Waspadai Gejala Demam Berdarah Dengue Pada Anak-Anak

Foto: Dok. Andrea Piacquadio/Pexels

Penyakit demam berdarah masih menjadi masalah kesehatan yang perlu diwaspadai di Indonesia. Tidak pandang bulu, penyakit ini dapat mengintai semua kalangan, tua muda dan dari berbagai strata sosial ekonomi. Meski ditemukan 50 tahun silam di Indonesia, demam berdarah masih menjadi penyakit yang menebar teror, mengancam nyawa jika terlambat ditangani.

Laporan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menyebut pada 2022 jumlah kumulatif kasus demam berdarah mencapai 142.294 kasus dengan angka kematian sebanyak 1.117. Angka tersebut hampir dua kali lipat dibandingkan dengan jumlah kasus pada tahun sebelumnya (2021) sebanyak 73.518 dengan 705 kematian.

Guna mencegah tertular penyakit demam berdarah, Ketua Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Prof. Dr. dr. Hartono Gunardi, Sp.A(K) menyarankan pemberian vaksin demam berdarah bagi anak-anak dan dewasa. “Tujuannya untuk mengurangi risiko terkena demam berdarah, mengurangi risiko rawat inap, serta kemungkinan demam berdarah berat,” ujar Guru Besar FKUI itu dalam temu media yang digelar Takeda di Jakarta, Minggu (5/2/2023).

Bukan hanya anak-anak, orang dewasa juga berpeluang terkena demam berdarah dengan gejala serupa. Gejala demam berdarah bisa berupa sakit kepala disertai demam, mual muntah, nyeri perut, nyeri belakang mata, nyeri pada otot dan sendi.

“Pada kasus demam berdarah yang berat dapat mengakibatkan komplikasi yang fatal akibat kebocoran plasma, akumulasi cairan, gangguan pernapasan, perdarahan berat dan gangguan organ yang dapat mengancam jiwa. Karenanya, jangan terlambat memberikan pertolongan dengan membawanya ke rumah sakit,” saran Hartono.

Demam berdarah membutuhkan penanganan cepat, khususnya pada anak-anak yang kurang bisa mengungkapkan gejala yang dialaminya. Dalam hal ini, orang tua perlu waspada jika anak menunjukkan panas naik turun tanpa disertai gejala batuk pilek.

“Kadang panasnya tidak tinggi, atau pengukuran termometernya keliru. Namun jika anak menunjukkan gejala tidak aktif tanpa sebab yang jelas, sebaiknya segera dibawa ke fasilitas kesehatan,” ujar Hartono.

Dia menemukan kasus anak terkena demam berdarah tidak tertolong karena terlambat ditangani dengan benar. “Anak yang terkena demam berdarah bisa mengalami dengue shock syndrome, umumnya di hari ke 4-5 sejak hari pertama sakit. Ini bisa mengancam nyawa,” tuturnya.

Dengue shock syndrome (DSS) merupakan suatu infeksi dengue yang ditandai dengan gangguan sirkulasi. Sejumlah literatur medis menunjukkan, proses terjadinya dengue shock syndrome. Demam pada demam berdarah dengue (DBD) umumnya terjadi selama 2 sampai 7 hari dan menurun setelahnya. Yang perlu diwaspadai, komplikasi biasanya terjadi pada fase ini.

“Jika demam pada demam berdarah turun, itu adalah fase kritis terjadinya dengue shock syndrome. Bila tidak segera ditangani, maka komplikasi ini akan mengakibatkan syok yang berisiko kematian,” jelas Hartono.

|Baca Juga: Protein Hewani dan Nabati, Manakah yang Lebih Baik Untuk Penuhi Kebutuhan Gizi?

DBD ditandai dengan demam tinggi hari 1-3, demam mendadak tinggi dan disertai sakit kepala hebat, sakit di belakang mata, badan terasa ngilu dan nyeri kadang disertai bercak merah pada kulit. “Fase kritis hari ke 4 -5, fase demam turun drastis, seolah terjadi kesembuhan. Namun inilah fase kritis kemungkinan terjadinya dengue shock syndrome,” tutur Hartono.

Dia menambahkan temuan utama yang menunjukkan demam berdarah dengue menuju dengue shock syndrome ditandai dengan meningkatnya hematokrit, serta penurunan trombosit. Kondisi ini akan memicu kebocoran plasma yang memicu syok yang berujung pada dengue shock syndrome, yang ditandai antara lain penurunan tekanan darah, napas tidak teratur, mulut kering, denyut nadi lemah, jumlah urin menurun, serta kulit basah dan terasa dingin.

Hartono mengungkapkan, tingkat keparahan anak saat terkena demam berdarah dengue (DBD) berbeda-beda, tergantung daya tahan tubuh si anak. Pada anak-anak dengan obesitas, apabila terkena DBD bisa mengalami gejala yang lebih berat.

“Tingkat keparahannya ini tergantung daya tahan tubuhnya. Kalau dia obesitas, anak yang gemuk, cepat sekali dari gejala ringan ke berat. Di sini sistem imunologi yang berperan,” kata Hartono.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here