Clown Show jadi Sarana Edukasi Anak yang Menyenangkan

0
clown-show-uk-petra-3
Foto: Hafidz Wahyu/Nyata

Apa sih yang ada dalam pikiran kalian ketika mendengar kata badut? Riasan wajah putih dengan hidung bulat merah seperti tomat, ditambah aksi-aksi yang lucu. Deskripsi tersebut jadi penggambaran yang tepat, untuk sosok badut. Tapi tahu gak sih, kalau aksi yang mereka tampilkan bukan sekedar hiburan.

Ya, aksi-aksi lucu mereka nyatanya bisa jadi media pembelajaran. Terlebih, anak-anak zaman sekarang terlalu suka bermain gadget, hingga kurang banyak bersosialisasi dengan sesama.

“Anak-anak kan sekarang kalau diperhatikan biasa main gadget. Tapi ketika mereka menonton pertunjukan ini, mereka semua bisa tertawa lepas. Dan langsung mengomunikasikan apa yang lucu dengan teman-teman di sekitarnya,” kata Meilinda, Kepala Bidang Program English for Creative Industri (ECI) Universitas Kristen Petra Surabaya.

clown-show-uk-petra-4
Aksi Edmund Khong dengan masuk ke dalam balon. Foto: Hafidz Wahyu/Nyata

Baca juga: Melihat Resort Tepi Laut Tempat Maia Estianty Bulan Madu

Inilah yang jadi latar belakang digelarnya Clown Show & Big Giant Balloon Show Charity Night, Kamis (24/1) malam. Acara ini adalah kerjasama Program ECI UK Petra, alumni Sastra Inggris dan Teknik Sipil, yang menggawangi Indonesia Clown Alley.

clown show uk petra
Foto: Hafidz Wahyu/Nyata

Sebanyak 35 badut dari sejumlah daerah di Indonesia, ikut berpartisipasi dalam acara ini. Mulai dari Surabaya, Bandung, Tasikmalaya hingga Jakarta.

clown-show-uk-petra-4
Deaw bersama seorang penonton sedang beraksi. Foto: Hafidz Wahyu/Nyata

Pertunjukan ini juga melibatkan tiga orang badut dari luar negeri, seperti Edmund Khong dari Singapura, Deaw dari Thailand dan Uncle Button (Sam Tee) dari Malaysia. Ketiga badut tersebut berlomba-lomba menampilkan aksi kerennya.

Baca juga: Video Ariel Noah dan Pevita Pearce Bikin Heboh Publik

Selain itu, mereka juga menggelar malam amal untuk membantu anak-anak berkebutuhan khusus (ABK). Pendapatan dari penjualan tiket akan digunakan untuk menghadirkan kelompok ABK, anak panti asuhan atau kelompok belajar marginal, supaya mereka bisa menikmati hiburan bertaraf internasional.

“Jadi mereka membeli tiket (agar) bisa mendatangkan teman-teman yang tidak bisa membeli tiket,” jelas Meilinda. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here