca juga: Perjuangan Berat Umay Shahab untuk Jadi Polisi

Dapat meraih penonton dalam jumlah besar, diakui Ody sebagai prestasi yang luar biasa. Namun di balik itu, perlu kerja keras dalam memilih tema yang disukai kalangan milenial.

Meskipun memiliki tren kenaikan penonton, dan jumlah produksi setiap tahun, film nasional belum mampu menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Dominasi film impor masih menguasai layar bioskop Indonesia, sehingga film Indonesia tertekan.

Oleh karenanya, Ody mengimbau sineas untuk lebih bekerja keras menghasilkan film-film berkualitas, sehingga mampu bersaing dengan film impor.

“Bagaimana sineas menghasilkan film bagus, yang bisa mendatangkan minimal 1 juta penonton tiap satu produksi,” kata produser film Bulan Terbelah di Langit Amerika (2015) itu.

Baca juga: Luna Maya Masuk Dalam Daftar 99 Wanita yang Menginspirasi

Ketua LSF, Ahmad Yani Basuki menanyakan, apakah Ody melakukan riset sebelumnya? Ody menjawab, “Iya, saya membawa semua novel best seller, memilih konten yang menarik, harus punya banyak  referensi.”

Ody yakin dalam kurun waktu lima tahun ke depan, film Indonesia akan diperhitungkan dunia internasional. “Saya sangat menjaga kualitas. Kita akan bisa bersaing. Minimal kita bisa membayang-bayangi film impor,” tegasnya.

Foto bersama Forum Wartawan dengan Ody (pegang mic), Ahmad Yani Basuki, Djoni Syafruddin (rambut putih) (Foto: Istimewa)

Djonny Syafruddin, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Bioskop Seluruh Indonesia (GPBSI) mengimbau, agar pembuat film mau berkonsultasi dengan pihak bioskop, untuk mengetahui film apa saja yang disukai penonton.

“Tidak semua film impor disukai penonton. Contohnya Mission: Impossible, masih kalah bersaing dengan film-film daerah yang dibuat di Makassar. Makanya, ketemulah pembuat film dengan pemilik bioskop, kita diskusi untuk mengetahui pasar yang benar bagi film Indonesia,” kata Djonny. (*)