Perjuangan Meutya Hafid untuk Anak dan Perempuan

Foto: Dok. Pri. Meutya Hafid

Pada 30 Maret 2024 lalu, Ketua Komisi I DPR RI Meutya Hafid dengan bangganya menunjukkan identitasnya sebagai seorang ibu. Ia tak ragu membawa anak Lyora Shaqueena Ansyah (1,5 tahun) ketika menemui Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto.

Lyora tampak tenang di pangkuan Meutya Hafid ketika berdiskusi dengan Menhan. Seolah memahami bahwa ibunya adalah bukan hanya miliknya, tetapi milik negara yang dibutuhkan kontribusinya untuk kemajuan bangsa ini.

“Semasa hamil dan beberapa jam menjelang melahirkan, saya masih bekerja dan memimpin rapat bersama Menlu. Itu juga salah satu bentuk komitmen saya untuk menjaga secara seimbang antara keluarga dan pekerjaan, selain juga sekarang beberapa kali mengajak Lyora pada agenda-agenda di Komisi I, ketika Lyora sedang ingin bersama ibunya,” beber Meutya Hafid.

“Setelah punya anak, saya jadi tahu bahwa fasilitas untuk Ibu menyusui di DPR masih kurang, sehingga akhirnya kita buat ruang menyusui di DPR RI yang bisa digunakan oleh semua Ibu,” ujar ibu berusia 46 tahun ini lagi.

| Baca Juga: Andara Early untuk Perempuan: Jangan Gengsi Pakai Produk Lokal!

Tak hanya peduli kepada fasilitas ruang laktasi, mantan jurnalis ini juga tengah menyoroti tantangan pasangan di Indonesia yang bertarung melawan infertilitas.

Baru-baru ini ia merilis bukunya yang berjudul LYORA: Keajaiban yang Dinanti. Buku ini mengisahkan perjalanan pribadinya yang mengharukan ketika ia mengandung putrinya, Lyora, setelah 10 kali melakukan percobaan bayi tabung.

Dengan tulisan yang mendalam dan penuh makna, buku ini membangkitkan kepedulian dan memperjuangkan hak-hak perempuan dalam memperjuangkan kesehatan reproduksinya, bahwa infertilitas adalah suatu masalah kesehatan yang serius, dan setiap pasangan berhak mendapatkan dukungan dan akses terhadap perawatan yang diperlukan.

Meutya Hafid menjelaskan bahwa masalah fertilitas atau kesuburan hingga saat ini belum termasuk masalah kesehatan yang ditanggung atau dibantu oleh pemerintah.

| Baca Juga: 11 Fakta Unik Perempuan yang Mungkin Belum Kamu Ketahui

“Padahal infertilitas secara resmi telah diakui sebagai penyakit oleh WHO, dan kesehatan reproduksi merupakan hak setiap warga negara. Dengan demikian, sudah seharusnya negara hadir untuk mendukung pengobatan infertilitas,” kata Meutya Hafid.

Meutya Hafid berharap bukunya itu tak hanya mengubah stigma dan sikap negatif yang masih sering terkait dengan masalah infertilitas. Ia ingin mendorong perubahan sosial yang lebih luas dalam pemahaman dan dukungan terhadap pasangan yang sulit mendapatkan keturunan.

Ketika seorang perempuan seperti Meutya Hafid memilih jalur ini menjadi ibu yang juga bekerja dan produktif untuk bangsanya, sering kali waktu yang dapat dialokasikan untuk anak dan keluarga menjadi terbatas.

Meutya Hafid telah cukup membuktikan bahwa manajemen waktu yang baik dan penempatan prioritas yang benar bisa membantu perempuan menunaikan haknya dan mengatasi tantangan ini. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here