A Story of Wounds, Angkat Isu KDRT Dalam Drama Musikal

0
119
A Story of Wounds. Foto: Adi Wiratmo

Nina berjalan pelan saat memasuki ruangan studionya. Tangannya kemudian dengan lihai menggoreskan kuas di atas kanvas.

Diiringi alunan musik piano, Ruben Tanadi masuk dan duduk di sofa dalam studio itu dalam keadaan mabuk. Dengan kemeja dan celana yang rapi, suami Nina itu datang dengan memegang sebotol minuman keras.

Plak! Tamparan Ruben mendarat di muka Nina, usai rentetan ucapan kasar yang ia lontarkan kepadanya. Bukan kali ini saja, Ruben dan Nina terlibat pertengkaran. Dan bukan kali ini saja, Ruben lakukan tidak kekerasan kepada istrinya.

Baca juga: Suguhkan Cerita yang Tak Biasa, Pertunjukan Going Home Tuai Pujian

Isu kekerasan dalam rumah tangga bergema lagi, Sabtu malam lalu (23/2), di Amphiteathre Q Building UK Petra, Surabaya. Petra Little Theatre (PLT) dan Kelas Stage Production program English for Creative Industri (ECI) Universitas Kristen Petra Surabaya, menampilkannya dalam bentuk drama musikal bertajuk Story of Wounds.

Dengan kata lain, sebuah cerita tentang luka. Menurut penulis naskah, Jessie Monika isu kekerasan dalam rumah tangga masih tabu dibicarakan di masyarakat.

“Saya mengangkat kisah ini karena prihatin dengan maraknya domestic violence atau KDRT, yang banyak terjadi di Indonesia. Concern kami terhadap isu inilah, yang membuat kami menyuarakannya lewat pementasan drama,” ujar Jessie Monika, saat ditemui Nyata di UK Petra, Sabtu lalu (23/2).

Baca juga: Ketika Pangeran Harry Tak Yakin Meghan Markle Mengandung Bayinya

Drama berbahasa Inggris ini, berkisah tentang rumah tangga yang sepintas baik-baik saja di mata masyarakat. Tapi di dalamnya, banyak terjadi tindak kekerasan.

Orang-orang di sekitarnya tidak begitu peduli dengan hal ini. Hingga akhirnya si korban sendiri, memberanikan diri untuk bersuara.

Drama berdurasi 105 menit ini, diangkat dari kisah seorang penyintas yang telah sembuh dari traumanya. Diceritakan, Nina Purwa, seorang pelukis yang sempat tinggal di Bali, terpaksa kembali ke kota asalnya karena ayahnya sakit.

Baca juga: Sah! Ini 3 Bukti Pernikahan Syahrini dan Reino Barack

Lalu ia bertemu dengan Ruben Tanadi, dari keluarga baik-baik dan kemudian mereka menikah. Masalah dimulai ketika Nina menemukan sisi gelap suaminya, saat berada di bawah pengaruh alkohol. Ruben menjadikan Nina sasaran kekerasan, hingga wajah dan tubuhnya lebam.

”Kekerasan tidak boleh didiamkan, jadi harus berani bersuara. Saya ingin ke depannya, jangan sampai hal seperti ini terjadi,” kata Agung Santoso, pemeran tokoh Ruben Tanadi.

Baca juga: Hadiri Pernikahan Syahrini, Maia Estianty Malah Nostalgia

Hal senada dilontarkan lawan mainnya, Emily Abigail yang berperan sebagai Nina Purwa. Emily menilai banyak korban KDRT yang merasa pasrah, mendapat perlakuan tidak manusiawi. Tidak berani bersuara dan tidak berani untuk mencari pertolongan.

”Kami ingin memberikan pesan dan awareness pada masyarakat tentang kekerasan. Wanita-wanita yang direpresentasikan oleh Nina, adalah kaum yang selama ini jarang didengar,” jelas Emily.

Untuk menyempurnakan cerita, pementasan drama musikal ini berkolaborasi dengan komposer asal surabaya, Cristian Xenophes.

”Drama ini melibatkan 25 orang termasuk 7 cast, dan digarap dengan 15 lagu dan musik pengiring. Harapan kami dengan drama berbahasa Inggris, orang asing pun bisa nonton. Jadi konten ini meskipun lokal, tapi digarap secara intenasional,” ucap Stefanny Irawan, sutradara sekaligus Managing Director.

Baca juga: Syahrini-Reino Resmi Menikah, Luna Maya Unggah Foto Masa Lalu

A Story of Wounds. Foto: Adi Wiratmo

A Story of Wounds besutan Stefanny Irawan ini, rencananya akan ditampilkan di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta bulan Maret ini. Sebelumnya, drama ini pernah dipentaskan pada November lalu. Naskahnya sama-sama mengangkat tema KDRT. Tapi kali ini, PLT dan ECI mengemas karyanya dengan sedikit berbeda.

”Pementasan drama kali ini untuk fundraising, sebelum membawa show ini ke Yogyakarta bulan Maret. Bersyukur 177 tiket reguler sold out dan juga ada 70 VIP,” kata Jessie. (gan/rez)