Panas Ekstrem di Asia Tenggara, 30 Warga Thailand Meninggal

Seseorang terpaksa harus melindungi tubuh dari cuaca panas ekstrem. Foto : LILLIAN SUWANRUMPHA / AFP
Seseorang terpaksa harus melindungi tubuh dari cuaca panas ekstrem. Foto : LILLIAN SUWANRUMPHA / AFP

Kawasan Asia Tenggara tengah mengalami gelombang panas ekstrem. Tercatat suhu menembus rekor tertinggi di beberapa wilayah negara. Filipina misalnya. Saking panasnya, pemerintahnya terpaksa memberlakukan penutupan sekolah.

Panas ekstrem di Filipina memicu peringatan darurat kesehatan sehingga mengganggu aktivitas belajar mengajar. Dikutip dari Al Jazeera, jutaan siswa diminta tinggal di rumah setelah pemerintah memutuskan untuk membatalkan kelas tatap muka selama dua hari.

Lebih dari 47 ribu sekolah negeri telah beralih ke pembelajaran daring untuk menjaga keselamatan siswa. Masyarakat juga disarankan untuk menghindari aktivitas di luar ruangan.

Di samping itu, minum banyak air menjadi penting, terutama bagi generasi muda dan orang tua. Cuaca panas juga menimbulkan kekhawatiran akan kekurangan air, pemadaman listrik, dan kerusakan tanaman.

| Baca Juga: Madinah Dilanda Banjir, Sekolah Terpaksa Ditutup

Disebutkan, suhu panas melonjak hingga 38,8 derajat celsius di Ibu Kota Filipina, Manila. Ini menjadi rekor tertinggi beberapa dekade lalu.

Diperkirakan, indeks panas akan mencapai 45 derajat celsius. Hal ini dianggap kondisi yang berbahaya dan bisa memicu panas ekstrem berkepanjangan.

Sementara di Kamboja, sebagian besar wilayah suhu diperkirakan mencapai 43 derajat celsius pada minggu ini. Suhu panas tertinggi dalam 170 tahun terakhir.

Selanjutnya Myanmar, tujuh kota kecil mengalami suhu tinggi yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Thailand dan Vietnam juga mengalami hal yang sama. Cuaca panas ekstrem antara Januari dan April 2024 menyebabkan 30 orang meninggal di Thailand. Hal itu disampaikan Kementerian Kesehatan Thailand pada Rabu (25/4).

| Baca Juga: Gunung Ruang Meletus, 12 Ribu Orang Dievakuasi

Sedangkan, sepanjang 2023, tercatat 37 orang meninggal akibat fenomena serupa.
Sementara itu, Vietnam menghadapi risiko kebakaran hutan, dehidrasi, dan sengatan panas. Konsumsi listrik di sana telah mencapai rekor tertinggi dalam beberapa hari terakhir.

Para ilmuwan memperingatkan, jumlah kematian terkait panas dapat meningkat secara signifikan seiring dengan kenaikan suhu global.

Meski demikian, tren kematian terkait panas di Asia Tenggara masih belum jelas. Hal itu lantaran perbedaan dalam klasifikasi kematian yang terkait dengan cuaca panas. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here