Duduki Peringkat 5 Nasional, Jawa Timur Siaga Penyakit DBD

0
37
nyamuk-aedes-aegypti
Foto: Alodokter

Dibandingkan Januari 2018, jumlah kasus demam berdarah (DBD) di Jawa Timur pada awal tahun ini, mengalami peningkatan. Saat ini penderitanya sudah mencapai 2.660 orang. Selama jangka waktu 1-28 Januari 2019, ada 46 orang dinyatakan meninggal dunia.

Data itu sekaligus menempatkan Jatim sebagai peringkat ke-5 di Indonesia, dalam kasus demam berdarah terbanyak. Meski begitu, Dinas Kesehatan Jatim belum memberlakukan status Kejadian Luar Biasa (KLB).

Baca juga: Kemenpar Punya Jurus Jitu untuk Promosikan Indonesia pada Dunia

Kepala Dinkes Jatim, Dr. Kohar Hari Santoso, dr., SpAn mengatakan, alasan pihaknya tidak mengubah status KLB, karena memang penularan demam berdarah tidak merata di setiap kabupaten atau kota. Pihaknya cenderung fokus ke daerah yang peningkatannya signifikan.

“Kami tetap memantau secara khusus (daerah yang peningkatannya signifikan),” kata Kohar saat ditemui di kantornya, Selasa (28/1) kemarin.

demam-berdarah
Foto: Bayu Basu Seno/Nyata

Baca juga: Generasi Milenial Diajak #BicaraUang? Siapa Takut!

Adapun kabupaten atau kota di Jatim yang mengalami peningkatan dan menjadi paling banyak untuk kasus DBD, yaitu kabupaten Kediri. Rinciannya, ada 271 kasus, di mana 12 di antaranya meninggal dunia.

Disusul Tulungagung dengan total 249 kasus. Sebanyak tiga orang dinyatakan meninggal dunia. Bojonegoro menyusul dengan 177 kasus, empat diantaranya meninggal dunia.

“Setelah dipantau dalam kurun waktu lima hari terakhir, kecenderungannya sudah mulai turun. Yang terbaru, Ponorogo tertinggi,” ungkap Kohar.

Baca juga: Hunting 5 Tempat yang Instagrammable di Singapura

Menurut Kohar, meningkatnya jumlah kasus DBD di Jatim, disebabkan oleh beberapa faktor. Seperti musim, lingkungan dan kondisi masyarakat.

Bagi Kohar, meski Jatim menduduki peringkat ke-5 secara nasional, pihaknya menghimbau kepada masyarakat agar tidak khawatir.

“Peringkat berapapun, yang penting bagaimana kita bertindak dalam penanganan, dengan menghadirkan gerakan agar masyarakat tidak sakit. Seperti upaya pencegahan dan memberi pemahaman masyarakat agar tidak ketularan,” bebernya.

Selain itu, pihaknya menghimbau kepada puskesmas dan rumah sakit yang ada di daerah, untuk lebih cermat dalam penanganan pasien DBD. (*)